Rusia Turun Gunung Bantu Iran, Balas Dendam ke AS Lewat Drone dan Satelit - KOMPAS
Turun Gunung Bantu Iran, Balas Dendam ke AS Lewat Drone dan Satelit

Penulis
MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia dilaporkan terus memperluas kerja sama intelijen dan militer dengan Iran di tengah kecamuk perang dan konflik di Timur Tengah.
Langkah ini mencakup penyediaan citra satelit dan peningkatan teknologi drone untuk membantu Teheran membidik pasukan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
Konflik Timur Tengah pecah usai AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Teheran melakukan serangan balasan dan menutup Selat Hormuz.
Langkah Moskwa ini dinilai sebagai upaya untuk menjaga mitra terdekatnya di Timur Tengah tersebut tetap bertahan dalam konfrontasi melawan kekuatan militer AS dan Israel.
Dilansir dari Wall Street Journal, Selasa (17/3/2026), bantuan teknologi yang diberikan Rusia mencakup komponen drone Shahed yang telah dimodifikasi.
Komponen ini bertujuan untuk meningkatkan sistem komunikasi, navigasi, dan akurasi target.
Tak hanya perangkat keras, Rusia juga membagikan pengalaman tempurnya dari medan perang di Ukraina.
Moskwa memberikan panduan taktis mengenai jumlah drone yang harus dikerahkan dalam satu operasi serta ketinggian serangan yang optimal.
Baca juga: Iran Konfirmasi Kepala Dewan Keamanan Ali Larijani Meninggal Diserang Israel
Seorang perwira intelijen senior Eropa dan seorang diplomat Timur Tengah menyebutkan, kerja sama ini semakin dalam pada awal peperangan, di mana Rusia memberikan citra satelit secara langsung kepada Iran.
Data ini berasal dari armada satelit yang dikelola oleh Pasukan Dirgantara Rusia (VKS).
Jim Lamson, peneliti di King’s College London dan mantan analis CIA yang spesialis dalam militer Iran, menjelaskan nilai strategis dari data tersebut.
"Jika ada detail dalam gambar-gambar yang disediakan Rusia, misalnya jenis pesawat tertentu, lokasi amunisi, aset pertahanan udara, dan pergerakan angkatan laut yang memiliki nilai intelijen bagi Iran, itu akan sangat membantu mereka," ujar Lamson.
Baca juga: Drone Lambat AS Jadi Momok Iran Jelang Pensiun, Gempur Ratusan Target
Mirip taktik perang Ukraina
Bantuan dari Rusia ini diduga telah membantu Iran dalam melancarkan serangan terhadap sistem radar AS di kawasan tersebut, termasuk radar peringatan dini untuk sistem Terminal High Altitude Area Defense (Thaad) di Yordania, serta target lainnya di Bahrain, Kuwait, dan Oman.
Para analis mengamati bahwa serangan Iran saat ini memiliki pola yang sangat mirip dengan taktik Rusia di Ukraina, yaitu menggunakan drone untuk melumpuhkan radar sebelum meluncurkan serangan rudal.
"Target Iran di Teluk lebih terfokus pada radar serta komando dan kendali," kata Nicole Grajewski, profesor di Sciences Po, Paris, Perancis.
"Paket serangan Iran mulai sangat menyerupai apa yang dilakukan Rusia," sambungnya.
Di sisi lain, pihak Gedung Putih meremehkan dampak bantuan Rusia tersebut terhadap efektivitas militer AS.
Baca juga: Israel Klaim Komandan Pasukan Basij Iran, Gholamreza Soleimani Tewas
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan bahwa kekuatan militer AS tetap dominan.
"Tidak ada yang diberikan ke Iran oleh negara lain yang memengaruhi keberhasilan operasional kami," papar Wales.
Dia menambahkan bahwa serangan militer AS telah menghancurkan banyak aset Iran, yang mengakibatkan penurunan drastis serangan rudal dan drone dari pihak lawan.
Utusan khusus AS Steve Witkoff menyatakan bahwa Rusia membantah telah memberikan intelijen kepada Iran.
Namun, Presiden AS Donald Trump meyakini bahwa Moskwa mungkin membantu Iran "sedikit".
Baca juga: Israel Klaim Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani Tewas dalam Serangan IDF
Hubungan kian erat

Meski tidak memiliki aliansi militer formal, hubungan Rusia dan Iran mencapai titik terdalam sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Awalnya, Iran memasok ribuan drone Shahed ke Rusia untuk digunakan di Ukraina.
Kini, Rusia telah memproduksi drone tersebut di dalam negeri dan membagikan inovasi teknologinya kembali ke Iran.
Selain keuntungan taktis, perang di Timur Tengah juga menguntungkan Rusia secara ekonomi.
Penutupan Selat Hormuz juga telah memicu kenaikan harga minyak, yang merupakan sumber pendapatan utama ekonomi Rusia.
Samuel Charap, pakar kebijakan Rusia di Rand Corporation, menilai bahwa meskipun Putin memiliki hubungan dengan Trump, Kremlin tetap melihat Washington sebagai lawan strategis.
"Ini adalah kesempatan untuk memberi kita 'rasa dari obat kita sendiri' dalam hal apa yang diberikan AS kepada Ukraina melalui dukungan intelijen," ucap Charap.
Baca juga: Mulai Ketar-ketir, Negara Teluk Kini Desak AS Ratakan Pertahanan Iran
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang