0
News
    Home Berita Featured Plastik Spesial

    Harga Plastik Naik Usai Lebaran, Pedagang Ungkap Setiap Hari Berubah, Ini Kata Inaplas - Tribunnews

    10 min read

     

    Harga Plastik Naik Usai Lebaran, Pedagang Ungkap Setiap Hari Berubah, Ini Kata Inaplas

    harga dari pemasok kerap berubah dalam hitungan hari. Kondisi ini membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual yang stabil.


    Ringkasan Berita:
    • Harga dari pemasok plastik kerap berubah dalam hitungan hari. Kondisi ini membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual yang stabil.
    • Tidak semua jenis plastik mengalami kenaikan signifikan. Plastik hitam masih relatif stabil karena diduga berasal dari stok lama

     

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan harga plastik pasca Lebaran membuat pedagang di pasar menjerit. Dalam dua pekan terakhir, harga berbagai jenis plastik melonjak tajam dan berubah hampir setiap hari, memaksa pedagang menyesuaikan harga jual di tengah ketidakpastian pasokan.

    Ina, salah satu pedagang plastik di Pasar Musyawarah Jakarta Barat., mengaku kenaikan paling terasa terjadi pada plastik kemasan putih.

    Baca juga: Chandra Asri Siapkan Mitigasi Risiko Dampak Penutupan Selat Hormuz

    "Naik semua, ini (plastik kemasan putih) yang parah naiknya. Kalau ini parah dari Rp 10.000 ke Rp 15.000. Yang ini (kemasan lain) dari Rp 13.000 jadi Rp 20.000 sekarang," tutur Ina kepada Tribunnews.com, Jumat (3/4/2026).

    Ia mengungkap, harga dari pemasok kerap berubah dalam hitungan hari. Kondisi ini membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual yang stabil.

    "Pokoknya hari ini belanja kita, besok belanja lagi berubah lagi harganya. Bikin geger kayak harga minyak sekarang plastik," ucapnya.

    Meski demikian, tidak semua jenis plastik mengalami kenaikan signifikan. Plastik hitam masih relatif stabil karena diduga berasal dari stok lama.

    "Hitam masih stabil dia. Masih Rp 5.000 dia. Soalnya yang putih bahan bakunya katanya dari luar. Kalau hitam ngga tahu, dia kayaknya masih barang lama," jelas Ina.

    Kenaikan harga ini disebut sudah mulai terasa sejak dua minggu sebelum Lebaran dan terus berlanjut hingga sekarang.

    "Sudah dua minggu lalu, pas mau Lebaran. Minggu ini kita belanja, yang biasa kita jual Rp 15.000 sudah loncat lagi," tambahnya.

    Baca juga: Harga Plastik Naik Buntut Perang Timur Tengah, RI Cari Alternatif Bahan Baku Dari Afrika dan Amerika


    Naik Hingga 50 Persen

    Hal senada disampaikan pedagang lain, Dewi. Ia menyebut rata-rata kenaikan mencapai Rp 5.000 per pack, bahkan lebih tinggi untuk jenis tertentu.

    "Naik sekitar Rp 5.000 per pack. Sebelum Lebaran sudah naik sedikit, tapi setelah Lebaran naiknya ngga umum," ucap Dewi.

    Menurut Dewi, plastik kemasan putih menjadi yang paling terdampak dengan kenaikan lebih dari 50 persen. Ia mencontohkan harga plastik kemasan es kini menembus Rp 50.000 per kilogram.

    "Yang naik paling parah yang plastik kemasan putih. Kayaknya naik lebih dari 50 persen. Kemarin belanja plastik kemasan es, sekarang sekilo Rp 50.000," ujar Dewi.

    Tidak hanya mahal, pasokan juga mulai seret. Dewi mengaku sering menerima barang di bawah jumlah yang dipesan.

    "Sudah mulai langka dari sebelum Lebaran. Kalau sekarang kayaknya jadi lebih langka. Saya belanja minta ke sales berapa, tapi dianter selalu kurang dari yang saya minta," ungkapnya.

    Meski harga melonjak, permintaan tetap tinggi karena plastik masih menjadi kebutuhan utama pelaku usaha, terutama pedagang makanan.

    "Ya pembeli tetap beli, kan kebutuhan orang jualan. Plastik-plastik kresek, kertas minyak juga pada naik. Kalau plastik buat orang-orang jualan online sekarang belum naik banget karena belum begitu ramai," terang Dewi.


    Imbas Perang Timur Tengah

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan, lonjakan harga dipicu gangguan pasokan bahan baku global.

    "Ini imbas dari ketegangan di Middle East, sehingga dengan ditutupnya Selat Hormuz itu 70 persen bahan baku nafta yang kita butuhkan itu jadi tidak bisa keluar dari sana," tutur Fajar saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (3/4/2026).

    Ia menambahkan, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan terjadi saat kebutuhan mulai meningkat selama periode Lebaran.

