0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Tok! Iran Menang Perang Lawan AS-Israel di Timur Tengah, Ini Buktinya - %CNBC Indonesia

    4 min read

      

    Tok! Iran Menang Perang Lawan AS-Israel di Timur Tengah, Ini Buktinya

    Jakarta, CNBC Indonesia - Iran disebut laman Amerika Serikat (AS), Newsweek, memenangkan sejauh ini perang yang terjadi dengan Washington dan Israel. Hal ini terlihat dari perkembangan terbaru yang terjadi, Selasa.

    AS tampak kewalahan dalam perang dan harus memindahkan salah satu sistem pertahanan udara anti-rudal balistiknya yang penting dari Korea Selatan (Korsel) ke Timur Tengah. Ini menjadi sebuah tanda tekanan yang ditimbulkan oleh 11 hari serangan di seluruh wilayah tersebut terhadap pasukan AS dan sekutunya, meskipun para pejabat meremehkan kekhawatiran tentang persediaan senjata.


    "Pasukan AS yang ditempatkan di Korsel telah memindahkan sebagian dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari semenanjung tersebut," menurut laporan media lokal dimuat Newsweek, Rabu (11/3/2026).

    Bukan hanya itu, laman yang sama juga mengatakan Pentagon telah menarik rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang berbasis di darat dari wilayah lain. Ini termasuk di Indo-Pasifik.



    Perlu diketahui perang di Arab pecah 28 Februari setelah AS-Israel menyerang Teheran dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ini kemuda membuat Iran menyerang balas dengan membombardir Tel Aviv dan Yerusalem, menyerang pangkalan militer AS di negara-negara Arab, menutup Selat Hormuz yang penting bagi pelayaran minyak global serta menyerang fasilitas-fasilitas energi di Timur Tengah.

    Sebenarnya AS telah menggunakan sejumlah besar amunisi sejak perang dimulai. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan pasukan Amerika melancarkan serangan terkuat mereka hingga saat ini.

    Namun serangan balasan Iran, memberikan tekanan pada persediaan rudal pencegat yang mahal dan semakin langka untuk sistem pertahanan udara canggih seperti THAAD dan Patriot. Banyak negara Teluk yang menanggung beban serangan drone dan rudal Iran menggunakan sistem dan rudal rancangan AS.

    Empat Radar THAAD Dibom Iran

    Militer Iran sendiri telah mengklaim telah berhasil menyerang setidaknya empat radar THAAD di berbagai pangkalan di Timur Tengah. Termasuk Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

    "Hal ini, membuat AS berupaya mengganti radar THAAD yang rusak akibat serangan drone di Yordania," kata seorang pejabat AS anonim kepada The Wall Street Journal.

    Sistem THAAD merupakan pilihan yang sangat populer untuk mencegat rudal balistik Iran, karena sistem ini menghantam rudal yang datang dengan kecepatan tinggi selama tahap terakhir penerbangan rudal. Setiap baterai terdiri dari beberapa bagian, termasuk radar yang kuat yang mendeteksi dan melacak ancaman.

    Sekutu Kecewa

    Sementara itu, Presiden Korsel Lee Jae Myung mengatakan Seoul telah "menyatakan penentangan" terhadap pemindahan pertahanan udara pasukan AS dari semenanjung yang terbagi. Korsel khawatir ini akan membuat tetangganya Korea Utara (Korut) semakin agresif.

    "Namun, tergantung pada bagaimana situasi berkembang, USFK (Pasukan AS di Korea) mungkin akan mengirimkan beberapa sistem pertahanan udara ke luar negeri sesuai dengan kebutuhan militernya sendiri," kata Lee dalam komentar yang dilaporkan oleh media domestik pada hari Selasa.

    Lee tidak secara langsung mengkonfirmasi bahwa sebagian dari baterai THAAD telah dipindahkan dari Korea Selatan. Ia hanya mengatakan pertahanan Seoul terhadap Korut masih kuat.

    "Meskipun kami telah menyatakan penentangan, kenyataannya adalah kami tidak dapat sepenuhnya memaksakan posisi kami," kata Lee, menurut Kantor Berita Yonhap.

    AS memiliki hampir 30.000 tentara yang ditempatkan di Korsel sekutu non-NATO. Seoul sangat bergantung pada militer AS yang besar untuk mendukung angkatan bersenjatanya sendiri, jika Pyongyang menyerang melintasi perbatasan.

    Korsel dan Korut secara teknis masih dalam keadaan perang, setelah perjanjian gencatan senjata mengakhiri Perang Korea selama tiga tahun pada tahun 1953. Pemerintah Lee berharap dapat mengurangi ketegangan tapi aspirasinya tampaknya telah ditolak oleh pemimpin Korut Kim Jong Un.


    (sef/sef)

    Komentar
    Additional JS