0
News
    Home Berita Featured Samarinda Spesial

    Cerita Suwandi, Perantau Jawa yang Menenun Asa dari Berjualan Pentol di Samarinda, Modal Nekat dan Terimpit Utang - Kompas

    10 min read

     A

    Cerita Suwandi, Perantau Jawa yang Menenun Asa dari Berjualan Pentol di Samarinda, Modal Nekat dan Terimpit Utang



    SAMARINDA, KOMPAS.com - Langit Kota Tepian masih gelap saat deru kendaraan mulai terdengar di sekitar Pasar Segiri.

    Aktivitas sudah menggeliat, jauh sebelum matahari muncul di ufuk timur.

    Di antara pedagang yang bersiap, seorang pria paruh baya tampak sigap mengatur barang dagangannya.

    Namanya Suwandi (54), perantau asal Jawa yang kini menggantungkan hidup dari berjualan pentol keliling di Samarinda.

    Utusan AS Lobi Trump dan FIFA Ingin Timnas Italia Gantikan Iran di Piala Dunia 2026

    Baca juga: Mangkraknya Jateng Valley di Ungaran, Wisata Terbesar Asia Tenggara yang Jadi Tempat Seram

    Bagi sebagian orang, Minggu adalah waktu beristirahat. Namun tidak bagi Suwandi.

    Hari libur justru menjadi kesempatan untuk menjemput lebih banyak pembeli, terutama anak-anak yang berkumpul di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

    “Tidak ada libur. Justru hari Libur biasanya lebih ramai,” ujarnya saat ditemui Kompas.com, Minggu (5/4/2026).

    Keputusan Suwandi meninggalkan kampung halaman pada 2020 bukan tanpa alasan.

    Baca juga: Cerita Maarif Selamatkan Diri dari Banjir Demak, Rumah Jebol, Anak dan Istri Sempat Hanyut

    Niat merantau ke Kalimantan Timur

    Suwandi saat menjajakan dagangannya ke pelanggan yang ingin menikmati pentol olahannya pada Senin (6/4/2026)

    Lihat Foto

    Ia datang ke Kalimantan Timur dengan beban ekonomi yang menghimpit.

    Di Jawa, ia bekerja sebagai buruh tani. Penghasilan yang tidak menentu dan utang yang menumpuk membuatnya harus mengambil langkah besar: merantau.

    “Karena awalnya kan di kampung susah lah, banyak pinjaman-pinjaman itu,” ungkapnya.

    Ia mengaku bukan tipe orang yang terbiasa berdagang. Bahkan, sebelum merantau, ia merasa malu jika harus berjualan di kampung sendiri.

    “Di Jawa juga saya pemalu, nggak pernah begini (jualan). Orang-orang di sana pasti kaget kalau tahu saya jualan, karena dulu saya cuma buruh tani,” katanya.

    Baca juga: Cerita Munjaroh di Tengah Banjir Demak, Rumah Rata Tanah, Harta Benda Hanyut

    Kesempatan datang dari keponakannya yang lebih dulu berjualan pentol di Samarinda.

    Dari sanalah ia mendapatkan bantuan tiket dan mulai merintis hidup baru dengan modal keberanian.

    Awal kehidupan Suwandi di Samarinda tidak mudah.

    Selama dua bulan pertama, ia belajar dari keponakannya memahami cara membuat pentol hingga strategi menjualnya di lapangan.

    Ia memulai dengan cara sederhana: memikul dagangan sambil berkeliling. Namun seiring waktu, kondisi fisik menjadi kendala.

    Baca juga: Derita Warga Demak: Tanggul Jebol, Kebanjiran, dan Lumpur Menumpuk

    Gangguan pembuluh darah di kaki yang sempat dioperasi membuatnya tak lagi kuat membawa beban berat.

    Pilihan pun jatuh pada gerobak dorong.

    Meski terlihat lebih ringan, perubahan itu tidak serta-merta memudahkan. Ia harus membangun kembali pelanggan dari nol.

    “Awalnya pakai gerobak ini juga agak susah, belum banyak pelanggan di bawah. Tapi satu bulan sudah mulai ada. Pelanggan ada yang mengenali, ‘Oh ini dulu yang bakul (pikulan) ya?’,” tuturnya.

    Baca juga: Derita Warga Demak, Banjir Surut, Lumpur Masih Menumpuk...

    Harga bahan baku yang meroket

    Kini, gerobak kayu itu menjadi “kendaraan utama” Suwandi menyusuri jalanan Samarinda.

