Penularan Campak Bisa Terjadi tanpa Disadari, Ini Penjelasan Dokter - Republika
Penularan Campak Bisa Terjadi tanpa Disadari, Ini Penjelasan Dokter
Anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap campak.
Rep: Gumanti Awaliyah

Republika/Wihdan Hidayat Siswa kelas 1 mengikuti imunisasi Difteri Tetanus (DT) saat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahap Dua di SD Masjid Syuhada, Yogyakarta, Jumat (16/12/2022). Tenaga Kesehatan dari Puskesmas Gondomanan II menyuntikkan vaksin DT untuk siswa kelas 1, sedangkan untuk kelas 2 dan 5 diberikan vaksin Tetanus Difteri (Td) penguat. Program BIAS ini untuk membangun kekebalan tubuh dan membebaskan siswa sekolah dari penyakit campak, difteri, dan tetanus.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menyentuh bayi maupun anak-anak pada musim libur Lebaran. Imbauan ini disampaikan sebagai upaya mencegah penularan campak yang saat ini masih banyak ditemukan.
Merujuk data Kemenkes, hingga pekan ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan enam kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Sponsored
Merespons hal ini, dokter spesialis penyakit dalam dr Kasim Rasjidi menyatakan bahwa infeksi campak memang perlu jadi perhatian. Terlebih, gejala awal campak sering kali sulit dikenali karena mirip dengan penyakit lain.
"Gejala awalnya mungkin sangat mirip dengan bapil (batuk pilek-Redaksi), DBD atau cacar air. Jadi sering kali tak dikenali di awal. Perbedaan gejala biasanya baru terlihat jelas ketika ruam khas campak mulai muncul di kulit," kata dr Kasim saat dihubungi Republika, Senin (9/3/2026).
Menurut dr Kasim, virus campak sangat mudah menular. Penularan bahkan bisa terjadi tanpa disadari, karena pasien yang masih di fase demam ringan dan belum menunjukkan ruam kulit sudah dapat menularkan virus kepada orang lain.
"Penularan campak bisa terjadi dari gejalanya mash demam ringan sampai ruam kulit mereda. Maka dari itu, anjuran Kemenkes sudah sangat baik, untuk mencegah risiko penularan," kata dr Kasim.
Dia mengatakan anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap campak karena sistem kekebalan tubuh mereka mash dalam tahap perkembangan. Risiko juga meningkat jika anak belum mendapatkan imunisasi campak secara optimal atau tiga kali.
Selain itu, penularan virus campak juga sangat cepat karena dapat menyebar melalui udara dalam bentuk droplet. Apabila anak terkena campak, kata dr Kasim, orang tua disarankan melakukan isolasi mandiri di rumah serta memastikan asupan cairan anak tetap tercukupi
"Orang tua juga perlu memantau kondisi anak, termasuk memperhatikan frekuensi buang air kecil sebagai indikator kecukupan cairan," kata dia.
Halaman 2 / 3
Dokter Kasim mengatakan, pemantauan warna urine pada anak yang mengonsumsi vitamin perlu diperhatikan secara cermat. Hal ini karena vitamin, terutama vitamin A, dapat membuat warna urine menjadi lebih kuning sehingga terkadang menyulitkan penilaian kondisi hidrasi.
Dari sisi nutrisi, anak yang sedang terkena campak kerap mengalami penurunan nafsu makan. Ini terjadi karena infeksi virus kerap menimbulkan gangguan pada asam lambung maupun fungsi pencernaan.
"Untuk asupan terbaik jika anak kena campak adalah buah lokal segar, bisa diberikan dalam bentuk potongan atau diblender. Ini bisa membantu anak pulih," kata dia.
Pola peningkatan campak saat libur
Sebelumnya, pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan kebiasaan menyentuh bayi maupun anak-anak, khususnya saat berkumpul bersama keluarga, perlu dihindari karena dapat meningkatkan potensi penularan penyakit campak.“Kebiasaan menyentuh bayi maupun balita saat kita kumpul-kumpul, terutama saat Lebaran, sebaiknya memang dikurangi atau bahkan dihindari karena risiko penularan tinggi,” kata Andi dalam konferensi pers Update Kasus Campak di Indonesia yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, dikutip pada Ahad (8/3/2026).
Dia juga mengimbau individu agar tidak melakukan aktivitas berkumpul atau berkerumun apabila memiliki tanda maupun gejala yang mengarah pada campak. Individu dengan gejala demam maupun ruam kemerahan, kata dia, sebaiknya menghindari kontak dengan individu sehat dan segera melakukan isolasi mandiri di rumah.
