Turki Ingatkan AS-Israel tidak Provokasi Perang Saudara di Iran - Republika
Turki Ingatkan AS-Israel tidak Provokasi Perang Saudara di Iran
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Turki mengingatkan Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel untuk tak memperburuk agresi militer ke Republik Islam Iran dengan upaya menciptakan perang saudara di negara itu. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan menegaskan segala upaya untuk menumbangkan pemerintahan Para Mullah di Teheran melalui provokasi perang saudara kesukuan maupun agama, bakal membuat Timur Tengah (Timteng) semakin terbakar.
Fidan mengatakan, Turki akan melakukan segala cara untuk menghalangi segala bentuk provokasi dan rencana dari eksternal dalam membuat situasi di Iran menjadi perang saudara kesukuan, ataupun berbasis keyakinan. “Kami sepenuhnya menentang rencana apapun untuk memprovokasi perang saudara di Iran,” begitu kata Fidan seperti dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (12/3/2026).
Fidan menyampaikan pernyataan tegas tersebut saat melangsungkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul di Ankara, Kamis (13/3/2026). Kedua Menlu itu membahas banyak hal, termasuk mencari solusi penghentian perang antara AS-Zionis dengan Iran yang sudah berlangsung selama 13 hari.
Fidan menyampaikan pesan dari Presiden Erdogan agar komonitas internasional mengambil berbagai peran diplomatik untuk menyetop peperangan tersebut. Turki, kata Fidan, sejak awal menilai serangan yang dilakukan Zionis-AS terhadap Iran sebagai aksi pelanggaran hukum internasional yang nyata.
Namun, Turki juga menyesalkan aksi pembalasan yang dilakukan militer Iran yang berdampak langsung ke wilayah negara-negara di Teluk Arab. “Tindakan provokasi perang, dan serangan terhadap Iran ini tidak adil dan melanggar hukum. Tetapi serangan Iran terhadap negara-negara Teluk (Arab), juga sama salahnya,” ujar Fidan.
Halaman 2 / 3
Turki berkali-kali mendesak AS-Israel, pun Iran menyetop peperangan, dan berunding untuk perdamaian. Tetapi, kata Fidan, muncul sejumlah skenario atas ambisi AS-Zionis yang belum berhasil dalam menumbangkan pemerintahan di Teheran. Di antaranya, pemanfaatan sentimen kesukuan, maupun pemahaman agama sebagai alat untuk memunculkan pemberontakan sipil atas pemerintahan di Teheran.
“Kami sepenuhnya akan sangat menentang rencana dari siapapun yang bertujuan untuk memprovokasi perang saudara di Iran dan memicu konflik etnis atau agama untuk mencapai tujuan,” ujar Fidan.
“Tidak boleh ada masalah apapun dalam integritas teritorial Iran, dan tujuan seperti perubahan rezim melalui cara-cara provokasi etnis dan agama tidak boleh dilakukan. Kawasan ini, harus kembali normal dengan segera,” sambung Fidan.
Perang Zionis-AS dengan Iran sudah memasuki hari ke-13 pada Kamis (12/3/2026). Serangan AS-Zionis yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) hingga kini sudah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yang syahid bersama isteri, anak, menantu, dan cucunya pada serangan Zionis-AS pertama.
Serangan AS-Zionis juga menewaskan 160 anak sekolah perempuan. Sementara, korban luka-luka tercatat sudah mencapai 10 ribu orang.
Iran yang sejak awal mendapatkan serangan itu bertahan, namun tetap melakukan perlawanan balasan dengan menyerang wilayah-wilayah penjajahan Zionis Israel di Palestina. Militer Iran juga menyerang pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Teluk Arab, seperti di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirate Arab, Arab Saudi, Yordania, di Irak. Peperangan semakin meluas setelah faksi bersenjata Hizbullah di Lebanon ikut membantu Iran menyerang Israel. Dan penjajah Zionis juga turut membombardir Lebanon sampai ke pusat ibu kota di Beirut.
Halaman 3 / 3
Hingga hari ke-13 peperangan itu, Zionis-AS belum melakukan pengerahan pasukan darat untuk masuk ke Iran. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa kali kesempatan memang menyampaikan tak akan mengerahkan pasukan daratnya untuk masuk ke wilayah dan melanjutkan peperangan dengan Iran. Padahal sebelum hari pertama peperangan, AS sudah memobilisasi prajurit-prajurit tempurnya sebanyak 50 ribu personel ke kawasan Timur Tengah. Israel pun belum melakukan serangan darat masuk ke Iran, meskipun militer zionis masuk ke wilayah Lebanon dengan melakukan kontak tembak degan Hizbullah.
Akan tetapi, belakangan sempat muncul skenario dari AS yang mengerahkan Badan Intelijen Luar Negeri (CIA) untuk melobi kelompok bersenjata Suku Kurdi untuk masuk ke wilayah Iran melakukan serangan darat. CIA melobi kelompok bersenjata Suku Kurdi yang berbasis di wilayah Iran, pun yang berada di wilayah berbatasan dengan Irak. Suku Kurdi di Iran, merupakan kelompok minoritas yang selama ini dicap sebagai oposisi oleh militer Iran. Dan Suku Kurdi di Irak, merupakan faksi bersenjata yang punya catatan kelam dengan militer Iran.
AS memprovokasi kelompok bersenjata Suku Kurdi di Iran dan Irak untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran. Dan Zionis juga mengandalkan Suku Kurdi dengan harapan terwujud wilayah bamper baru bagi Israel di Iran. Dan Suku Kurdi sendiri berpuluh-puluh tahun menghendaki pembentukan negara Kurdistan yang terbentang dari sebagian wilayah Iran, dan Irak sampai ke wilayh perbatasan antara Suriah dan Turki.