0
News
    Home Berita Featured KA Argo Bromo Anggrek Kecelakaan Kereta KRL Lintas Peristiwa Spesial

    Pengamat Transportasi Beberkan Dugaan Umum Penyebab Tabrakan KRL-Argo Bromo - Kompas

    5 min read


    Pengamat Transportasi Beberkan Dugaan Umum Penyebab Tabrakan KRL-Argo Bromo


    JAKARTA, KOMPAS.com - Insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) memunculkan dugaan awal terkait gangguan sistem hingga potensi penyimpangan prosedur operasional.

    Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB itu sempat melumpuhkan jalur padat di wilayah Daop 1 JakartaPengamat transportasi perkeretaapian Joni Martinus menjelaskan, dalam sistem operasional kereta api di Indonesia, terdapat prinsip dasar keselamatan yang seharusnya mencegah kecelakaan semacam ini terjadi.

    “Prinsip absolute block system persinyalan pada perkeretaapian Indonesia mewajibkan sinyal masuk berwarna merah selama ada kereta di petak blok depan,” ujarnya Senin malam (27/4/2026).

    Dia mengatakan, fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju hingga menabrak KRL yang tengah berhenti di jalur menjadi perhatian serius dan perlu investigasi mendalam.

    Update Kecelakaan KRL Vs Argo Bromo: 3 Korban Terjebak Dievakuasi Selamat

    “Fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek dapat masuk hingga menabrak KRL di depannya, ini menjadi hal yang harus didalami dan menjadi perhatian KNKT,” ungkap Joni.

    Baca juga: Daftar Kereta Api yang Dibatalkan Imbas Kecelakaan KRL dan Argo Bromo, Ada Refund 100 Persen dari KAI

    Dugaan umum yang bisa didalami KNKT

    Ia memaparkan, secara umum terdapat sejumlah kemungkinan penyebab tabrakan dari belakang pada sistem perkeretaapian.

    Di antaranya adalah pelanggaran terhadap sinyal merah atau signal passed at danger (SPAD), kegagalan sistem persinyalan yang menampilkan informasi keliru (wrong side failure), hingga miskomunikasi dalam penerapan prosedur berjalan hati-hati.

    Selain itu, faktor lain yang tak kalah krusial adalah potensi penyimpangan prosedur operasional yang memungkinkan kereta masuk ke jalur yang masih terisi, gangguan teknis seperti kegagalan sistem pengereman, hingga faktor manusia seperti menurunnya konsentrasi masinis.

    Joni juga menyampaikan duka mendalam atas insiden yang menimbulkan korban jiwa tersebut. Ia menilai kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi operator maupun regulator transportasi.

    “Evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh seperti pembenahan dan peningkatan pembinaan SDM, penerapan prosedur operasional yang ketat, serta memastikan kehandalan sarana dan prasarana,” imbuhnya.

    Baca juga: Jumlah Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, PT KAI: 7 Tewas dan 81 Luka-luka

    Menurutnya, sektor transportasi pada dasarnya adalah bisnis yang mengutamakan keselamatan dan pelayanan, sehingga tidak boleh ada toleransi terhadap risiko yang berujung korban jiwa.

    Ia menekankan bahwa pencegahan kecelakaan kereta api membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari aspek teknologi, prosedur, faktor manusia, hingga pengawasan regulasi yang ketat.

    Di sisi lain, Joni mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Kereta Api Indonesia (Persero) bersama operator KRL dalam menangani insiden, khususnya dalam proses evakuasi korban serta penanganan rangkaian kereta yang terdampak.

    Baca juga: 19 Perjalanan Kereta Api Dibatalkan Imbas Tabrakan di Bekasi Timur, Ini Daftarnya

    Meski demikian, ia mendorong agar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera melakukan investigasi secara menyeluruh dan transparan guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan serta mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

    “Pada dasarnya bisnis transportasi adalah bisnis keselamatan dan pelayanan maka sepatutnya tidak boleh ada korban jiwa, sehingga semua pihak yang terkait wajib berkomitmen agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” ujar dia.

    “Hakikatnya mencegah kecelakaan kereta api memerlukan intervensi berlapis di berbagai bidang, termasuk prosedur operasional, faktor manusia, teknologi, dan pengawasan regulasi,” tegasnya.

    Baca juga: Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi Tewaskan 6 Orang, Pengamat: Bisa Masuk Pidana

    Sebagai informasi, insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin malam (27/4/2026). Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 20.55 WIB itu melibatkan rangkaian KRL yang tengah berhenti dan kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta jarak jauh.

    Berdasarkan kronologi awal, KRL Commuter Line terpaksa berhenti setelah terjadi gangguan di jalur, yakni adanya mobil taksi yang tertabrak di perlintasan sebidang di sekitar Bulak Kapal. Saat kondisi kereta masih tertahan, KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya Pasar Turi melaju dan menabrak bagian belakang rangkaian KRL.

    Benturan keras tak terhindarkan. Lokomotif KA Argo Bromo Anggrek menghantam gerbong terakhir KRL hingga menyebabkan kerusakan parah, terutama pada gerbong khusus perempuan yang berada di posisi paling belakang. Bagian gerbong dilaporkan ringsek hingga menyulitkan proses evakuasi penumpang.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS