Iran Balas Ancaman Trump dengan Cuitan Satir soal Selat Hormuz - Liputan6
Iran Balas Ancaman Trump dengan Cuitan Satir soal Selat Hormuz
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah perwakilan diplomatik Iran di berbagai negara juga aktif melontarkan sindiran serupa untuk Donald Trump.
Liputan6.com, Teheran - Pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ultimatum pembukaan Selat Hormuz memicu respons tak biasa dari Iran.
Alih-alih menanggapi dengan retorika diplomatik formal, sejumlah akun resmi kedutaan Iran justru membalas dengan nada bercanda di media sosial.
Salah satu respons datang dari akun Kedutaan Besar Iran di Zimbabwe di platform X (dulu Twitter). Dalam unggahannya, akun tersebut menyindir pernyataan Trump dengan gaya satir, seolah-olah menanggapi jadwal yang diumumkan Trump untuk ultimatum terhadap Iran.
8 P.M. is not that good. Could you change it to between 1 and 2 P.M., or if possible, 1 and 2 A.M.?Thank you for your attention to this important matter. I.E.Z. pic.twitter.com/deSXD8rpvD
— Iran Embassy in Zimbabwe (@IRANinZIMBABWE) April 6, 2026
Cuitan itu muncul setelah Trump sebelumnya mengancam akan meningkatkan serangan, termasuk menargetkan infrastruktur penting Iran, jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat waktu yang ditetapkan. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran global karena jalur strategis itu merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Alih-alih merespons secara konvensional, akun-akun diplomatik Iran justru melontarkan komentar bernada ringan dan menyindir.
We've lost the keys.
— Iran Embassy in Zimbabwe (@IRANinZIMBABWE) April 5, 2026
Dalam kasus Kedutaan Iran di Zimbabwe, unggahan mereka dianggap sebagai bentuk “trolling” terhadap Trump, mencerminkan pendekatan komunikasi yang tidak lazim di tengah konflik geopolitik.
Fenomena ini bukan yang pertama. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah perwakilan diplomatik Iran di berbagai negara juga aktif melontarkan sindiran serupa di media sosial. Ada yang menyebut “kunci Selat Hormuz hilang”, hingga komentar satir lain yang secara tidak langsung mengejek tuntutan Washington.
Langkah Iran menggunakan humor di tengah ketegangan dinilai sebagai strategi komunikasi untuk meredam tekanan sekaligus membangun opini publik global. Namun, situasi di lapangan tetap memanas, dengan konflik antara AS, Iran, dan sekutunya terus meningkat.
Ketegangan di kawasan tersebut telah berdampak luas, termasuk lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar.
Meski demikian, “perang narasi” di media sosial kini menjadi dimensi baru dalam konflik, memperlihatkan bagaimana diplomasi modern tidak hanya berlangsung di meja perundingan, tetapi juga di ruang digital.