    "Demand H+10 Lebaran ini mulai aktif, sehingga antara permintaan dengan suplai memang terjadi ketidakseimbangan," jelas Fajar.

    Menurut Fajar, kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sejak konflik di kawasan Timur Tengah memanas, namun baru terasa signifikan setelah aktivitas pasar kembali normal pasca Lebaran.

    "Seolah-olah harganya naiknya besar sekali, padahal kenaikannya itu sudah mulai dari minggu kedua pada saat perang di Iran dan Israel tadi," ujarnya.


    Penyebab harga plastik naik

    Melonjaknya harga plastik tak lepas dari kenaikan harga minyak dan gas alam akibat penutupan Selat Hormuz, jalur air yang berperan penting dalam rantai pasokan energi dan petrokimia global.

    Hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global membutuhkan jalur tersebut sebagai distribusinya.

    Oleh sebab itu, tak heran ketika jalur itu ditutup, harga minyak mentah naik dari 67 dollar AS per barel menjadi 98 dollar AS per baret pada 20 Maret 2026.

    Sementara harga gas alam acuan di Asia dan Eropa telah melonjak lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.

    Kondisi ini berdampak pada produksi plastik. Pusat Hukum Lingkungan Internasional menyampaikan, lebih dari 99 persen plastik global berasal dari bahan bakar fosil.

    Artinya, kenaikan harga energi tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga biaya bahan baku itu sendiri, termasuk termasuk polietilen (PE) dan polipropilen, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia.

    Selama ini, Timur Tengah merupakan pasokan utama bahan baku plastik.

    Dana S&P Global Energy menunjukkan, kawasan ini menyumbang sekitar seperempat dari ekspor polietilen dan polipropilen global.

    “Sekitar 84 persen kapasitas PE Timur Tengah bergantung pada selat tersebut untuk ekspor melalui jalur air,” kata Harrison Jacoby, direktur polietilen di Independent Commodity Intelligence Services.

    Menurut lembaga kliring independen yang melacak data transaksi untuk pasar resin, Plastics Exchange, harga resin plastik telah melonjak dua digit di sebagian besar kategori manufaktur dalam 30 hari terakhir.

    "Dalam 25 tahun saya (di industri plastik), saya belum pernah melihat peningkatan PE (bulanan) sebesar ini sebelumnya," ucap CEO Plastics Exchange dan platform intelijen pasarnya, Resintel, Michael Greenberg.

    Kenaikan harga plastik berlangsung lama

    Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, memprediksi kenaikan harga plastik akibat perang di Timur Tengah akan berlangsung lama.

    Besaran kenaikan harganya diperkirakan mencapai 40-70 persen.

    "Meski ada deeskalasi perang di Timur Tengah, disrupsi bahan baku plastik bisa bertahan 3-6 bulan kedepan," kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/4/2026).

    Kondisi ini akan terasa dampaknya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman yang terpaksa menyesuaikan harga atau memotong margin.

    Apalagi, Pemerintah Indonesia baru saja mengumumkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap Jumat. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan penggunaan plastik sebagai bungkus makanan atau minuman.

    Dalam jangka waktu panjang, hal tersebut dapat merugikan UMKM.

    "UMKM akan semakin tertekan, apalagi kondisi sekarang daya beli masyarakatnya sedang melemah. Apalagi di kelompok menengah ke bawah yang menjadi segmen pasar UMKM," ungkap Bhima.

    Untuk mengatasi hal tersebut, dia menyarankan agar pemerintah segera menurunkan PPN untuk plastik dari 11 persen menjadi 8 persen.

    Menurutnya, kebijakan ini bisa meringankan harga jual plastik kemasan.

    Selanjutnya, Bhima menyarankan agar pemerintah memberikan tambahan stimulus kepada UMKM berupa PPH 0,5 persen.

    "PPH 0,5 persen UMKM PPH final itu diperpanjang," saran Bhima.

    Saran berikutnya adalah stimulus lanjutan berupa dorongan kredit kepada UMKM di sektor makanan dan minuman dengan bunga yang lebih rendah.

    "Inikan kredit UMKM kontraksinya cukup dalam 0,5 persen secara year on year di bulan Januari. Jadi kredit UMKM ini harus terus distimulus, tapi dengan bunga yang rendah. Dengan begitu UMKM-nya bisa bertahan," papar Bhima.

    Dia menjelaskan, lamanya potensi kenaikan harga plastik ini disebabkan karena banyaknya perusahaan petrokimia baik di Indonesia maupun di luar negeri yang mengalami force major. "Jadi, kontrak pre-order pembelian untuk plastik itu semuanya dibatalkan sehingga krisis plastiknya bakal lama," ungkap Bhima.(Kompas.com)

     

    Sebagian artikel ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul Mengapa Harga Plastik Naik Drastis Imbas Perang AS Vs Iran dan Bisa Sampai Kapan? 
     


    Komentar
    Additional JS