0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Suara Amerika Serikat Terbelah Usai Serangan ke Iran, Mayoritas Warga Gerah dengan Kelakuan Trump - Tribunnews

    10 min read

     

    Suara Amerika Serikat Terbelah Usai Serangan ke Iran, Mayoritas Warga Gerah dengan Kelakuan Trump

    Berdasarkan survei yang melibatkan 1.282 orang dewasa di seluruh penjuru AS, hanya sebagian kecil warga yang mendukung



    Ringkasan Berita:
    • Survei Reuters/Ipsos menunjukkan 43 persen warga AS menolak serangan militer ke Iran.
    • 56 persen responden menilai Donald Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer.
    • Washington terbelah: Partai Republik mendukung, Demokrat mengecam keras.

    TRIBUNJATIM.COM - Sebagian besar warga Amerika Serikat menyatakan ketidaksetujuan terhadap serangan militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

    Meski Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai kemenangan besar melawan “kejahatan”, hasil survei terbaru menunjukkan dukungan publik relatif rendah.

    Hasil Survei Reuters/Ipsos

    Jejak pendapat yang dirilis Reuters bersama Ipsos pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat mengungkap kekhawatiran publik terhadap kecenderungan Trump menggunakan kekuatan militer.

    Berdasarkan survei yang melibatkan 1.282 orang dewasa di seluruh penjuru AS, hanya sebagian kecil warga yang mendukung operasi gabungan AS-Israel tersebut. 

    Baca juga: 3 Dampak Penutupan Selat Hormuz Bagi Ekonomi Indonesia Imbas Perang Iran, BBM Siap-siap Naik

    Kategori Respons serangan AS terhadap Iran:

    Setuju: 27 persen

    Tidak Setuju: 43 persen

    Ragu-ragu atau tidak yakin:: 29 persen

    Data tersebut menegaskan bahwa meski 90 persen responden telah mendengar berita mengenai serangan yang menewaskan Khamenei, namun dukungan publik tetap rendah.

    Lebih jauh lagi, sekitar 56 persen warga AS berpandangan bahwa Presiden Trump terlalu "ringan tangan" atau terlalu bersedia menggunakan kekuatan militer demi memajukan kepentingan AS di luar negeri.

    Sentimen ini tidak hanya datang dari kubu lawan politik, tapi juga mulai merambah ke internal partai  Republik yang mengusung Trump:

    Partai Demokrat: 87 persen menganggap Trump terlalu agresif

    Independen: 60 persen memegang pandangan serupa

    Partai Republik: 23 persen (hampir satu dari empat) mulai meragukan kebijakan militer Trump

    Suara Washington terbelah

    Reaksi keras juga datang dari Capitol Hill atau gedung parlemen AS di Washington. 

    Para politisi Republik memberikan dukungan penuh atas keputusan Trump. Sementara Demokrat melontarkan kritik pedas mengenai legalitas dan strategi jangka panjang.

    Ketua DPR AS Mike Johnson menyatakan bahwa Iran kini menanggung konsekuensi berat atas tindakan jahat mereka. 

    Baca juga: 4 Negara yang Dukung Serangan Israel-Amerika Serikat ke Iran

    Pemimpin Mayoritas Senat John Thune juga memuji langkah Trump. 

    "Saya mengapresiasi Presiden Trump yang mengambil tindakan untuk menggagalkan ancaman nuklir dan terorisme Iran yang selama ini menolak jalur diplomasi," ujar Thune.

    Sebaliknya, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries menyesalkan kegagalan Trump untuk meminta otorisasi dari Kongres sebelum meluncurkan serangan masif.

    "Keputusan presiden meninggalkan diplomasi telah membuat pasukan AS rentan terhadap aksi balas dendam," katanya.

    Senator senior Chuck Schumer bahkan menyebut tindakan Trump sebagai siklus kemarahan yang tidak memiliki strategi jelas.

    Sementara itu, kelompok progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) melabeli serangan ini sebagai tindakan inkonstitusional.

    "Perang Trump–Netanyahu ini melanggar hukum internasional dan membahayakan nyawa pasukan kita. Kongres harus segera meloloskan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution)," tegas Bernie Sanders.

    Sejumlah Negaran Kecam Amerika Serikat dan Israel 

    lembaga dan negara yang mengecam serangan Israel dan AS terhadap Iran.

    1. Iran

    Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam serangan gabungan AS dan Israel sebagai tindakan yang sama sekali tidak beralasan, ilegal, dan tidak sah.

    Dalam sebuah unggahan di akun media sosial X miliknya, ia mengatakan, tindakan AS dianggap lebih mengutamakan kepentingan Israel, alih-alih kepentingan AS sendiri sebagaimana slogan 'America First'.

