Tak Mau Dianggap Kalah, Trump Ubah Tujuan Perang Iran - Kompas
Tak Mau Dianggap Kalah, Trump Ubah Tujuan Perang Iran
WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai mengubah tujuan dalam perang melawan Iran.
Pergeseran ini dinilai sebagai upaya untuk membuka jalan keluar lebih cepat dari konflik yang terus berkembang.
Sejumlah pengamat menilai perubahan target tersebut memungkinkan Washington mengeklaim keberhasilan tanpa harus menuntaskan seluruh tujuan awal.
Baca juga: 4 Skenario jika Trump Tinggalkan Perang Iran Tanpa Buka Selat Hormuz
Tujuan perang terus berubah
Sejak awal, Trump menyatakan operasi militer besar diluncurkan karena Iran berupaya membangun kembali program nuklir dan mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat mengancam sekutu AS serta wilayah Amerika.
Ia juga sempat menyerukan agar rakyat Iran bangkit menggulingkan pemerintah mereka setelah aksi militer AS selesai.
Beberapa hari kemudian, Trump merinci empat tujuan utama, yakni:
- Menghancurkan stok rudal balistik Iran
- Melumpuhkan angkatan laut Iran
- Mencegah Iran memperoleh senjata nuklir
- Menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok militan proksi
Namun, seiring berjalannya konflik, tujuan tersebut terus berkembang. Washington mulai menyinggung isu lain seperti pembukaan kembali Selat Hormuz hingga potensi menguasai minyak Iran.
Trump juga sempat melontarkan gagasan menyerang Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran sebelum perang.
Ia bahkan menyebut bahwa “perubahan rezim adalah sebuah keharusan, tetapi saya pikir itu akan terjadi dengan sendirinya”, meski sebelumnya hal itu tidak termasuk dalam target resmi.
Baca juga: AS Klaim Negosiasi Jalan, Iran Tetap Menolak dan Ajukan Syarat Baru
Dinilai cari jalan keluar dari perang
Pengamat dari China, sebagaimana dilansir South China Morning Post pada Rabu (1/4/20260), menilai perubahan tujuan ini mencerminkan upaya Trump mencari jalan keluar yang “terhormat” dari konflik.
Zhang Chuchu dari Fudan University menyebut Trump membutuhkan semacam pencapaian untuk membingkai perang sebagai kemenangan.
Sementara itu, Fan Hongda dari Shaoxing University menilai fleksibilitas target memberi ruang bagi AS untuk mengakhiri keterlibatan lebih cepat.
“Saya tidak akan terkejut jika AS menyatakan kemenangan sekarang karena mereka bisa saja mengatakan bahwa mereka telah mencapai tujuannya sehingga AS bisa pergi kapan saja dalam waktu dekat,” ujar Fan.
Ia juga menambahkan bahwa jika perubahan rezim dimaknai sekadar pergantian sebagian pemimpin, maka target tersebut akan lebih mudah dicapai dan bisa menjadi jalan keluar bagi AS.
Baca juga: Trump Kesal Proyek Ballroom di Gedung Putih Disetop, Sebut Tak Pakai Uang Pajak
Israel jadi hambatan utama

Meski AS memberi sinyal ingin meredakan konflik, perbedaan tujuan dengan Israel menjadi kendala besar.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa lebih dari setengah target militer Israel telah tercapai.
Baca juga: AS Serba Kontradiktif, Apakah Trump Sedang Cari Jalan Keluar dari Perang Iran?
“Ini jelas sudah melewati titik tengah. Tetapi saya tidak ingin menetapkan jadwal,” ujarnya.
Dalam pernyataan terpisah, Netanyahu mengatakan bahwa Israel telah berhasil menghancurkan kemampuan Teheran dalam mengembangkan senjata nuklir dan puluhan ribu rudal balistik.
Bagi Israel, tujuan utama adalah melemahkan Iran semaksimal mungkin demi menjaga dominasi militer di kawasan.
Baca juga: Dalih Serang Iran Tak Terbukti, AS Ulangi Kesalahan Invasi Irak?
Zhang menilai Israel bahkan mungkin ingin menyeret AS lebih dalam ke konflik untuk mencapai target tersebut.
Akhir konflik masih sulit tercapai
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa perang hanya bisa diakhiri jika kepentingan rakyatnya terjamin.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, keputusan mengakhiri konflik harus “menjamin keamanan dan kepentingan rakyat Iran.”
Sementara itu, AS masih mengirimkan tambahan pasukan, termasuk sekitar 2.500 marinir dan tiga kapal angkatan laut ke Timur Tengah.
Zhang menilai kompromi cepat akan sulit tercapai. “AS telah mengerahkan marinirnya, dan akan sulit untuk menarik mereka semua. Dalam situasi yang begitu intens, akan sulit bagi AS dan Iran untuk mencapai kompromi,” ujarnya.
Baca juga: Trump Gembar-gembor Menang Perang, Yakinkan Warga AS soal Urgensi Serang Iran
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang