0
News
    Home Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Spesial

    Cerita Mbah Tiwi, Lansia Sebatang Kara yang Berjualan Nasi Rames untuk Bayar Listtik dan Air - Kompas

    5 min read

     

    Cerita Mbah Tiwi, Lansia Sebatang Kara yang Berjualan Nasi Rames untuk Bayar Listtik dan Air

    YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Trotoar di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan cerita perjuangan seorang lansia sebatang kara yang berjuang untuk menyambung hidup dengan cara berjualan makanan.

    Namanya adalah Sumartiwi (76), atau akrab disapa dengan nama Mbah Tiwi.

    Di trotoar ini, Mbah Tiwi menyiapkan berbagai lauk berupa gorengan seperti ayam goreng, seperti tempe goreng, dan nasi.

    Baca juga: Kisah Petani Punk Gunungkidul: Bertani Organik agar Petani Generasi Muda Tidak Hilang

    Tangannya yang sudah keriput masih lihai membolak-balikkan tempe goreng agar tak gosong.

    Detik-detik Angkatan Laut Iran Sita Kapal-kapal di Selat Hormuz

    Di lapaknya yang sederhana, hanya ada gerobak dan tak ada meja untuk memasak.

    Mbah Tiwi menaruh tungku arang di bawah dan harus jongkok. Tubuhnya yang sudah bungkuk tampak kesulitan memindah gorengan ke gerobaknya.

    Baca juga: Kisah Daliman di Yogyakarta, Sulap Rumahnya Jadi Kebun Sayur dan Kandang Ayam di Tengah Permukiman Padat

    Berjualan sejak 2001 silam

    Pagi ini, Rabu (22/4/2026) cuaca tampak mendung, Mbah Tiwi pun tampak kebingungan saat memasang terpal agar makanannya tak kehujanan.

    Ia lalu dibantu oleh dua orang pembeli memasang terpal berwarna biru dan kuning. Tak lama kemudian, Mbah Tiwi mengenakan mantel agar tak kehujanan saat memasak.

    Mbah Tiwi sudah berjualan di kawasan ini sejak 2001 silam.

    “Gempa (Yogyakarta) saya pasang tenda di sini seperti orang kemah,” ujarnya dengan bahasa Jawa halus, Rabu (22/4/2026).

    Baca juga: Cerita Bambang, Pensiunan PNS Purworejo yang Bertani Black Sapote: Perawatan Minim, Bernilai Tinggi

    Rumahnya cukup jauh dari Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan.

    Rumahnya berada di Kotagede. Tiap harinya Mbah Tiwi harus menempuh jarak 4 kilometer dari rumahnya menuju lokasi warungnya.

    Jarak 4 kilometer ini ia tempuh selama satu jam, ia berangkat pukul 07.00 dari rumah dan sampai warungnya.

    Selain mempersiapkan makanan, pagi ini, di tengah hujan deras di Kota Yogyakarta, Mbah Tiwi juga mempersiapkan belasan gelas teh panas.

    Warung Mbah Tiwi yang dekat dengan ruko-ruko membuat para karyawan toko berlangganan minuman.

    “Masih kurang 15 gelas,” kata Mbah Tiwi.

    Baca juga: Kisah Penjual Tisu di Samarinda Mengejar Cukup, Hidup Sesuai Kemampuan dan Makan Seadanya

    Hidup sebatang kara dengan berjualan warung rames

    Berjualan warung rames merupakan perjuangan bagi Mbah Tiwi, ia memilih berjualan daripada meminta-minta di jalanan.

    Di usia senja, Mbah Tiwi tetap semangat agar tidak menyusahkan orang lain. Misi berjualannya merupakan hal sepele bagi masyarakat lainnya.

    Terpenting bagi Mbah Tiwi, dia bisa membayar PDAM, PLN, serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

    “Sebulan Rp 300.000 (PDAM dan listrik), kembali Rp 10.000,” kata dia.

    Baca juga: Cerita Pak Udin, Tukang Sol Sepatu di Samarinda yang Tak Pernah Menyerah demi Keluarga

    Mbah Tiwi kini hidup sebatang kara. Saat suaminya masih hidup dia dibantu suaminya berjualan. Suami Mbah Tiwi meninggal saat Pandemi Covid-19 melanda.

    “Di Kotagede saya di rumah orangtua (peninggalan),” katanya.

    Di tengah keterbatasan yang ia hadapi, Mbah Tiwi tetap ramah kepada pengunjung, sesekali dia menawarkan gorangannya kepada pelanggan secara cuma-cuma.

    Mbah Tiwi juga selalu mendoakan pelanggannya yang membeli di warung kecilnya.

    Baca juga: Kisah Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    China Bantah Kapal yang Ditahan AS Berisi "Hadiah" untuk Iran

    Komentar
    Additional JS