Cerita Pak Udin, Tukang Sol Sepatu di Samarinda yang Tak Pernah Menyerah demi Keluarga - Kompas
Cerita Pak Udin, Tukang Sol Sepatu di Samarinda yang Tak Pernah Menyerah demi Keluarga
SAMARINDA, KOMPAS.com - Deru kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti di Jalan Biawan, Samarinda, menjadi latar keseharian Sarifudin.
Di antara bising lalu lintas, terdengar ritme khas: gesekan ampelas, denting palu kecil, dan tusukan jarum yang menembus kulit sepatu yang aus.
Di sudut sebuah trotoar, pria paruh baya itu duduk bersila di depan meja kayu sederhana. Tangannya lincah, nyaris tanpa jeda.
Warga sekitar mengenalnya sebagai Pak Udin, tukang sol sepatu yang telah belasan tahun menggantungkan hidup dari jarum dan benang.
Adu Kuat, Iran Tak Akan Buka Selat Hormuz Selama AS Masih Blokade
Peluh yang mengalir di keningnya seolah tak pernah cukup untuk menghentikan pekerjaannya.
Di balik tumpukan sepatu rusak yang menunggu diperbaiki, tersimpan kisah tentang keteguhan prinsip, kemandirian, dan tanggung jawab yang ia pegang teguh.
Baca juga: Kucing-Kucingan dengan Petugas, Bertahan di Jalan: Potret Kerasnya Hidup Fitriyani
Sarifudin lahir di Banjarmasin pada Januari 1976.
Ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai kemandirian sejak dini.
Meski hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD), cara bicaranya runtut dan penuh pertimbangan.
Baca juga: Cerita Bambang, Pensiunan PNS Purworejo yang Bertani Black Sapote: Perawatan Minim, Bernilai Tinggi
Cerita merantau ke Samarinda
Prinsip hidupnya sederhana, tetapi kuat.
“Jangan belajar minta,” ujarnya tegas saat ditemui Kompas.com, Minggu (6/4/2026).
Ia bahkan mengaku sejak kecil tidak pernah meminta uang kepada orang tuanya.
Baca juga: Dari Air Mata ke Prestasi: Perjuangan Ibu di Bekasi Besarkan Anak Down Syndrome
“Tanya saja, pernahkah minta uang seribu sama nenek saya? Tidak pernah,” katanya.
Nilai itu pula yang ia pegang saat menikah di usia 25 tahun.
Seluruh kebutuhan pernikahan ia penuhi dari hasil kerja sendiri, tanpa bergantung pada orang tua maupun mertua.
Baca juga: Gubernur Kaltim Rudy Masud Ungkap Rincian Anggaran Rp 25 M untuk Renovasi Rumah Dinas, Apa Saja?
Merantau ke Samarinda menjadi titik balik dalam hidupnya. Di kota inilah ia ditempa menjadi pribadi yang tangguh.
Keahlian menjahit sepatu yang kini menjadi sumber penghidupannya tidak ia peroleh dari pendidikan formal.
Ia belajar secara otodidak, sempat berguru selama tiga bulan kepada ayah seorang temannya.
“Saya tidak mau menganggur. Pokoknya belajar,” tuturnya.
Baca juga: Cerita Anak Peternak Sapi Lulus IPK 4,00 di Unsoed, Jadi Sarjana Pertama Keluarga
Sebelum menekuni profesi ini, Pak Udin pernah menjadi tukang ojek selama belasan tahun.
Namun, ia melihat peluang yang lebih stabil dari jasa perbaikan sepatu.
Kini, selain menerima jasa sol sepatu, ia juga menjalankan usaha jual-beli sepatu safety bekas.
Sepatu-sepatu itu ia perbaiki hingga layak pakai, lalu dijual kembali dengan harga terjangkau.
Baca juga: Kisah Siti Robiah, Nenek 91 Tahun di Ponorogo Berangkat Haji Hasil Jualan Arang
Disiplin terhadap waktu
Bagi Pak Udin, kepercayaan adalah segalanya. Ia dikenal disiplin terhadap waktu.
Jika menjanjikan sepatu selesai pukul 20.00, ia berusaha menuntaskannya lebih cepat.
“Kalau bisa jam 7 sudah selesai, supaya orang tidak menunggu,” ujarnya.
Namun, ada satu pelanggan yang selalu ia utamakan: anak sekolah.
