0
News
    Home Berita Featured Kesehatan Spesial Vaksin

    Dua dari Tiga Bayi di Aceh Belum Diimunisasi, Rentan Terserang Penyakit Berbahaya - dinkesl Aceh

    4 min read

     

    Dua dari Tiga Bayi di Aceh Belum Diimunisasi, Rentan Terserang Penyakit Berbahaya


    Pertemuan Penguatan Peran Media dalam Peningkatan Cakupan Imunisasi di Aceh yang digelar di Ayani Hotel, Banda Aceh, Jumat (17/4).

    BANDA ACEH -- Cakupan imunisasi di Aceh masih menjadi perhatian serius. Bahkan sekitar 281 ribu anak di provinsi ini tercatat belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali atau masuk dalam kategori zero dose. Itu artinya, dua dari tiga bayi di Aceh dilaporkan belum menerima imunisasi dasar sama sekali. Zero dose merupakan indikator global untuk menilai akses imunisasi, yang diukur dari jumlah bayi di bawah usia satu tahun yang belum mendapatkan imunisasi DPT-1.

    Kondisi tersebut diungkapkan oleh Kabid P2P Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, saat memaparkan materi terkait Update Perkembangan Imunisasi di Aceh pada pertemuan bertajuk Penguatan Peran Media dalam Peningkatan Cakupan Imunisasi di Aceh yang digelar di Ayani Hotel, Banda Aceh, Jumat (17/4).

    Dalam forum tersebut, Kabid P2P Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, menyoroti ada sejumlah faktor disebut menjadi penyebab rendahnya cakupan imunisasi di Aceh. Ketakutan terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) juga masih tinggi di masyarakat.

    "Kekhawatiran terhadap efek samping setelah imunisasi seperti demam ringan kerap membuat orang tua enggan membawa anaknya untuk diimunisasi", sebut dr. Iman.

    Padahal Demam itu hal biasa setelah imunisasi, sebagai tanda respon tubuh terhadap imunisasi, dan tak perlu ditakuti, jelas dr. Iman.

    Tidak hanya itu, faktor sosial juga turut berperan, mulai dari kurangnya dukungan keluarga, keharusan memperoleh izin dari suami, hingga rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya imunisasi juga menjadi faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi di Aceh.

    Dalam diskusi juga terungkap bahwa komitmen pemerintah daerah, termasuk dalam hal dukungan anggaran, sangat menentukan keberhasilan program imunisasi di lapangan.

    Iman juga menyebutkan jika saat ini Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi di Aceh meliputi koordinasi lintas sektor dan lintas program, penguatan satuan tugas imunisasi, serta terus meneruskan melakukan sosialisasi pentingnya imunisasi melalui berbagai momentum, termasuk event Pekan Imunisasi Dunia.

    Di sisi lain, peningkatan kapasitas sumber daya manusia tenaga kesehatan juga terus dilakukan melalui pelatihan dan pembelajaran di tempat kerja (on the job training).

    Iman juga menjelaskan salah satu contoh praktik baik dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi, salah satunya datang dari Kota Lhokseumawe yang menerapkan kebijakan kewajiban sertifikat imunisasi bagi anak sekolah. Kebijakan tersebut terbukti mampu mendorong peningkatan cakupan imunisasi secara signifikan di daerah tersebut.

    Pemateri lain dalam pertemuan tersebut, adalah dokter spesialis anak, dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed, dalam paparannya menegaskan bahwa imunisasi sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I) dan membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

    Aslinar menyebut jika rendahnya cakupan imunisasi dapat membuka peluang terjadinya wabah penyakit menular.

    Ia mencontohkan penyakit campak yang sangat mudah menular, di mana satu penderita dapat menginfeksi 12 hingga 18 orang lainnya.

    "Padahal, lebih dari 20 jenis penyakit berbahaya dapat dicegah melalui imunisasi yang hingga kini masih menjadi metode pencegahan paling efektif dan efisien dari segi biaya", tegas Aslinar.

    Dalam diskusi terungkap, saat ini berbagai strategi terus diupayakan, salah satunya melalui program imunisasi kejar atau catch-up immunization. Pendekatan ini dilakukan dengan menjangkau anak-anak usia 3 hingga 5 tahun yang belum mendapatkan imunisasi, baik melalui kunjungan langsung ke rumah maupun dengan meningkatkan upaya skrining status imunisasi di posyandu.

    Pertemuan tersebut juga menekankan pentingnya peran media dalam membangun pemahaman dan kepercayaan publik terhadap imunisasi.

    "Media diharapkan dapat menyampaikan informasi yang akurat, edukatif, dan menenangkan, sehingga mampu mengurangi keraguan masyarakat terhadap imunisasi. Media harus berperan untuk mendorong masyarakat untuk mau datang ke Pelayanan Kesehatan membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi", harap dokter spesialis Anak yang juga pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia Wilayah Aceh itu.

    Imunisasi itu ikhtiar orang tua dalam melindungi anak dari berbagai penyakit menular berbahaya yang berpotensi menyebabkan kecacatan hingga kematian.

    👁 121 kali


    Komentar
    Additional JS