0
News
    Home Berita Featured Prabowo Subianto Spesial Vladimir Putin

    Pakar Militer: Manuver Ciamik Indonesia Penuh Risiko - SindoNews

    6 min read

     

    Pakar Militer: Manuver Ciamik Indonesia Penuh Risiko


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Selasa, 14 April 2026 - 16:13 WIB

    Pakar militer sebut manuver Indonesia penuh risiko. Foto/X/@SecWar

    JAKARTA - Pertemuan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Perang AS Pete Heghset yang nyaris bersamaan dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putih bisa dilihat sebagai manuver cantik di tengah menyempitnya ruang geopolitik.

    Perang Iran menegaskan kembali persepsi menurunnya hegemoni AS. Walaupun AS tetap menjadi negara terkuat saat ini, tetepi perilakunya yang merusak tatanan dunia mempercepat perubahan geopolitik. Dunia ke ke depan akan dipengaruhi oleh beberapa kekuatan besar dengan aturan main yang berbeda dengan saat AS menjadi satu-satunya hegemon.

    Beberapa kekuatan tersebut yang berada di Asia-Pasifik diantaranya AS, China India, dan Jepang serta ditambah Rusia dan NATO. Indonesia yang berada di tengah persilangan geopolitik, apalagi dekat dengan Laut China Selatan yang diperkirakan rentan menjadi titik konflik di masa depan tentu perlu mengambil kesempatan. Tetapi Indonesia juga harus berhati-hati karena pastinya semua kekuatan di atas akan berebut pengaruh bahkan bisa berkonflik di kawasan Asia-Pasifik.

    Pertanyaannya, bagaimana Indonesia mengambil manfaat dan menghindar untuk dimanfaatkan berlebihan dalam dunia dengan tatanan yang baru ini ? "Pertama dengan Russia, kerja sama energi tentunya menjamin stabilitas keamanan energi Indonesia ke depan. Namun yang juga strategis adalah kerja sama membangun tenaga nuklir dan antariksa. Dua hal ini di sisi lain tentunya akan menimbulkan kekhawatiran di regional, apa keinginan Indonesia dengan agendaagenda yang progresif ini," kata Edna Caroline, co founder Indonesia Strategic & Defence Studies (ISDS), dalam pernyataan yang dikirim ke SindoNews.

    Hal ini yang kemudian diantisipasi dengan kunjungan dan kerja sama Pertahanan antara RI dan AS. Dengan kata lain, Indonesia menunjukkan sinyal politik Internasional, bahwa politik bebas aktif tetap dilakukan dengan bekerja sama dengan Rusia, tetapi juga dengan AS. Ada kepentingan AS di kawasan yang juga diakomodir Indonesia. "Dari berbagai agenda kerja sama pertahanan RI-AS, yang menunjukkan penekanan pada kepentingan AS adalah exercise dan operational cooperation," kataEdna Caroline, yang dikenal sebagai pakar militer.

    Selama bertahun-tahun AS adalah mitra militer Indonesia yang paling banyak latihan bersama yaitu sekitar 170 latihan per tahun. Ini bisa dikatakan tiap hari ada hubungan person to person antara personil TNI dan tentara AS.

    Kepentingan Indonesia adalah semakin meningkatnya profesionalisme TNI yang bisa belajar dari militer AS yang kerap bertempur di mana-mana. Apalagi ditambah, militer AS adalah salah satu contoh terkait peran dan posisi militer dalam negara demokrasi. Sementara kepentingan AS adalah bagaimana tentaranya bisa mengerti dan punya data wilayah Asia Pasifik dan yang utama adalah membiasakan tentaranya dan menyesuaikan alat bertempur di wilayah dengan iklim tropis yang lembab di pulau-pulau.

    Yang perlu diwaspadai tentunya adalah klausul 'kerja sama operasional'. Dalam hal ini,Kementerian Pertahanan RI perlu menjelaskan pada publik, apa rincian dari kerja sama operasional ini. AS punya kepentingan untuk punya pangkalan di RI, hal ini terus ditekankan AS dalam berbagai perundingan Tarif dengan Indonesia di era Trump.

    "Keberadaan Pangkalan AS tidak sesuai dengan prinsip bebas aktif Indonesia, dan melanggar konstitusi dan kedaulatan negara, mengancam pertahanan nasional, serta berpotensi menyeret Indonesia ke dalam konflik geopolitik internasional. Kita melihat dalam perang Iran di mana pangkalan-pangkalan AS di berbagai negara timur tengah justru jadi sasaran serangan. Kita tidak ingin Indonesia menjadi battle ground, atau arena pertempuran," tutur Edna Caroline.

    Dalam konteks inilah berita tentang Amerika yang beredar pada 13 April 2026 tidak perlu minta ijin saat memasukai wilayah udara Indonesia perlu diperhatikan. Walaupun pihak Kemhan RI mengatakan, hal ini baru sampai Letter of Intent, Indonesia perlu menegaskan politik bebas aktifnya juga harus diakomodir AS.

    "Pasalnya, kalau Indonesia memberikan ruang atau akses untuk AS, berarti Indonesia juga harus memberikan ruang dan akses yang setara untuk negara lain termasuk Rusia dan China. Hal ini yang tidak diinginkan AS dan tentu Indonesia juga," kata Edna Caroline.

    Sinyal yang sama juga harus disampaikan pada Rusia yang sudah lama mengincar Biak di Papua untuk stasiun luar angkasa. Bahwa dalam kerja sama itu Rusia dan sekutunya tidak boleh punya pangkalan atau alat strategis yang permanen di Biak. Sangat wajar kalau AS dan sekutunya khawatir dengan kehadiran Rusia di Biak karena posisi itu sangat strategis untuk mengamati aset AS dan Australia di Pasifik.

    Edna Caroline mengungkapkan terkait manuver Prabowo dan Sjafrie ini, tentu akan mengudang prasangkan dari negara tetangga dan negara besar lain. Oleh karena itu, Indoensia juga perlu mengkomunikasinan dengan ASEAN dengan komprehensif. Komunikasi ini harus jadi prioritas dari sisi waktu. "Setelah itu, Indonesia perlu segera membuka ruang-ruang kerja sama dengan China lebih luas. Tidak saja secara ekonomi tetapi juga dari sisi pertahanan dan militer," jelasnya.

    Terakhir, lepas dari manuver ciamik ini, diharapkan pengambilan keputusan di Indonesia tidak bersifat hanya top-down tetapi juga mendengarkan pendapat para birokrasi yang profesional terutama di Kemlu dan Kemhan serta instansi lain yang terkait seperti TNI. Pertahanan dan keamanan adalah bagian dari Bela Negara sehingga perlu juga pemerintah melibatkan masyarakat sipil yang kompeten. Justru pemerintah perlu memanfaatkan masyarakat sipil untuk mengorkestrasi narasi dalam menghadai tekanan dari negara-negara besar. "Jangan semua informasi ditutup-tutupi sehingga menggerus kepercayaan rakyat pada pemerintahnya sendiri," pungkasnya.

    (ahm)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    Daftar Lengkap Staf...

    Daftar Lengkap Staf Pelatih Timnas Indonesia Era John Herdman

    Komentar
    Additional JS