0
News
    Home Berita Featured PBB Spesial TNI

    Pemerintah Diminta Hati-hati Kirim Prajurit TNI, Pakar: Di Bawah PBB Saja Jatuh Korban Apalagi Bukan - Tribunnews

    9 min read

     

    Pemerintah Diminta Hati-hati Kirim Prajurit TNI, Pakar: Di Bawah PBB Saja Jatuh Korban Apalagi Bukan

    Analis Politik UNAS Selamat Ginting mendorong publik terus mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati mengirim pasukan TNI sebagai pasukan perdamaian

    Ringkasan Berita:
    • Analis Politik UNAS Selamat Ginting mendorong publik terus mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati mengirim pasukan TNI sebagai pasukan perdamaian.
    • Terlebih setelah gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon Selatan. 
    • Ketiga prajurit TNI itu adalah Praka Farizal Romadhon yang pertama gugur. Kemudian ada Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting memberikan tanggapannya setelah tiga prajurit TNI gugur dalam tugasnya bersama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3/2026) dan Senin (30/3/2026).

    Ketiga prajurit TNI itu adalah Praka Farizal Romadhon yang pertama gugur. Kemudian ada Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

    Dengan gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon ini, Ginting menilai negara harus menyeimbangkan kembali komitmen perdamaian global dengan keselamatan prajurit TNI.

    Ginting menilai negara tak boleh hanya jadi kontributor dalam mengirimkan pasukan perdamaian, tapi juga harus memberikan perlindungan maksimal pada prajurit TNI yang dikirim.

    Segala risiko yang mungkin terjadi dalam pengiriman pasukan perdamaian ini juga harus dikalkulasikan agar bisa mendapat langkah yang ideal.

    "Ya setidaknya negara harus mengelola tiga prinsip. Pertama legitimasi internasionalnya bukan cuma kita sebagai kontributor pasukan perdamaian di dunia."

    "Kita cukup besar masuk enam besar negara di dunia, yang mengirimkan pasukan perdamaian, tapi juga bagaimana force protection-nya perlindungan maksimal, terhadap prajurit dari negara manapun yang sedang menjadi pasukan perdamaian PBB."

    "Kalkulasi resikonya secara strategis seperti apa, maka langkah idealnya juga seperti apa," kata Ginting dalam Program 'On Focus' di kanal YouTube Tribunnews.com, Kamis (2/4/2026).

    Ginting juga mendorong adanya peningkatan perlindungan pasukan, terutama bagi prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian.

    Karena kita tidak ingin prajurit TNI yang dikirim sebagai pasukan perdamaian justru menjadi korban serangan konflik.

    "Harus ada upgrade menurut saya untuk perlindungan pasukan termasuk pasukan kita di sana. Kita tidak mau pasukan kita hanya bertugas tapi kemudian menjadi korban," ungkap Ginting.

    Baca juga: Pemerintah Percepat Pemulangan 3 Jenazah TNI yang Gugur di Lebanon

    Minta Pemerintah Negosiasi Ulang dengan PBB dan Hati-hati Kirim Pasukan 

    Ginting menegaskan Indonesia harus melakukan negosiasi ulang terkait aturan keamanan dengan PBB dan Dewan Keamanan PBB.

    Tepatnya negosiasi soal penempatan pasukan berbasis risiko yang sangat tinggi seperti dalam konflik Israel dengan Lebanon.

    Apalagi jika prajurit TNI benar-benar dikirim di lokasi konflik Israel dengan Hamas di Gaza.

    "Sehingga kita harus melakukan negosiasi ulang aturan keamanan dengan PBB dengan Dewan Keamanan PBB, bagaimana penempatan pasukan yang berbasis risiko sangat tinggi seperti konflik Israel dengan Lebanon. Nanti juga misal konflik Israel dengan Hamas di Gaza," imbuh Ginting.

    Terakhir Ginting mendorong publik untuk terus mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam mengirim pasukan TNI sebagai pasukan perdamaian.

    Karena faktanya pengiriman pasukan perdamaian di bawah bendera PBB saja masih jatuh korban, apalagi bukan di bawah PBB.

    "Ini yang membuat publik harus mengingatkan pemerintah dan TNI hati-hati dalam pengiriman pasukan kita di bawah bendera PBB aja kita menjadi korban seperti itu. Apalagi bukan di bawah bendera PBB begitu," pungkas Ginting.