“Kalau anak sekolah, saya paling takut (mengecewakan). Kasihan mereka, besoknya mau sekolah,” katanya.
Baca juga: Cerita Ezra, Alumnus UGM Peneliti DNA Purba di Antartika Selama 57 Hari
Tak jarang, sepatu datang dalam kondisi rusak parah pada malam hari. Meski lelah, ia tetap membuka kembali peralatannya dan bekerja hingga larut.
Baginya, memastikan seorang anak bisa berangkat sekolah dengan sepatu layak adalah tanggung jawab yang tidak tertulis.
Dedikasi itu membuatnya dipercaya berbagai pelanggan, termasuk perusahaan yang kerap mengirim puluhan hingga ratusan pasang sepatu untuk diperbaiki.
Di balik kesederhanaannya, Pak Udin memiliki prinsip hidup yang unik, terutama soal tempat tinggal.
Baca juga: Renovasi Anggaran Rumah Jabatan Gubernur Rp 25 M, Ketua DPRD Kaltim: Saya Enggak Ikut
Beli rumah dan sekolah anak
Ia mengaku takut pada konsep menyewa rumah karena dianggap sebagai beban jangka panjang.
“Kalau saya melihat orang tuanya (calon istri) menyewa, saya mundur,” ungkapnya.
“Saya takut kalau menikah nanti harus ikut menanggung beban sewa rumah, padahal saya ingin istri saya bahagia," imbuhnya.
Kerja kerasnya selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Dari penghasilan sebagai tukang ojek dan tukang sol sepatu, ia mampu membeli rumah sendiri.
Baca juga: Renovasi Rujab Gubernur-Wagub Kaltim Rp 25 Miliar Disorot, DPRD: Bisa Dievaluasi, Bahkan Dinolkan
Ia juga berhasil menyekolahkan ketiga anaknya. Anak pertamanya kini telah duduk di bangku kuliah sebuah capaian yang melampaui latar belakang pendidikannya.
Meski mengaku sebagai “orang lama”, Pak Udin tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman.
Atas inisiatif anaknya, kini ia menyediakan pembayaran digital melalui QRIS di meja kerjanya.
“Saya sebenarnya tidak mengerti, ini anak saya yang punya ide. Katanya supaya mengikuti zaman,” ujarnya sambil tersenyum.
Baca juga: Cerita Bambang, Pensiunan PNS Purworejo yang Bertani Black Sapote: Perawatan Minim, Bernilai Tinggi
Selain menjahit sepatu, ia juga bekerja sebagai juru parkir untuk menambah penghasilan.
“Pagi saya jadi jukir di Bank Sungai Dama, jam 11 geser, kemudian jam 1 buka jahit sepatu,” katanya.
Sebagai pekerja sektor informal, ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, terutama terkait jaminan kesehatan.
“Kalau tidak sehat, tidak bisa cari rezeki. Kami butuh kepastian jaminan kesehatan yang tidak memberatkan,” ujarnya.
Baca juga: Cerita Yoga, PNS Magelang Lakukan Bike to Work Tiap Hari sejak 2010
Meski bukan kelahiran asli Samarinda, ia mengaku bangga menjadi bagian dari kota ini.
Setiap hari, ia bekerja dari siang hingga tengah malam.
Rutinitas panjang itu ia jalani dengan kesadaran bahwa setiap tusukan jarum adalah usaha sekaligus doa.
Baca juga: Kartini di Balik Jamu Gendong, Perjuangan Sukati Menjadi Tulang Punggung Keluarga
“Hidup ini yang penting shalat dan syukur. Kalau diberi rezeki tapi tidak digunakan untuk ibadah, itu namanya berbohong pada Tuhan,” ucapnya.
Di pinggir Jalan Biawan, Pak Udin mungkin hanya terlihat sebagai tukang sol sepatu. Namun, di balik pekerjaannya, ia sedang menjahit sesuatu yang lebih besar: harapan.
Sepasang demi sepasang sepatu yang ia perbaiki bukan sekadar alas kaki yang kembali layak pakai, melainkan simbol ketekunan, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa hidup bisa dijalani dengan bermartabat, apa pun profesinya.
Baca juga: Kisah Penjual Tisu di Samarinda Mengejar Cukup, Hidup Sesuai Kemampuan dan Makan Seadanya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang