Perang Iran Dorong Subsidi BBM di ASEAN Cetak Rekor Tertinggi - SindoNews
Perang Iran Dorong Subsidi BBM di ASEAN Cetak Rekor Tertinggi
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Jum'at, 17 April 2026 - 21:10 WIB
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak global serta membebani anggaran negara-negara ASEAN. FOTO/AP
JAKARTA - Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mendorong lonjakan harga minyak global serta membebani anggaran negara-negara ASEAN. Dampaknya, subsidi bahan bakar minyak (BBM) di kawasan meningkat tajam hingga mencetak rekor baru.
Research Universitas Kebangsaan Malaysia menyebut konflik tersebut telah berkembang menjadi krisis strategis bagi kawasan. "Perang AS-Israel melawan Iran bukan hanya konflik Asia Barat, tapi juga krisis strategis ASEAN," ujar analis dari Universitas Kebangsaan Malaysia seperti dikutip Bernama, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non Subsidi di Depan Mata, Ini Bocorannya
Penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari disebut telah mengganggu sekitar seperempat pasokan minyak mentah dunia yang melalui jalur laut. Kondisi ini memicu kenaikan harga energi di negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak.
Dampak paling terasa terjadi pada anggaran negara. Di Malaysia, subsidi BBM diperkirakan mencapai 7 miliar ringgit atau sekitar USD2,26 miliar hanya untuk April, meningkat tajam dibandingkan sebelum konflik.
Gulfnews melaporkan, Indonesia menghadapi tekanan serupa sebagai importir bersih minyak. Pemerintah memproyeksikan defisit anggaran 2026 mendekati batas maksimal 3 persen dari produk domestik bruto, dengan potensi pelebaran jika harga minyak terus meningkat.
Di Thailand, Dana Bahan Bakar Minyak tercatat mengalami defisit hingga puluhan miliar baht, sementara pemerintah menyiapkan langkah darurat untuk menjamin pembiayaan jika tekanan berlanjut.
Baca Juga: Kubu Garis Keras Makin Desak Iran Membuat Bom Nuklir untuk Melawan AS-Israel
Sejumlah lembaga riset menilai kondisi ini bukan hanya krisis jangka pendek. Gangguan pasokan energi global, termasuk minyak dan gas alam cair, berpotensi memperdalam kerentanan struktural kawasan terhadap ketergantungan impor energi.
Laporan dari Trends Research berbasis Uni Emirat Arab (UEA) menggambarkan situasi ini sebagai krisis ekonomi signifikan, mencatat bahwa konflik telah mengganggu hingga 20% pasokan minyak global dan hingga 30% pasokan gas alam cair. Filipina, yang mengimpor hampir seluruh minyak mentahnya, sekitar 98% dari Timur Tengah mengalami lonjakan harga bensin hingga 76%.
Para analis menilai negara-negara ASEAN perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi pasokan, penguatan infrastruktur regional, serta reformasi kebijakan energi jangka panjang.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Mohamed Salah Sukses Cetak Rekor Unik di Liga Champions