tirto.id - Rusia dilaporkan telah mengutarakan kesiapannya untuk menampung uranium yang diperkaya milik Iran. Kremlin mengusulkan agar hal tersebut jadi bagian dari perjanjian perdamaian masa depan dengan Amerika Serikat (AS).

Seturut The Moscow Times, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa usulan Rusia untuk menampung uranium Iran tetap berlaku. Sebelumnya, usulan ini telah diutarakan Rusia berulang kali.

"Usulan ini dibuat oleh Presiden Putin dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat dan negara-negara regional. Tawaran tersebut masih berlaku, namun belum ditindaklanjuti," kata Peskov pada Senin (13/4/2026).

Dalam pernyataannya itu, Peskov juga menyebut bahwa Rusia siap memberikan dukungan apa pun untuk membantu meredakan krisis yang terjadi di Asia Barat.

Pernyataan itu keluar sehari setelah gagalnya perundingan damai antara Iran dan AS di Islamabad, Pakistan pada Minggu (12/4/2026). Pembicaraan tentang program nuklir Iran menjadi salah satu penghambat utama dalam negosiasi diplomatik itu.

Menukil CNN, skema pemindahan cadangan uranium yang telah diperkaya memang jadi salah satu poin ketidaksepakatan Iran dan AS dalam perundingan di Islamabad. Iran dilaporkan memiliki cadangan uranium yang telah sangat diperkaya mencapai 400 kg.

Selain itu, kedua negara yang berperang itu juga masih tak sepaham tentang kesepakatan jeda pengayaan uranium Iran. AS disebut ingin Teheran melakukan jeda selama 20 tahun, sementara Iran ingin jeda berlangsung selama lima tahun.

Melansir Al Jazeera, Rusia sebelumnya telah berulang kali menawarkan untuk jadi tempat penampungan uranium Iran. Kremlin menyatakan siap untuk menampungnya untuk diproses dan dikembalikan dalam bentuk bahan bakar nuklir sipil.

Akan tetapi, Iran belum menerima usulan Kremlin tersebut. Kini peluang Iran mengekspor cadangan uranium ke Rusia kembali mengemuka.