    Dari kawasan Musi, Jelawat, hingga sekitar Pipo, ia berpindah lokasi setiap satu hingga satu setengah jam untuk menjangkau pembeli.

    Menjadi pedagang kecil di tengah tekanan ekonomi bukan perkara ringan. Harga bahan baku yang terus naik menjadi tantangan harian bagi Suwandi.

    Ia menyebut harga ayam bisa mencapai Rp 200.000 per ekor, sementara tepung juga mengalami kenaikan.

    Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia pernah menggunakan daging sapi seharga Rp 160.000 per kilogram saat stok ayam kosong meski harus menanggung kerugian.

    Baca juga: Vlogger Asal Demak Tewas Tenggelam di Sungai Tuntang Saat Bikin Konten, Ini Kronologinya

    Namun di tengah tekanan itu, ia tetap mempertahankan harga jual.

    Pentol standar dijual Rp 500 per biji, sementara varian isi ayam, telur, cabai, dan keju dibanderol Rp 1.500.

    “Kalau dinaikkan harganya, nanti pembeli lari. Sekarang banyak yang jualan pentol. Yang penting sama-sama jalan, asal bisa mencukupi,” katanya.

    Keputusan tersebut membuat margin keuntungan semakin tipis. Meski begitu, ia tetap menjaga kualitas dagangan.

    Baca juga: Sudah Jadi Korban Pencurian, Warga Baubau Diduga Diperas Oknum Polisi

    Di rumah kontrakannya di Gang Musi, Suwandi dan istrinya memproduksi pentol secara manual.

    Sang istri membantu proses pembersihan dan pembuatan, sementara Suwandi bertugas membeli bahan dan berjualan.

    Hari-hari Suwandi dimulai saat sebagian besar orang masih tertidur.

    Ia berangkat ke Pasar Segiri sekitar pukul 01.30 hingga 03.00 pagi untuk membeli bahan baku.

    Baca juga: Praktik Tambang Emas Ilegal di Banyumas Dibongkar, Penghasilan Rp 10 Juta per Minggu

    Setelah itu, ia langsung mengolah bahan tanpa sempat beristirahat.

    “Kalau tidur nanti nggak jualan,” ucapnya singkat.

    Sekitar pukul 07.30 WIB, ia mulai berkeliling dan baru pulang saat Maghrib.

    Dalam kondisi cuaca baik, ia bisa membawa pulang penghasilan bersih lebih dari Rp 100.000 per hari.

    Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, biaya sekolah anaknya yang masih berusia delapan tahun, serta mengirim uang ke anaknya yang sudah berkeluarga di Jawa.

    Sebagian juga dialokasikan untuk melunasi utang masa lalu.

    Baca juga: Viral Unggahan Asrama Papua di Yogyakarta Diserang OTK, Ini Penjelasan Polisi

    Harapan kepada pemerintah

    Di tengah kerasnya kehidupan, Suwandi menyimpan harapan sederhana kepada pemerintah.

    Ia berharap ada perhatian lebih terhadap pedagang kecil, terutama dalam mengendalikan harga bahan pokok.

    “Pemerintah seharusnya bisa mengecek ke pasar-pasar itu. Harga apa-apa yang terlalu tinggi bisa diturunkan untuk mencukupi rakyatnya,” ujarnya.

    Ia juga menyinggung berbagai pungutan seperti biaya parkir dan kebersihan yang dinilai menambah beban pedagang kecil.

    Baca juga: 5 Daerah di DIY Alami Kemarau Terpanjang 2026, Bisa Sampai 7 Bulan

    Empat tahun bertahan di tanah rantau bukan perjalanan singkat. Bagi Suwandi, kunci utamanya adalah kerja keras dan rasa syukur.

    Di balik gerobak sederhana yang ia dorong setiap hari, tersimpan tekad untuk terus bertahan, apa pun kondisi yang dihadapi.

    “Harus semangat lah. Kalau nggak semangat, malah sedikit (penghasilan), nanti capek. Harus yakin, pasti ada jalan,” katanya.

    Pagi itu, saat matahari mulai naik perlahan di Samarinda, Suwandi kembali mendorong gerobaknya. Menyusuri jalanan kota, menjajakan pentol, sekaligus menenun harapan sedikit demi sedikit, dari roda yang terus berputar.

    Baca juga: Mangkraknya Jateng Valley di Ungaran, Wisata Terbesar Asia Tenggara yang Jadi Tempat Seram

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS