Pemerintah Uji Langsung B50 di Kereta Api - Republika
Pemerintah Uji Langsung B50 di Kereta Api
B50 mulai diterapkan di lapangan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Rep: Frederikus Dominggus Bata
Dok. KemenESDM Proses Pengisian Bahan Bakar B50 pada Mesin Kereta oleh Dirjen EBTKE Eniya Alistiani Dewi.
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pemerintah melakukan uji terap biodiesel B50 pada sektor perkeretaapian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Pengujian ini menandai pergeseran dari tahap laboratorium menuju implementasi nyata di lapangan.
Direktur Pengelolaan Sarana dan Prasarana PT Kereta Api Indonesia (Persero) Heru Kuswanto menyampaikan uji terap dilakukan untuk memastikan kinerja teknis sarana perkeretaapian sekaligus mendukung agenda energi hijau. KAI bekerja sama dengan Kementerian ESDM dan Lemigas untuk menguji performa mesin lokomotif dan genset dalam kondisi beban tinggi dengan membandingkan penggunaan B50 dan B30.
"Uji terap penggunaan biodiesel atau B50 campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar adalah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mewujudkan energi hijau yang lebih berkelanjutan," kata Heru dalam konferensi pers di Yogyakarta, Senin (27/4/2026).
Ia merinci, pengujian dilakukan pada kereta pembangkit P02411 KA Bogowonto dengan mesin MTU 12V 183 berkapasitas 650 kVA, serta lokomotif CC 206 15 12 di Depo Lokomotif Sidotopo. Pengujian difokuskan pada keandalan operasional saat sarana bekerja dalam tekanan tinggi.
Heru menekankan aspek keselamatan dan keandalan menjadi perhatian utama dalam implementasi B50. Evaluasi teknis dilakukan secara berkelanjutan agar penggunaan bahan bakar baru ini tidak mengganggu operasional kereta.
Halaman 2 / 2
ESDM Jadikan Kereta Api Tahap Akhir Uji B50
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan mesin kereta api yang tergolong berkecepatan rendah dinilai tepat untuk melengkapi validasi teknis B50. Sebelumnya, bahan bakar tersebut telah diuji pada sektor otomotif, tambang, hingga pembangkit listrik dengan karakter mesin berkecepatan tinggi.
"Pengujian B50 yang tadi saya katakan ini tidak ada rujukan di dunia. Sehingga kita benar-benar terbuka untuk teman-teman yang melakukan pengujian, termasuk di perkeretaapian," kata Eniya.
Pengujian B50 dimulai serentak sejak 9 Desember 2025 dengan evaluasi rutin setiap pekan. Pemerintah menggelar pertemuan teknis mingguan untuk memantau performa biodiesel pada berbagai jenis mesin, mulai dari high speed engine di kendaraan hingga low speed engine di sektor industri.
Sektor tambang menjadi salah satu yang lebih dahulu menyelesaikan pengujian dengan melibatkan sejumlah badan usaha guna memastikan konsistensi hasil. Sementara itu, sektor otomotif ditargetkan rampung pada Mei 2026 dengan partisipasi pabrikan dari Eropa, Jepang, dan Korea.
"Kalau high speed engine itu bisa berputar dengan baik, berarti sebetulnya yang lain itu tidak ada masalah karena lebih rendah speed engine-nya," ujar Eniya.
Ia menjelaskan hasil sementara menunjukkan performa B50 melampaui ekspektasi pabrikan. Dalam sejumlah pengujian, interval penggantian filter tercatat lebih lama dari rekomendasi awal, yang menandakan kualitas campuran bahan bakar tetap stabil.
Temuan serupa juga terlihat pada sektor tambang yang menggunakan mesin berkecepatan rendah. Pengujian hingga 1.000 jam menunjukkan daya tahan sistem filtrasi lebih baik dari perkiraan awal.
"Jadi memang performanya sangat bagus untuk di low speed engine," kata Eniya.
Pengujian juga mencakup sektor lain seperti perkapalan, alat pertanian, dan genset. Untuk genset, pengujian difokuskan pada ketahanan bahan bakar dalam kondisi penyimpanan karena digunakan sebagai sumber listrik cadangan.
Dari sisi ekonomi, Eniya menilai momentum pengembangan B50 semakin kuat di tengah tingginya harga minyak dunia. Harga biodiesel berbasis FAME berada di bawah harga solar sehingga memberi efisiensi biaya sekaligus mengurangi beban subsidi energi. "Jadi malah ini membantu mengurangi subsidi," ujarnya.
Pemerintah menargetkan implementasi B50 secara serentak di seluruh sektor mulai 1 Juli 2026 melalui keputusan menteri. Pengaturan distribusi akan melibatkan badan usaha bahan bakar minyak dan bahan bakar nabati.
Uji di sektor perkeretaapian diharapkan memberikan data rinci terkait performa mesin berkecepatan rendah sebagai pelengkap seluruh hasil pengujian. Tahap ini menjadi penentu sebelum B50 diterapkan secara massal di seluruh Tanah Air.
Berita Terkait
KAI Mulai Pulihkan Layanan Kereta Jarak Jauh Hari Ini
Bisnis - 4 jam yang lalu
Gallup: 55 Persen Warga Amerika Akui Kondisi Keuangan Terparah Sejak 2001
Internasional - 20 jam yang lalu
Saat Sawit Menjadi Bensin, Indonesia Menguji Masa Depan Energinya
Energi - 23 jam yang lalu
KRL Dibatasi Usai Kecelakaan, Perjalanan Hanya Sampai Stasiun Bekasi
Nasional News - 28 April 2026, 13:23
Apakah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Termasuk Syahid? Ini Penjelasan Waketum MUI
Islam Digest - 28 April 2026, 11:48