Serangan Israel Hancurkan RS Terakhir di Lebanon Selatan - Tirto
Serangan Israel Hancurkan RS Terakhir di Lebanon Selatan
Israel masih terus menyerang Lebanon selatan secara keji hingga menghancurkan rumah sakit terakhir di wilayah tersebut.

tirto.id - Serangan terbaru yang dilakukan oleh pasukan Israel pada Rabu (15/4/2026) menyasar Rumah Sakit Pemerintah Tibnin, merupakan satu-satunya rumah sakit yang masih beroperasi di wilayah Lebanon selatan. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah staf medis terluka.
Selain melukai tenaga medis, serangan Israel itu juga merusak instalasi gawat darurat rumah sakit, seperti dilaporkan oleh International Committee of the Red Cross dikutip The National, Kamis (16/4/2026).
Sebagai satu-satunya rumah sakit yang beroperasi di Lebanon Selatan, serangan terhadap layanan kesehatan ini adalah kali kedua sejak eskalasi bergulir di awal Maret 2026.
Mantan Menteri Kesehatan Lebanon, Firass Abiad, menyebut serangan Israel itu tidak hanya menargetkan bangunan rumah sakit namun juga tenaga medis dan kendaraan ambulans di sekitarnya.
Ia menegaskan bahwa fasilitas tersebut merupakan satu-satunya yang masih berfungsi di kawasan selatan yang terus digempur serangan.
“Semalam, Rumah Sakit Pemerintah Tibnin kembali menjadi sasaran. Satu-satunya rumah sakit yang beroperasi di wilayah paling selatan tempat serangan Israel terus berlanjut. Petugas pertolongan pertama dan kendaraan mereka juga menjadi sasaran,” tulis Abiad di akun X @firassabiad.
Konflik ini sendiri merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah. Dampaknya terhadap sektor kesehatan sangat serius, dengan setidaknya 91 tenaga medis dilaporkan tewas sejak konflik kembali memanas, termasuk puluhan yang gugur hanya dalam waktu singkat.
Situasi ini semakin diperburuk oleh pola serangan yang disebut sebagai “triple-tap”, yakni serangan berulang terhadap tim medis yang sedang melakukan evakuasi korban.
Dalam salah satu insiden di wilayah selatan, serangan pertama menargetkan ambulans yang merespons korban, kemudian diikuti dua serangan lanjutan terhadap ambulans lain yang datang membantu, mengakibatkan korban jiwa tambahan di kalangan paramedis.
Pemerintah Lebanon menilai tindakan ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional, bahkan menyebutnya sebagai kejahatan berat karena menghambat tenaga medis menjalankan tugas penyelamatan.
"(Serangan terhadap tenaga medis merupakan) kejahatan keji, yang mencerminkan desakan musuh Israel untuk mencegah paramedis menjalankan tugas mereka," bunyi pernyataan pemerintah Lebanon.
Di sisi lain, Israel mengklaim bahwa fasilitas medis digunakan oleh Hizbullah untuk kepentingan militer.
WHO Sebut RS di Lebanon Kehabisan Stok Perlengkapan Medis
Situasi kemanusiaan di Lebanon memburuk secara drastis setelah gelombang serangan besar-besaran dari Israel yang menyebabkan lonjakan korban dalam waktu singkat.
Menurut World Health Organization (WHO), sejumlah rumah sakit di Lebanon kini berada di ambang kehabisan perlengkapan medis darurat berupa trauma kits, seperti paket penting yang berisi perban, antibiotik, dan anestesi untuk menangani korban luka akibat perang.
Perwakilan WHO di Lebanon, Abdinasir Abubakar, mengungkapkan bahwa persediaan tersebut menipis dengan sangat cepat dan diperkirakan bisa habis hanya dalam hitungan hari jika situasi tidak segera terkendali.
“Beberapa perlengkapan penanganan trauma mengalami kekurangan pasokan dan kita mungkin akan kehabisan dalam beberapa hari ke depan,” kata Dr. Abdinasir Abubakar, perwakilan WHO di Lebanon, kepada Reuters dikutip The Straits Times, Kamis (9/4/2026).
Dalam serangan udara besar Israel pada 8 April, lebih dari 250 orang tewas dan melukai lebih dari 1.000 lainnya, diikuti serangan lanjutan pada hari berikutnya.
WHO memperingatkan bahwa jika situasi serupa kembali terjadi tanpa adanya tambahan pasokan medis, dampaknya bisa sangat fatal. Kekurangan perlengkapan dasar seperti obat bius dan antibiotik tidak hanya menghambat penanganan luka serius, tetapi juga berpotensi meningkatkan angka kematian yang sebenarnya bisa dicegah.
“Jika terjadi lagi bencana massal seperti kemarin, itu akan menjadi malapetaka. Mungkin kita akan kehilangan lebih banyak nyawa hanya karena kita tidak memiliki cukup persediaan,” tambahnya.
Belum diketahui bagaimana stok perlengkapan medis terbaru di Lebanon setelah Israel kembali menyerang RS Tibnin kemarin.