    "Netanyahu dan perang Trump terhadap Iran sepenuhnya tidak diprovokasi, ilegal, dan tidak sah. Trump telah mengubah ‘America First’ menjadi ‘Israel First’ yang selalu berarti ‘America Last’. Pasukan Bersenjata kami yang kuat siap untuk hari ini dan akan mengajarkan kepada para agresor pelajaran yang pantas mereka terima," tulis Araghchi, Sabtu (28/2/2026). 

    2. Rusia

    Rusia sebagai sekutu Iran, mengutuk serangan tersebut dan mengatakan tindakan tersebut menyebabkan eskalasi dan berpotensi meluas. 

    "Agresi yang dialami Iran hari ini telah mengakibatkan eskalasi di kawasan itu dan dapat meluas jauh melampaui perbatasannya," kata Duta Besar Rusia, Vasily Nebenzia, dilansir dari BBC, Minggu (1/3/2026). 

    Sebelumnya, Moskow menyerukan kepada komunitas internasional dan menilai tindakan tersebut tidak bertanggung jawab dan bertujuan untuk merusak perdamaian, stabilitas, dan keamanan di Timur Tengah.

    3. China

    Kementerian Luar Negeri China menyatakan keprihatinan atas serangan AS-Israel terhadap Iran dan menyerukan gencatan senjata segera,

    Ia juga mendesak semua pihak untuk menghindari eskalasi dan melanjutkan dialog serta negosiasi.

    Dilansir dari Reuters, dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, kementerian tersebut mengatakan bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati.

    Sementara itu, kantor berita Xinhua milik pemerintah China mengkritik serangan tersebut menyebutnya sebagai agresi kurang ajar terhadap negara berdaulat.

    Xinhua mengatakan bahwa penggunaan paksaan militer oleh Washington merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB dan penyimpangan dari norma-norma dasar.

    4. Oman

    Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, pada Jumat (27/2/2026) menyampaikan optimisme bahwa perdamaian sudah dalam jangkauan saat Iran telah menyetujui untuk tidak pernah menimbun dan memperkaya uranium.

    Dilansir dari Al Jazeera, Albusaidi menggambarkan perkembangan tersebut sebagai terobosan besar. 

    Namun beberapa jam kemudian, Israel dan AS menyerang yang membuat perundingan tersebut benar-benar telah berakhir.

    Albusaidi menyatakan kekecewaan atas pecahnya kekerasan dan mendesak Washington untuk tidak semakin terseret lebih jauh ke dalam konflik tersebut.

    "Saya merasa kecewa. Negosiasi yang aktif dan serius sekali lagi telah dirusak. Baik kepentingan Amerika Serikat maupun tujuan perdamaian dunia tidak dilayani dengan baik oleh hal ini. Dan saya berdoa untuk para korban tak bersalah yang akan menderita. Saya mendesak Amerika Serikat agar tidak semakin terseret lebih jauh. Ini bukan perang Anda," tulis Badr Albusaidi dalam unggahan X-nya, Sabtu (28/2/2026). 

    5. Pakistan

    Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, pada Sabtu mengutuk serangan Israel-AS terhadap Iran dan mengatakan serangan tersebut tidak beralasan.

    Ia menyerukan penghentian segera konflik tersebut.

    Dar menyampaikan pernyataan tersebut selama percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, yang menghubungi pemimpin Pakistan itu setelah serangan terhadap Iran.

    "Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Senator Mohammad Ishaq Dar menerima telepon dari Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi. Mereka meninjau situasi yang berkembang di Iran dan kawasan yang lebih luas. Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri mengutuk keras serangan yang tidak beralasan terhadap Iran dan menyerukan penghentian segera eskalasi melalui dimulainya kembali diplomasi secara mendesak untuk mencapai resolusi damai dan melalui negosiasi atas krisis tersebut," kata Kementerian Luar Negeri Pakistan melalui unggahan X, dilansir dari Times of India, Sabtu.

    6. Brasil

    Pemerintah Brasil mengutuk serangan AS dan Israel dan menyatakan keprihatinan yang mendalam kepada Iran atas peristiwa tersebut.

    "Serangan-serangan itu terjadi di tengah proses negosiasi antara pihak-pihak terkait, yang merupakan satu-satunya jalan yang layak menuju perdamaian, sebuah posisi yang secara tradisional dipertahankan oleh Brasil di kawasan tersebut," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Reuters, Minggu.

    Pemerintah Brasil juga mengimbau agar semua pihak menghormati hukum internasional dan menahan diri secara maksimal guna menghindari peningkatan permusuhan dan melindungi warga sipil.

     

    Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com


    Komentar
    Additional JS