Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timteng, Impor RI Ikut Melonjak - Lentera
JAKARTA (Lentera) - Kenaikan harga plastik di Indonesia kian terasa dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan ini tidak lepas dari terganggunya pasokan bahan baku global, terutama akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada rantai distribusi internasional.
Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor memperparah kondisi tersebut. Melansir Bloomberg, saat ini, sekitar 60 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional masih dipenuhi dari luar negeri, membuat harga domestik sangat sensitif terhadap gejolak global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Jumat (3/4/2026), nilai impor plastik dan barang dari plastik menunjukkan tren fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2019 hingga 2023, volume impor tercatat bergerak dinamis, berada di kisaran puluhan hingga ratusan juta kilogram per periode.
Memasuki tahun 2024, dinamika impor plastik semakin terlihat. Pada Juni 2024, volume impor tercatat sekitar 90,98 juta kilogram dengan nilai mencapai US$202,11 juta. Angka ini sempat mengalami penurunan dan kenaikan dalam beberapa bulan berikutnya.
Namun, lonjakan signifikan terjadi pada September 2024. BPS mencatat impor plastik naik tajam hingga 21,33 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan nilai mencapai US$0,92 miliar dan volume sebesar 0,56 juta ton.
Tren kenaikan tersebut berlanjut hingga 2026. Pada Januari 2026, nilai impor plastik dan barang dari plastik diperkirakan mencapai US$949,2 juta, meningkat sekitar 5,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pada Februari 2026, nilai impor plastik tercatat sebesar US$873,2 juta. Angka ini masih menunjukkan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan luar negeri di tengah kondisi harga yang terus merangkak naik.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan komoditas plastik dan bahan plastik menjadi penyumbang defisit terbesar pada neraca perdagangan nonmigas sepanjang Januari-Februari 2026.
"Impor komoditas tersebut memberikan andil defisit sebesar US$1,39 miliar," ujar Ateng, Sabtu (4/4/2026).
Dirincinya, impor plastik Indonesia pada Februari 2026 didominasi oleh beberapa negara mitra dagang utama. China menjadi pemasok terbesar dengan nilai mencapai US$380,1 juta, disusul Thailand sebesar US$82,7 juta, dan Korea Selatan sebesar US$66,7 juta.
Di sisi lain, secara keseluruhan, komoditas impor terbesar Indonesia pada Februari 2026 masih didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) dengan nilai US$3,74 miliar.
Posisi berikutnya ditempati mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebesar US$2,74 miliar, serta plastik dan barang dari plastik di posisi ketiga dengan nilai US$0,87 miliar.
Editor:Santi