Bahlil: RI Peringkat 2 Dunia Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global - Beritasatu
Bahlil: RI Peringkat 2 Dunia Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia termasuk negara dengan ketahanan energi yang kuat di tengah tekanan geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi dunia.
ADVERTISEMENT
Menurut Bahlil, penilaian tersebut mengacu pada laporan lembaga internasional JPMorgan Asset Management melalui publikasi Eye on the Market yang mengkaji 52 negara konsumen energi terbesar, mencakup sekitar 82% konsumsi energi global.
ADVERTISEMENT
“Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati posisi kedua setelah Afrika Selatan, serta berada di atas China yang menempati peringkat ketiga.
Ketahanan energi Indonesia dinilai cukup kuat karena ditopang produksi domestik minyak dan gas bumi yang masih signifikan. Selain itu, cadangan serta produksi batubara yang melimpah turut mendukung pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Potensi energi baru dan terbarukan di berbagai wilayah juga menjadi faktor penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional.
Bahlil menambahkan, dari sisi hulu migas, capaian lifting minyak pada 2025 berhasil memenuhi target APBN sebesar 605.000 barel per hari. Untuk 2026, target tersebut dinaikkan menjadi 610.000 barel per hari.
Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong peningkatan produksi melalui berbagai langkah, seperti pemanfaatan teknologi lanjutan, reaktivasi sumur yang tidak aktif, serta eksplorasi potensi migas di kawasan Indonesia Timur.
Pada sisi lain, pemerintah juga berupaya menekan impor bahan bakar minyak melalui pengembangan program biodiesel. Implementasi B50 secara nasional direncanakan mulai 1 Juli 2026.
“Dengan B40 dan B50, alhamdulillah mulai 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor,” pungkas Bahlil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu