Selat Hormuz Masih Bergejolak, Stok Minyak Global Dekati Rekor Terendah - Tribunnews
Selat Hormuz Masih Bergejolak, Stok Minyak Global Dekati Rekor Terendah
EPA Foto udara menunjukkan sebuah kapal tanker di depot bahan bakar Aral di kilang minyak Ruhr Oel milik BP Gelsenkirchen GmbH di Gelsenkirchen, Jerman, 17 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Persediaan minyak mentah global dilaporkan mendekati level terendah dalam sejarah seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah yang mengganggu lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz. Hal ini disampaikan analis komoditas Goldman Sachs.
Dilansir dari Oilprice.com pada Rabu (22/4/2026), Goldman Sachs memperingatkan, bahkan jika aliran minyak melalui jalur tersebut mulai membaik pada akhir bulan ini, penurunan persediaan tetap akan berlanjut. Hal itu sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal.
Analis menyebutkan, meskipun Selat Hormuz kembali dibuka pada Mei, penyusutan stok minyak global akan terus berlangsung hingga Mei bahkan Juni.
Perang yang berlangsung sejauh ini telah menyebabkan produsen di Timur Tengah kehilangan produksi hingga 13 juta barel per hari, khusus untuk minyak mentah. Sementara itu, ekspor gabungan minyak mentah dan produk olahan dilaporkan turun sekitar 20 juta barel per hari.
Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, sebelumnya menyatakan lebih dari 80 fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut mengalami kerusakan, yang memperparah situasi.
Di sisi lain, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula potensi kehilangan produksi minyak. Lembaga keuangan Nomura sebelumnya memperkirakan tambahan kehilangan produksi sebesar 2,3 juta barel per hari pada Maret.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, produksi minyak Timur Tengah tercatat turun hingga 9,3 juta barel per hari atau setara dengan tekanan pasokan sebesar 57 persen.
Sejumlah analis memperkirakan pemulihan produksi tidak akan berlangsung cepat. Mengembalikan produksi ke tingkat normal diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga akhir tahun.
Menurut Birol, pemulihan penuh produksi minyak di kawasan Timur Tengah bahkan dapat memakan waktu hingga dua tahun.
Ia menambahkan, waktu pemulihan pasokan akan berbeda-beda di setiap negara. Irak, misalnya, diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan produksi ke level sebelum perang dibandingkan Arab Saudi.
Halaman 2 / 2
Ketahanan Energi Indonesia
Indonesia menunjukkan daya tahan yang tangguh di tengah gejolak energi global. Dalam laporan terbaru bank investasi global JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara paling tangguh menghadapi lonjakan harga energi dunia.
Laporan tersebut menganalisis 52 negara dengan konsumsi energi terbesar, yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi global. Dalam kajian ini, negara-negara produsen energi besar seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab tidak dimasukkan dalam daftar karena memperoleh subsidi signifikan dari produksi domestiknya.
Penelitian ini berfokus pada tingkat sensitivitas suatu negara terhadap lonjakan harga minyak dan gas, serta kekuatan penyangga energinya melalui sumber domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir.
Hasilnya, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam perhitungan total faktor perlindungan, indikator yang mengukur seberapa besar porsi energi suatu negara yang tidak terlalu terpapar gejolak harga minyak dan gas internasional. Posisi Indonesia hanya berada di bawah Afrika Selatan.
Bahkan, ketika mempertimbangkan kombinasi ketahanan energi dan rendahnya ketergantungan impor, Indonesia menempati peringkat ketiga secara global.
Kekuatan utama Indonesia terletak pada sumber daya energinya yang melimpah. Indonesia diuntungkan oleh besarnya produksi batu bara domestik, sehingga lebih tahan terhadap lonjakan harga energi global. Sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia dan produsen gas alam peringkat ke-13, Indonesia memiliki fondasi energi yang cukup kuat.
Produksi gas nasional tercatat mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik pada 2024. Bauran energi Indonesia juga semakin beragam dengan kehadiran energi terbarukan seperti tenaga air, panas bumi, dan biodiesel. Diversifikasi ini membuat sistem energi nasional tidak mudah terguncang hanya karena lonjakan harga satu komoditas.
Laporan itu juga menyoroti sejumlah negara tercatat paling rentan terhadap guncangan energi global, di antaranya Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, hingga Belanda. Negara-negara tersebut memiliki ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas, terutama dari kawasan Teluk.
Menariknya, China justru tergolong relatif tangguh. Dukungan batu bara domestik yang besar serta produksi gas dalam negeri menjadikan China lebih kuat dari perkiraan banyak pihak. Fakta ini menegaskan bahwa diversifikasi energi adalah kunci menghadapi gejolak global.
Negara seperti India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina turut merasakan manfaatnya. Selain itu, perlindungan juga datang dari energi nuklir di negara-negara seperti Prancis, Swedia, Swiss, dan Republik Ceko, serta dari bauran energi terbarukan yang kuat di Brasil, Austria, dan Portugal.
arrow_forward_ios
Baca selengkapnya
00:00
00:05
01:18
Berita Terkait
Rudal Iran Bertuliskan Fasilitas Gas Terbesar Dunia di Qatar Sebagai Target Picu Reaksi Dunia Arab
Dunia - 2 jam yang lalu
Menteri Angkatan Laut Amerika Mendadak Mengundurkan Diri di Saat Genting, ini Penjelasan Pentagon
Internasional - 2 jam yang lalu
Iran tidak akan Buka Selat Hormuz Selama AS Masih Terapkan Blokade Maritim
Internasional - 2 jam yang lalu
Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan di Teluk Memanas
Internasional - 11 jam yang lalu
Gubernur BI Tegaskan Ekonomi Indonesia Tahan Hadapi Gejolak Global, Ini Alasannya
Finansial - 13 jam yang lalu