Gencatan Senjata Iran-AS Retak, Israel Terus Menyerang, Apa yang Terjadi? - Republika
Gencatan Senjata Iran-AS Retak, Israel Terus Menyerang, Apa yang Terjadi?
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru berjalan hitungan hari mulai menunjukkan retakan serius. Di saat Washington dan Teheran sama-sama mengklaim kemenangan, realitas di lapangan justru memperlihatkan sebaliknya: konflik belum benar-benar berhenti, bahkan berpotensi meluas.
Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam percakapannya dengan Presiden Donald Trump menyambut gencatan senjata tersebut sebagai peluang penting menuju perdamaian. Namun, ia juga mengingatkan bahwa momentum dua pekan ini sangat rapuh dan dapat runtuh jika tidak dikelola secara hati-hati.
Di atas kertas, gencatan senjata tampak menjanjikan. Iran bahkan mengajukan proposal 10 poin yang mencakup penghentian agresi, pengakuan hak pengayaan uranium, hingga pencabutan sanksi. Namun, di balik kerangka diplomasi itu, ketegangan justru terus meningkat.
Diplomasi yang Belum Satu Bahasa
Masalah utama bukan hanya pada isi kesepakatan, tetapi pada perbedaan persepsi antar pihak. Seorang pejabat senior AS menyebut proposal Iran tidak sepenuhnya sejalan dengan apa yang disepakati Washington.
Perbedaan tafsir ini menjadi sinyal awal bahwa diplomasi berjalan di atas fondasi yang belum solid. Bahkan sebelum negosiasi lanjutan dimulai, rasa saling percaya sudah tergerus, sebagaimana diberitakan TRT World.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka mempertanyakan komitmen Amerika. Ia menyebut dasar kesepakatan telah dilanggar dan menilai pembicaraan lanjutan menjadi “tidak masuk akal”.
Tiga hal yang dipersoalkan Teheran cukup serius: serangan yang masih berlangsung di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone, serta penolakan hak Iran dalam pengayaan uranium.
Jika benar, ini bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan indikasi bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya menjadi kesepakatan bersama, tetapi masih sebatas kesepahaman yang dipaksakan.
Halaman 2 / 4
Israel, Faktor yang Mengganggu Keseimbangan
Di tengah upaya meredakan konflik, langkah Israel justru memperumit situasi. Serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk di pusat kota Beirut, menjadi titik balik yang memperlihatkan rapuhnya kesepakatan.
Lebih dari 250 orang dilaporkan tewas dalam satu hari, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir.
Israel berargumen bahwa operasinya di Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata Iran-AS. Pernyataan ini didukung oleh pejabat Amerika, yang secara implisit memisahkan konflik menjadi beberapa medan berbeda.
Di sinilah letak persoalan mendasar: apakah gencatan senjata ini benar-benar menghentikan perang, atau hanya memindahkan medan tempurnya?
Halaman 3 / 4
Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Global
Ketegangan tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga di jalur ekonomi strategis. Penutupan kembali Selat Hormuz, meski sementara, menunjukkan bahwa Iran masih memegang kartu penting dalam permainan ini.
Langkah ini langsung memicu kekhawatiran global, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi dunia. Gedung Putih bahkan menyebut tindakan itu sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”.
Dengan kata lain, konflik ini tidak hanya soal keamanan kawasan, tetapi juga stabilitas ekonomi global.
Harapan yang Tipis, Tekanan yang Besar
Di tengah situasi yang tidak menentu, sejumlah pihak internasional masih mencoba menjaga optimisme. Perdana Menteri Shehbaz Sharif mendesak semua pihak menahan diri, sementara pemimpin Eropa dan tokoh dunia menyerukan penyelesaian damai.
Halaman 4 / 4
Bahkan, Paus Leo menyebut momen ini sebagai “harapan nyata”. Namun, harapan itu tampak berdiri di atas realitas yang rapuh.
Di Teheran, warga mulai kembali beraktivitas, meski bayang-bayang ketakutan belum sepenuhnya hilang. Ketenangan yang muncul lebih menyerupai jeda, bukan kepastian.
Perdamaian atau Sekadar Jeda?
Gencatan senjata Iran-AS saat ini lebih tepat dibaca sebagai jeda strategis, bukan solusi permanen.
Perbedaan tafsir, pelanggaran di lapangan, serta keterlibatan aktor lain seperti Israel menunjukkan bahwa konflik ini belum menemukan titik temu yang utuh.
Jika diplomasi gagal menyatukan kepentingan yang saling bertabrakan, maka dua pekan masa tenang ini berpotensi menjadi awal dari eskalasi baru yang lebih luas.
Dan pada titik itu, dunia tidak lagi bertanya siapa yang menang, melainkan seberapa besar kerugian yang harus ditanggung bersama.