0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Selat Hormuz Masih Bergejolak, Stok Minyak Global Dekati Rekor Terendah - Tribunnews

    9 min read

     

    Selat Hormuz Masih Bergejolak, Stok Minyak Global Dekati Rekor Terendah

    Gangguan di Selat Hormuz membuat pasokan minyak dunia menyusut.

    EPA Foto udara menunjukkan sebuah kapal tanker di depot bahan bakar Aral di kilang minyak Ruhr Oel milik BP Gelsenkirchen GmbH di Gelsenkirchen, Jerman, 17 Maret 2026.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Persediaan minyak mentah global dilaporkan mendekati level terendah dalam sejarah seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah yang mengganggu lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz. Hal ini disampaikan analis komoditas Goldman Sachs.

    Dilansir dari Oilprice.com pada Rabu (22/4/2026), Goldman Sachs memperingatkan, bahkan jika aliran minyak melalui jalur tersebut mulai membaik pada akhir bulan ini, penurunan persediaan tetap akan berlanjut. Hal itu sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal.

    Analis menyebutkan, meskipun Selat Hormuz kembali dibuka pada Mei, penyusutan stok minyak global akan terus berlangsung hingga Mei bahkan Juni.

    Perang yang berlangsung sejauh ini telah menyebabkan produsen di Timur Tengah kehilangan produksi hingga 13 juta barel per hari, khusus untuk minyak mentah. Sementara itu, ekspor gabungan minyak mentah dan produk olahan dilaporkan turun sekitar 20 juta barel per hari.

    Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, sebelumnya menyatakan lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut mengalami kerusakan, yang memperparah situasi.

    Di sisi lain, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula potensi kehilangan produksi minyak. Lembaga keuangan Nomura sebelumnya memperkirakan tambahan kehilangan produksi sebesar 2,3 juta barel per hari pada Maret.

    Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, produksi minyak Timur Tengah tercatat turun hingga 9,3 juta barel per hari atau setara dengan tekanan pasokan sebesar 57 persen.

    Sejumlah analis memperkirakan pemulihan produksi tidak akan berlangsung cepat. Mengembalikan produksi ke tingkat normal diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga akhir tahun.

    Menurut Birol, pemulihan penuh produksi minyak di kawasan Timur Tengah bahkan dapat memakan waktu hingga dua tahun.

    Ia menambahkan, waktu pemulihan pasokan akan berbeda-beda di setiap negara. Irak, misalnya, diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan produksi ke level sebelum perang dibandingkan Arab Saudi.

    arrow_forward_ios

    Baca selengkapnya

    00:00

    00:05

    01:18

    Berita Terkait

    Rudal Iran Bertuliskan Fasilitas Gas Terbesar Dunia di Qatar Sebagai Target Picu Reaksi Dunia Arab

    Dunia - 2 jam yang lalu

    Menteri Angkatan Laut Amerika Mendadak Mengundurkan Diri di Saat Genting, ini Penjelasan Pentagon

    Internasional - 2 jam yang lalu

    Iran tidak akan Buka Selat Hormuz Selama AS Masih Terapkan Blokade Maritim

    Internasional - 2 jam yang lalu

    Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan di Teluk Memanas

    Internasional - 11 jam yang lalu

    Gubernur BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tahan Hadapi Gejolak Global, Ini Alasannya

    Finansial - 13 jam yang lalu

    Komentar
    Additional JS