Harga Plastik Melonjak, Aphindo Wanti-wanti Ancaman Krisis Bahan Baku - Tribunnews
Lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai 50-100 persen berpotensi merambat ke sektor lain seperti makanan dan minuman.
Ringkasan Berita:
- Lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai 50-100 persen membebani produsen plastik dan berpotensi merambat ke sektor lain seperti makanan dan minuman.
- Pasokan nafta yang merupakan bahan baku utama plastik saat ini terganggu akibat konflik di Iran vs Amerika dan Israel serta pemblokiran alur pelayaran di Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan tajam harga plastik kemasan di pasar domestik mulai memicu kekhawatiran pelaku industri.
Lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai 50-100 persen tidak hanya membebani produsen plastik, tetapi juga berpotensi merambat ke sektor lain seperti makanan dan minuman.
Perwakilan Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chavelier mengatakan, kenaikan tersebut merupakan dampak dari konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku global.
"Dampak dari konflik Timur Tengah itu memang di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Seluruh dunia mengalami kenaikan lonjakan biaya bahan baku. Bukan khusus untuk bahan baku plastik saja, tapi seluruh bahan baku," tutur Henry saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (4/4/2026).
Gangguan utama terjadi pada pasokan nafta yang merupakan bahan baku utama plastik, akibat terdampak ketegangan di Iran dan jalur strategis Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat harga bahan baku melonjak signifikan sekaligus memicu kelangkaan di pasar. Aphindo menyebut kondisi saat ini sudah mengarah pada krisis bahan baku plastik di dalam negeri.
Selain itu, kenaikan harga bahan baku sekitar 50-60 persen membuat pelaku industri juga menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan.
Baca juga: Harga Toples Plastik Naik Rp40.000, untuk Laundry Melonjak 100 Persen
"Jadi boleh saya katakan sampai saat ini sudah terjadi krisis bahan baku plastik di Indonesia. Kita lihat dari kenaikan harga bahan baku plastik itu sampai 50-60 persen. Bukan masalah naiknya, di samping naiknya, sulitnya kita untuk mendapatkan bahan baku," jelas Henry.
Kelangkaan ini berdampak langsung pada aktivitas produksi. Produsen plastik kesulitan memenuhi kontrak dengan pelanggan, terutama untuk kebutuhan kemasan industri makanan dan minuman.
"Kita juga tidak bisa taken kontrak dengan customer kita untuk pesanan kemasan, segala macam, karena dampaknya juga terhadap kemasan, kepada industri pangan dan minuman itu dengan naiknya bahan baku plastik secara tidak langsung menaikkan produk jadi dari hilir, sehingga produsen-produsen makanan dan minuman juga akan mengalami kerugian karena harga kemasan itu naik mahal," ungkap Henry.
Baca juga: Harga Mobil Bakal Naik Imbas Melonjaknya Harga Plastik? Ini Kata Toyota
Sebagai latar belakang, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir telah mengganggu rantai pasok energi dan petrokimia global.
Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia menjadi titik krusial yang memengaruhi stabilitas harga bahan baku, termasuk nafta yang digunakan dalam industri plastik.
Aphindo pun mengingatkan, jika konflik tidak mereda dalam waktu dekat, dampaknya bisa semakin luas dan berkepanjangan.
"Kalau saya melihatnya besar peluang untuk adanya ancaman krisis bahan baku itu bisa terjadi. Ini saya nggak tahu kalau sampai bulan Juni nanti ternyata situasi di Timur Tengah tidak mereda, ini akan berdampak luas bukan khusus di Indonesia saja tapi seluruh dunia akan mengalami hal yang sama," terang Henry.