0
News
    Home Berita Featured Kasus Spesial Yogyakarta

    Motif Pengeroyokan Brutal Pelajar SMA di Yogyakarta berujung Meninggal Dunia -

    8 min read

     

    Motif Pengeroyokan Brutal Pelajar SMA di Yogyakarta berujung Meninggal Dunia

    Dua dari tujuh pelaku pengeroyokan sudah ditangkap. Lima lainnya yang masuk DPO masih diburu.

    Ilustrasi penganiayaan (iStockphoto)
    Paling sering ditanyakan
    • Siapa korban pengeroyokan brutal ini?
    • Apa motif di balik penganiayaan sadis terhadap IDS?
    • Berapa banyak pelaku yang sudah diamankan oleh polisi?
     Baca artikel ini 5x lebih cepat

    Liputan6.com, Jakarta - IDS (16), pelajar SMA di Bantul menjadi korban pengeroyokan brutal sekelompok pemuda di Lapangan Gadung Mlati. Motif penganiayaan sadis itu dilatarbelakangi dendam.

    “Laporan kejadian pertama kali diterima pada Rabu (15/4/2026) dan terus kita lakukan penyelidikan. Dua orang yang kita amankan, sudah kita tetapkan sebagai pelaku,” kata Kasat Reskrim Polres Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, AKP Ahmad Mirza pada Selasa (21/4/2026).

    Sedangkan untuk lima orang lainnya, masih dalam proses pencarian meski identitasnya sudah dikantongi. Mereka juga sudah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang.

     

    Permasalahan Terkait Anggota Geng

    Fakta lainnya terungkap. Sebelum dianiaya, IDS sempat diinterogasi soal apakah dia masuk dalam anggota geng. Karena tak menjawab, korban jadi bulan-bulanan para pelaku.

    Korban dianiaya menggunakan pipa paralon, selang, menyundut rokok, bahkan melindas tubuh korban menggunakan sepeda motor. Saat ini dua sepeda motor yang digunakan melindas sudah diamankan sebagai barang bukti.

    Dua pelaku yang sudah ditangkap dijerat dengan UU Pelindungan Anak dan pasal 262 KUHP tentang pengeroyokan bersama-sama dengan ancaman hukuman minimal 12 tahun penjara.

    "Apakah aksi ini sudah direncanakan sebelumnya, kita masih terus dalami sambil mencari keberadaan pelaku lainnya," ujarnya.

     

    Dijemput 2 Pria Sebelum Dikeroyok

    Sebelumnya, ayah IDS menceritakan peristiwa itu bermula saat korban dijemput dua orang dan dibawa ke belakang SMAN 1 Bambanglipuro oleh sejumlah kakak kelas dan kelompoknya. Kemudian, IDS dibawa oleh dua orang berbeda ke Lapangan Gadung Mlati.

    “Menurut rekannya, di sana anak saya sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia hanya sempat ditanya soal ikut geng, kemudian langsung dikeroyok,” ujarnya.

    Saat ditemukan, tubuh IDS dilaporkan mengalami kekerasan membabi buta menggunakan selang dan pipa paralon. Selain itu, tubuh korban juga disundut api rokok sehingga menyebabkan luka serius.

    Sugeng juga menceritakan penyiksaan oleh pelaku tidak berhenti di situ. IDS yang sudah tidak berdaya bahkan disebut dilindas sepeda motor berulang kali. Seorang pelaku juga diduga sempat hendak melukai telinga korban sebelum dicegah oleh temannya yang mengikuti dari belakang.

    “Waktu sudah pingsan, masih mau dipotong telinganya, tetapi temannya berhasil merebut gunting,” ungkap Sugeng.

    Ketika dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, korban IDS tidak sadarkan diri dan kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam.


    Komentar
    Additional JS