    Baca juga: 3 TNI Dibunuh Zionis Israel di Lebanon, Pakar HI: Harusnya Jadi Momen Indonesia Keluar dari BOP

    UNIFIL Lepas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

    TNI GUGUR DI LEBANON - Upacara pelepasan dan penghormatan untuk ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia tersebut di Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut, Lebanon, Kamis (2/4/2026). Upacara dipimpin langsung oleh Force Commander UNIFIL.
    TNI GUGUR DI LEBANON - Upacara pelepasan dan penghormatan untuk ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia tersebut di Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut, Lebanon, Kamis (2/4/2026). Upacara dipimpin langsung oleh Force Commander UNIFIL. (Tribunnews.com/Dok. Kemlu RI)

    Upacara pelepasan dan penghormatan jenazah tiga personel penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon berlangsung penuh haru di Bandara Internasional Rafic Hariri, Jumat (3/4/2026).

    Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Diodato Abagnara, yang memberikan penghormatan terakhir sebelum ketiga jenazah dipulangkan ke Indonesia.

    Tiga peti jenazah berbalut bendera Merah Putih tampak digotong oleh para prajurit dengan penuh khidmat.

    Suasana duka menyelimuti prosesi tersebut sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan para prajurit yang gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia.

    Dalam sambutannya, Abagnara mengenang ketiga prajurit sebagai sosok pemberani yang mengabdikan diri untuk perdamaian.

    "Mereka datang ke sini jauh dari rumah dengan satu tujuan untuk melayani perdamaian. Mereka melakukannya dengan keberanian. Mereka melakukannya dengan hormat. Mereka melakukannya sampai akhir," kata Mayor Jenderal Diodato Abagnara.

    Baca juga: Kemlu Ungkap Tantangan Repatriasi 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon di Tengah Konflik Timur Tengah

    Ia juga menegaskan bahwa kehilangan tersebut merupakan duka mendalam yang tidak dapat tergantikan.

    "Ketahuilah, mereka tidak akan dilupakan. Mereka akan tetap menjadi bagian dari misi ini, bagian dari kita semua," ujarnya.

    Menurutnya, pengorbanan para prajurit menjadi pengingat akan risiko besar dalam misi perdamaian.

    Namun di sisi lain, hal tersebut juga memperkuat komitmen seluruh personel untuk terus melanjutkan tugas mulia tersebut.

    "Kita berhutang kepada mereka kekuatan untuk meneruskan misi mereka dan untuk menghormati pengorbanan mereka melalui pengabdian kita. Mari kita perkuat komitmen kita untuk solidaritas dan perdamaian. Untuk mengenang mereka, kita bersatu. Untuk mengenang mereka, kita melanjutkan misi kita," lanjutnya.

    Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pakar Militer: Keanggotaan Indonesia di BoP Perlu Dievaluasi

    Kronologi Gugurnya 3 Prajurit TNI dalam 24 Jam

    Situasi di Lebanon selatan kian memburuk seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah.

    Dalam laporan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, terungkap kronologi dua insiden beruntun yang menewaskan tiga prajurit TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) hanya dalam waktu 24 jam.

    Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, menyatakan kondisi di lapangan memburuk cepat akibat intensifikasi serangan di sepanjang Blue Line.

    "Di tengah eskalasi regional yang lebih luas, situasi di Lebanon memburuk dengan cepat," ujar Dujarric.

    Insiden pertama terjadi pada Minggu (29/3/2026), saat sebuah ledakan menghantam pangkalan UNIFIL di Ett Taibe, Lebanon timur. Ledakan diduga berasal dari proyektil yang mengenai area pangkalan. Dalam kejadian ini, satu prajurit TNI gugur dan satu lainnya mengalami luka kritis hingga harus dievakuasi ke Beirut.

    Baca juga: Israel Bantah Bunuh Prajurit TNI, Pakar UI: Ini Prematur, Saya Curiga Justru Israel yang Menyerang

    Sehari kemudian, Senin (30/3/2026), insiden kedua terjadi di dekat Bani Hayyan. Sebuah kendaraan UNIFIL yang membawa logistik hancur akibat ledakan di sisi jalan.

    "Temuan awal terkait insiden di Bani Hayyan pada 30 Maret, yang menewaskan dua penjaga perdamaian, menunjukkan bahwa ledakan di tepi jalan telah menghantam konvoi mereka," kata Dujarric.

    Ledakan tersebut menewaskan dua prajurit TNI dan melukai dua lainnya, termasuk satu dalam kondisi serius.

    PBB mengidentifikasi tiga korban sebagai Farizal Rambe, Zulmi Aditya Iskandar, dan Muhammad Nur Ichwan.

    "Tiga penjaga perdamaian UNIFIL, semuanya warga negara Indonesia, telah gugur selama dua hari terakhir dan beberapa lainnya terluka," ujar Dujarric.

    (Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Glery Lazuardi)

    Baca berita lainnya terkait Prajurit TNI Gugur di Lebanon.


    Komentar
    Additional JS