Sejarah Terburuk! Indonesia Gugur di Fase Grup Thomas Cup untuk Pertama Kalinya - Inilah
Sejarah Terburuk! Indonesia Gugur di Fase Grup Thomas Cup untuk Pertama Kalinya
KecilBesar
Mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan kini menjadi kenyataan pahit. Tim Thomas Indonesia resmi tersingkir di fase grup Piala Thomas 2026, mengukir sejarah kelam sebagai kegagalan terburuk Tim Merah Putih sepanjang keikutsertaannya di turnamen beregu putra paling bergengsi tersebut.
Kepastian itu didapat setelah Indonesia dilumat Prancis 0-4 di laga penentu Grup D di Forum Horsens, Denmark, Selasa atau Rabu (29/4/2026) dini hari WIB yang kini masih memainkan laga terakhir Fajar Alfian/Muhammad Shohibul melawan Fikri/Christo Popov/Toma Junior Popov yang tak bisa lagi merubah posisi Indonesia. Sebelumnya, hasil terburuk Indonesia di Thomas Cup hanya tersingkir di babak perempat final pada edisi 2012—sangat jauh dari tradisi sebagai juara 14 kali.
Jojo dan Alwi Tumbang, Sinyal Bahaya Mengemuka
Petaka diawali dari pundak tunggal pertama Jonatan Christie. Tampil di partai pembuka, Jojo gagal mengimbangi permainan eksplosif Christo Popov dan tumbang dua gim langsung 19-21, 14-21.
Beban berat lalu pindah ke Alwi Farhan. Sayangnya, juara Dunia Junior 2023 itu tak mampu meredam pukulan keras Alex Lanier dan menyerah 16-21, 19-21. Kekalahan ini membuat Indonesia tertinggal 0-2 dengan tekanan yang kian mencekik.
"Karena memang sekarang posisinya kami juga membutuhkan kemenangan, rasa itu cukup menghantui saya. Dan saya lebih merasakan pressure," ungkap Alwi dalam keterangan resmi PP PBSI.
Alwi menilai pola permainan Lanier sebenarnya tak banyak berubah, namun power pukulan lawan menjadi pembeda utama.
"Hari ini tidak terlalu berbeda pola yang diterapkan lawan tapi dia power-nya sangat besar ya, jadi antisipasinya tadi saya beberapa kali lepas," ujarnya.
"Dia banyak mendapatkan poin dari situ, saya harus perbaiki untuk ke depan," imbuh Alwi.

Drama Tiga Gim Ginting Berakhir Tragis
Asa terakhir Indonesia bertumpu pada pengalaman Anthony Sinisuka Ginting. Tampil di tunggal ketiga melawan Toma Junior Popov, Ginting menyajikan perlawanan paling sengit malam itu.
Pertarungan berjalan ketat sejak gim pertama. Ginting sukses mengamankan gim pembuka dengan skor tipis 22-20, sempat menyalakan harapan Indonesia. Namun, Toma Junior membalas di gim kedua dengan kemenangan 21-15.
Drama puncak tersaji di gim penentu. Kedua pemain saling kejar angka hingga skor mencapai deuce. Sayangnya, Ginting kalah tipis 20-22, sekaligus mengunci kekalahan Indonesia 0-3 dan memastikan Tim Garuda tersingkir lebih cepat dari turnamen.
Sabar/Reza Tutup Pesta Pahit
Meski kepastian kekalahan sudah di tangan, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani tetap diturunkan di partai keempat untuk mendapatkan tempat runner up di grup D. Sayangnya, ganda Merah Putih ini juga tak mampu memberi sedikit penghiburan.
Sabar/Reza tumbang dua gim langsung 19-21, 19-21 dari Eloi Adam/Leo Rossi, mengubah skor menjadi 0-4 dan mengunci dominasi total Prancis. Pertandingan kelima yang seharusnya mempertemukan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dengan Christo Popov/Toma Junior Popov pun tak lagi memengaruhi hasil akhir.
Akhir dari Era Dominasi Indonesia di Thomas Cup
Tersingkir di fase grup adalah sejarah baru yang menyakitkan. Indonesia—negara dengan koleksi 14 trofi Thomas Cup, sebanyak tiga kali berturut-turut dari 1958-1964 dan paling baru pada 2020—kini harus menerima predikat sebagai gugur paling cepat dalam sejarah keikutsertaannya.
Hasil ini sekaligus menjadi alarm besar bagi PP PBSI. Generasi emas bulu tangkis Prancis—dipimpin Christo Popov, Alex Lanier, dan Toma Junior Popov—tampil sebagai kuda hitam yang sukses menumbangkan Indonesia. Sebelumnya, mereka juga memenangi Kejuaraan Beregu Eropa 2026 untuk pertama kalinya.
Bagi Tim Garuda, evaluasi total menjadi keharusan. Ketergantungan pada nama-nama lama dan minimnya regenerasi pemain tunggal menjadi sorotan utama setelah hasil mengecewakan ini. Sementara di nomor ganda, hilangnya konsistensi pasangan utama turut menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dibenahi PBSI sebelum ajang berikutnya.
Tim Garuda kini harus menelan pil pahit dan pulang lebih cepat dari Denmark. Sejarah baru telah ditulis—dan sayangnya, bukan dengan tinta emas.