“Khusus kepada individu yang memiliki gejala demam, ada tanda-tanda suspek campak seperti ruam kemerahan, sebaiknya tidak kumpul-kumpul, kemudian tidak pergi ke tempat-tempat, termasuk tempat wisata maupun tempat keramaian lainnya. Sebaiknya di rumah saja,” kata Andi.
Dia menilai pola peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir kerap berkaitan erat dengan periode libur panjang yang memicu aktivitas berkumpul masyarakat. “Kami perhatikan ada hubungan antara kejadian kasus ini dengan adanya perayaan-perayaan yang bersifat berkumpul. Kami melihat tren selama lima tahun terakhir. Kasus cenderung mulai meningkat pada awal tahun, kemudian menurun, dan akan naik lagi sekitar Agustus, September, Oktober, dan November,” ujarnya.
arrow_forward_ios
Baca selengkapnya
00:00
00:02
01:32
Halaman 3 / 3
Karena itu, ia kembali mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, serta mengurangi kontak dengan individu sehat. “Apabila ada anggota keluarga atau anak sakit, maka segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kurangi kontak dengan orang sehat untuk mencegah penularan,” ujarnya.
Gejala campak
Dokter umum RS Sari Asih Cipondoh dr Putri Mutiara Sari mengatakan gejala campak sering kali menyamar sebagai flu biasa di tahap awal diikuti panas tinggi dan biasanya baru muncul tujuh hingga 14 hari setelah anak terpapar virus. Setelah flu menyerang anak, kemudian diikuti kombinasi gejala lainnya seperti demam drastis yang bisa melonjak tajam hingga menyentuh angka 40 derajat Celsius. Lalu gejala pernapasan dan mata dengan kondisi batuk kering, hidung tersumbat serta mata yang memerah dan berair.
Gejala lainnya adalah bintik koplik sebagai tanda khas di area dalam mulut yakni pipi bagian dalam. Jika ada bintik putih keabu-abuan dengan dasar merah maka itu sebagai tanda kuat campak yang muncul 1-2 hari sebelum ruam luar terlihat.
"Sedangkan untuk ruam merah yang menyebar biasanya muncul pertama kali di area wajah dan belakang telinga, lalu turun menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki dalam waktu sekitar satu minggu," kata dr. Putri Mutiara Sari di Tangerang.
Apabila telah diketahui terdiagnosis campak, maka fokus utama adalah menjaga kenyamanan dan mempercepat pemulihan dengan istirahat total dan isolasi untuk memutus rantai penularan. Cegah dehidrasi sebab demam tinggi dan sariawan sering membuat anak malas minum.
Pemberian air putih, sup hangat atau jus buah secara rutin. Lalu diikuti juga pemberian obat penurun panas sesuai anjuran dokter. "Hindari penggunaan aspirin pada anak karena risiko komplikasi fatal," kata dia.
Jika demam tinggi tak kunjung reda dalam tiga hari maka segera membawa anak ke dokter. Hal lain yang penting untuk segera dirujuk ke fasilitas kesehatan adalah bibir sangat kering, jarang buang air kecil. Gangguan pernapasan seperti sesak napas atau nyeri dada. Lalu anak tampak sangat lemas, tidak sadar, atau mengalami kejang.
"Tanpa penanganan medis yang tepat, campak dapat berkembang menjadi infeksi telinga, paru-paru basah hingga ensefalitis radang otak," ujarnya.
sumber : Antara
Berita Terkait
Kisah Azizah, Bocah TK di Jogja Rawat Ayah Sakit Tumor Sambil Ikut Mencari Rongsok
Kabar Jogja - 20 April 2026, 19:29
Campak pada Anak: Ancaman Serius yang Kerap Diremehkan, Ini Penjelasan Pakar FKK UMJ
Health - 20 April 2026, 16:51
Izin Terbit, Kemenkes Prioritaskan Vaksinasi Campak Ratusan Ribu Nakes
Nasional News - 09 April 2026, 10:07
Memilih Susu Formula Bukan Sekadar Merek: Fokus pada Komposisi dan Mutu
Health - 09 April 2026, 07:54
Suspek Campak di Jateng Melonjak Jadi 2.188 Kasus, Tertinggi di Kudus
Jateng - 09 April 2026, 01:54