Mitra Saruta Tetap Ekspor Hasil Tekstil di Saat Konflik Global - Tiryo
Mitra Saruta Tetap Ekspor Hasil Tekstil di Saat Konflik Global
Perusahaan penghasil benang hingga sarung tangan itu masih melakukan ekspor ke lebih dari 40 negara.


tirto.id - PT Mitra Saruta tetap melakukan ekspor hasil tekstil di tengah konflik global yang masih terjadi hingga saat ini. Perusahaan penghasil benang hingga sarung tangan itu masih melakukan ekspor ke lebih dari 40 negara.
"Jepang menjadi tujuan utama bagi produk kita sarung tangan, yang kedua adalah Amerika, dan masih ada 39 pasar ekspor lainnya baik dari dua produk kita, benang, dan sarung tangan," tutur Direktur PT Mitra Saruta, Hoo Yanto Andrian, di Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026).
Dijelaskan Yanto, ekspor telah dilakukan usai 2 hingga 3 tahun perusahaan ini didirikan pada 1989. Perusahaan ini sendiri memulai produksi di Surabaya dengan menggunakan 20 mesin industri kecil.
Yanto menyebut hingga kini terdapat 1.700 karyawan yang dipekerjakannya. Produksi yang dilakukan selama ini pun selalu menggunakan bahan-bahan daur ulang.

"Setiap bulan kami memproses sekitar 3.000 ton recycled waste, hanya sekitar 10 persen yang kami impor. Hubungan daripada UKM yang ada karena sifat daripada waste ini itu tidak semata-mata kami bisa dapatkan direct dari perusahaan jadi ada lebih daripada 100 UKM yang suplai daripada waste kita," ucap Yanto.
Lebih lanjut Yanto menerangkan, ekspor yang dilakukan perusahannya setiap bulan hampir 100 kontainer. Ekspor ini pun didukung dengan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sejak 10 tahun lalu.

Menurut Yanto, dampak yang memang terasa dari situasi konflik global ini adalah biaya energi untuk logistik produksi. Namun, karena beberapa tahun terakhir sebelum terjadinya perang sudah menjaga sustainability, maka di saat adanya konflik global ini, stabilitas operasional tetap bisa terjaga.
"Kalau apa yang terjadi hari ini itu kita alami dulu waktu perang di Iran, perang di Ukraina sama Rusia. Nah memang terakhir-terakhir ini rekan-rekan pengusaha itu agak sulit menentukan kenaikan itu karena dampak secara langsung dan tidak langsung terhadap kenaikan energi itu," kata Yanto.
