Memasak Sampah Plastik Menjadi BBM Solar di Bank Sampah di Kota Cimahi - Republika
Memasak Sampah Plastik Menjadi BBM Solar di Bank Sampah di Kota Cimahi
Sampah plastik dianggap menjadi persoalan karena sulit terurai.
Rep: Ferry Bangkit Rizki
Ferry Bangkit Rizki/Republika Pekerja mengolah sampah plastik menjadi BBM, di Kota Cimahi, Selasa (28/4/2026). Sampai plastik yang dianggap bernilai rendah diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang laku keras diburu pembeli.
REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Sampah plastik dianggap menjadi persoalan karena sulit terurai, namun bukan berarti tak ada solusi. Seperti di Kota Cimahi, Jawa Barat, sampai plastik yang dianggap bernilai rendah diubah menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang laku keras diburu pembeli.
Sebuah gudang di Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi yang disulap menjadi Bank Sumberdaya Sampah Induk (BSSI) - Melong 26. Di sana, proses dari mulai sampah plastik low value datang lalu dilakukan penggibrikan, dimasak menggunakan mesin Pieolisis Fastpol hingga meniadi BBM jenis solar atau Petasol.
Republika berkesempatan melihat langsung proses mengubah sampah plastik low value menjadi BBM pada Selasa (28/4/2026). Sampah-sampah plastik dikirim nasabah digibrik terlebih dahulu lalu dimasukan ke dalam mesin untuk dilakukan proses memasak yang membutuhkan waktu sekitar 8 jam sebelum akhirnya menjadi BBM.
"Kalau di sini baru jalan hampir dia tahun. Petasol ini setara dengan solar premium paling tinggi kualitasnya," kata Lionardo Sutandi, salah seorang pendiri BSSI-Melong 26.
Mengadopsi cara yang dilakukan di Bank Sampah Banjarnegara (BSB) di Jawa Tengah yang sudah beroperasi mengolah sampah plastik menjadi BBM jenis solar sejak 2014, Lionardo mengatakan ide ini juga berangkat dari kebingungan untuk mengurai sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi rendah seperti plastik.
Di Banjarnegara, mereka melahirkan mesin pirolisis yang secara prinsip mampu mengubah plastik menjadi gas. Pada mesin pirolisis, terdiri atas empat komponen utama di antaranya reaktor, sistem pemanas tungku, kondensor, serta tangki penampung.
"Plastik low value itu bingung mau diapakan, akhirnya dibakar. Nah, kami gelisah, kemudian coba cari solusi, ternyata sampah plastik ini bisa diubah menjadi BBM, bisa diolah menjadi bahan bakar minyak terbarukan," kata Lionardi.
Langkah mereka mengubah plastik menjadi BBM sebetulnya sesederhana mengembalikan benda tersebut ke asalnya. Sebab plastik asal muasalnya dari minyak bumi dan gas alam. Sehingga ketika diolah pada mesin pirolisis, secara prinsip mereka mengembalikan lagi bentuk plastik pada sumbernya.
"Plastik itu rantai karbonnya panjang, ribuan rantai karbon. Kami pecah jadi rantai karbon yang pendek, yaitu solar dan ternyata bisa. Jadi, alat ini memutus rantai karbon yang asalnya panjang menjadi hanya 5-20 rantai karbon, yaitu solar. Bentuknya jadi cair," ujar Lionardi.
BBM jenis solar yang mereka hasilkan dinamai dengan Petasol yang berarti Polyethylene to Alternatif Solar atau bisa diartikan plastik menjadi alternatif solar melalui serangkaian proses pengolahan itu tadi.
Lionardi menyebut saat ini kapasitas produksi Petasol melalui mesin pirolisis generasi keenam mencapai 75 kilogram sampah plastik setiap harinya. Jenis sampah yang mereka olah yakni semua jenis sampah kecuali yang berbahan baku PVC. Total solar yang dihasilkan dalam sekali produksi mencapai 60-70 liter saja.
"Alat ini kapasitasnya 75 kilogram per hari, tapi dengan kualitas bahan baku sekarang, rata-rata kami dapat 60-75 persen. Jadi, kurang lebih dapat 60 liter sampai 70 liter BBM yang bisa kami hasilkan," terang Lionardi.
Halaman 2 / 2
Menurut Lionardi, yang paling banyak menggunakan produk olahan mereka yakni para pemborong untuk mengoperasikan alat-alat berat, lalu petani, hingga nelayan di daerah-daerah. Harga jualnya hanya Rp15 ribu per liter atau jauh dibawah pasaran BBM kualitas serupa yang dijual pemerintah. Namun sayang kapasitas produksi aaat ini tak menutupi permintaan yang terus berdatangan.
"Sasaran kami tentunya masyarakat kecil sebetulnya, seperti petani kan tidak boleh bawa jerigen ke pom bensin, akhirnya mereka kesulitan. Kemudian nelayan, kami juga sudah masuk. Bahkan mobil premium, karena kami sudah lolos 17 parameter untuk solar terbarukan, sudah lolos uji performa 50.000 km. Jadi, bisa masuk ke mobil premium," ujar Lionardi.
Lolos uji
Wahyu Dharmawan, inisiator lain di BSS Induk - Melong 26 lainny menjelaskan, BBM solar terbarukan yang mereka hasilkan salah satu rujukan untuk memastikan kualitasnya adalah cetane number. Cetane number dari produk bank sampah itu berkisar antara 54 sampai 56.
"Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar solar lainnya yang biasa kita lihat di pasaran, yang subsidi itu cetane number-nya 48, lalu yang non-subsidi antara 51 dan 53. Sementara produk kami ini 54. Jadi, kita bisa memahami bahwasanya dari sisi kualitas, insyaallah setara dengan kualitas solar premium lainnya," jelas Wahyu.
Dukungan mengalir deras sejak proyek tersebut digagas, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga Kementerian ESDM. Terlebih dengan terbitnya Perpres Nomor 9 Tahun 2025 yang secara spesifik mengatur tentang dukungan terhadap alat pengolahan sampah plastik menjadi minyak terbarukan, posisi Petasol pun semakin kuat secara regulasi.
"Dan untuk itu, kami perlu regulasi terakhir yaitu sertifikat niaga. Kalau sudah punya sertifikat niaga, maka kami secara legal sudah clear and clean. Untuk saat ini, kami membatasi siapa pun yang mendapatkan BBM terbarukan Petasol adalah mereka yang sudah setor sampah plastik low value," kata Wahyu.
Berita Terkait
Bukan Sekadar Ibadah, Kurban Dompet Dhuafa Bagian dari ‘Green Jobs’ dan Ekonomi Hijau
Filantropi Khazanah - 27 April 2026, 16:27
Jika Pegawai Instansi di Bali tak Bawa Tumbler, Sekda: Silakan Viralkan
Tata Kelola - 09 February 2025, 23:55
Daur Ulang Plastik, Amandina Dukung Keberlanjutan Lingkungan
Lingkungan - 06 September 2024, 18:49
Siapkan Vending Machine Botol Plastik, ASDP Perangi Sampah Laut
Korporasi - 23 January 2023, 15:46
Kemenperin Dukung Chandra Asri Gerakkan Ekonomi Sirkular
Korporasi - 19 October 2022, 23:48