0
News
    Home Bank Indonesia Berita Featured Spesial

    Gubernur BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tahan Hadapi Gejolak Global, Ini Alasannya - Republika

    10 min read

     

    Gubernur BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tahan Hadapi Gejolak Global, Ini Alasannya

    Berbagai kebijakan moneter dan makroprudensial disiapkan untuk menjaga stabilitas.

    Rep: Eva Rianti

    Eva Rianti/Republika Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menanggapi lebih lanjut mengenai dampak geopolitik yang menyebabkan tingginya ketidakpastian ekonomi global terhadap Indonesia. Menurut dia, ekonomi Indonesia terbilang tahan atau ‘kebal’ terhadap gejolak global tersebut.

    “Kami tegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi dampak dari geopolitik, termasuk perang Timur Tengah. Fundamental ekonomi kita kuat, sehingga ketahanan eksternal kita juga tetap kuat,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara daring, Rabu (22/4/2026).

    Fundamental ekonomi yang diklaim kuat tersebut terlihat dari inflasi yang rendah di kisaran 2,5±1 persen, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 5 persen, serta nilai tukar rupiah yang cenderung stabil. Selain itu, pertumbuhan kredit perbankan yang berlanjut, kondisi neraca pembayaran yang mencatatkan defisit transaksi berjalan yang rendah, serta cadangan devisa yang kuat.

    Perry memastikan terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan menjalankan berbagai langkah dalam menjaga kestabilan ekonomi agar tetap kuat serta pertumbuhan ekonomi tetap positif.

    “Dengan memperhitungkan dampak-dampak dari perang Timur Tengah, termasuk harga minyak, kemudian menguatnya dolar AS, demikian juga yield US Treasury yang tinggi dan aliran modal, oleh karena itu langkah-langkah bersama terus didiskusikan dan juga sudah dilakukan,” ujar dia.

    Langkah-langkah tersebut di antaranya mengenai delapan butir transformasi budaya kerja yang ditetapkan oleh Pemerintah pada Maret 2026 lalu, di antaranya penerapan work from anywhere (WFA), hemat energi, dan penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Termasuk juga percepatan transisi energi nasional yang mencakup percepatan pembangkit listrik tenaga surya, konversi impor bahan bakar minyak (BBM) menjadi kendaraan listrik, dan program biofuel termasuk B50.

    “Langkah-langkah ini sangat tepat dan akan memperkuat stabilitas ekonomi kita serta defisit fiskal yang tetap dijaga rendah di bawah 3 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Ini adalah langkah-langkah yang telah ditempuh dan kita harus terus mendukung langkah-langkah yang akan ditempuh oleh Pemerintah, memastikan ketahanan ekonomi kita kuat dan fundamental ekonomi kita kuat,” tegasnya.

    arrow_forward_ios

    Baca selengkapnya

    00:00

    00:03

    01:22

    Berita Terkait

    QRIS Cross Border Indonesia-China Resmi Meluncur 30 April 2026

    Finansial - 43 menit yang lalu

    Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Merah Putih Dinilai Berisiko, Ini Catatan CORE

    Bisnis - 1 jam yang lalu

    Rudal Iran Bertuliskan Fasilitas Gas Terbesar Dunia di Qatar Sebagai Target Picu Reaksi Dunia Arab

    Dunia - 2 jam yang lalu

    Menteri Angkatan Laut Amerika Mendadak Mengundurkan Diri di Saat Genting, ini Penjelasan Pentagon

    Internasional - 2 jam yang lalu

    Iran tidak akan Buka Selat Hormuz Selama AS Masih Terapkan Blokade Maritim

    Internasional - 2 jam yang lalu

    Komentar
    Additional JS