Profil Margono Djojohadikusumo, Kakek Prabowo Subianto yang Bukan Orang Biasa
Profil Margono Djojohadikusumo, Kakek Prabowo Subianto yang Bukan Orang Biasa
Margono Djojohadikusumo bersama cucu-cucunya, Prabowo (kanan atas) (Foto: Wikipedia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
KecilBesar
Margono Djojohadikusumo adalah salah satu tokoh penting di balik berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI), sekaligus ekonom yang berkontribusi dalam pembangunan awal perekonomian Indonesia.
Selain itu, Margono Djojohadikusumo juga dikenal sebagai kakek dari Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto.
Biodata Margono Djojohadikusumo
- Nama lengkap: Margono Djojohadikoesoemo
- Tempat, tanggal lahir: Banyumas, 16 Mei 1894
- Tempat, tanggal wafat: Jakarta, 25 Juli 1978
- Orang tua: Raden Tumenggung Mangkuprodjo
- Pasangan: Siti Katoemi Wirodihardjo
- Anak-anak: 5
- Cucu: Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, Bianti Djiwandono, Maryani Djojohadikusumo
- Pendidikan: Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren
- Pekerjaan: Pendiri BNI, Ekonom
Margono Djojohadikusumo lahir di Banyumas pada 16 Mei 1894. Ia merupakan cicit dari Raden Tumenggung Banyak Lebar atau Panglima Banyakwide, seorang pengabdi setia Pangeran Diponegoro.
Mengikuti silsilah keluarga, Margono bisa disebut sebagai seorang bangsawan yang beruntung bisa mengenyam pendidikan hingga ke jenjang tinggi.
Pada 1900, Margono menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS) dan lulus pada 1907.
Ia kemudian melanjutkan studi di Klein Ambtenaar sekolah pengawai negeri atau Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang, selama 4 tahun.
Margono menikah dengan Siti Katoemi Wirodihardjo pada 1915. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai lima orang nak, yaitu Soemitro, Soekartini, Miniati, Subianto, dan Sujono.
Namun, Subianto dan Sujono termasuk salah satu orang yang gugur dalam pertempuran Lengkong bersama Daan Mogot.
Sementara Soemitro, selaku ekonomi yang menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri, Menteri Keuangan Orde Lama, merupakan ayah dari Prabowo Subianto.
Kisah Margono Djojohadikusumo
Pada 1912, Margono Djojohadikusumo mengawali perjalanan karier sebagai juru tulis di kantor kejaksaan yang berlokasi di Cilacap.
Sembari bekerja, ia menyempatkan diri untuk mengikuti pelatihan sebagai pejabat Volkscredietwezen atau pegawai dinas.
Berkat pelatihan tersebut, Margono dipromosikan sebagai pegawai dinas di Madiun dan beberapa kota besar lainnya seperti Malang dan Jakarta.
Kinerja Margono yang sangat memuaskan membuatnya mendapat kesempatan untuk pergi ke Belanda sebagai perwakilan dari Indonesia oleh Kementerian Urusan Jajahan.
Selama bekerja di sana, Margono belajar banyak hal tentang pemerintahan Hindia Belanda.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Margono kembali ke Indonesia dan bekerja di Departemen Urusan Ekonomi hingga Jepang menduduki Indonesia pada 1942.
Pada 1945, setelah Indonesia Merdeka, Margono mendapat mandat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung atau DPA yang tugasnya memberikan nasihat strategis kepada presiden dan wakil presiden.
Di sinilah, Margono turut berkontribusi dalam penyelesaian masalah ekonomi negara dengan membentuk Bank Negara Indonesia (BNI) yang berfungsi sebagai bank sirkulasi.
Sebagai sosok yang mencetuskan ide tersebut, membuat Margono ditunjuk sebagai Direktur Utama BNI.
Selain mendirikan BNI, ia juga menjadi perwakilan diplomasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar atau KMB.
0 suka
0 bookmark
![]()
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Share




