Apa Itu "Homeless Media" yang Viral Usai Isu Dirangkul oleh Bakom RI? - Kompas
Apa Itu "Homeless Media" yang Viral Usai Isu Dirangkul oleh Bakom RI?
JAKARTA, KOMPAS.com - Homeless media tengah menjadi pembicaraan usai pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari.
Qodari mengungkapkan, Bakom kini menjadikan para homeless media yang tergabung New Media Forum sebagai mitra.
"New Media Forum ini sebuah kolaborasi dari beberapa pelaku new media. Jadi dulu namanya dikenal dengan istilah homeless media, tapi teman-teman berusaha bertransformasi menjadi new media," ujar Qodari dalam jumpa pers di kantor Bakom, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Anggota DPR Soroti Risiko Konflik Kepentingan di Balik Upaya Pemerintah Gandeng “Homeless Media”
Sejumlah homeless media yang digandeng oleh Bakom adalah Folkative, Indozone, Dagelan, Indomusicgram, Infipop, Narasi, Muslimvlog, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Menjadi Manusia, GNFI, Creativox, Kok Bisa?, Taubaters, Pandemic Talks, TaubaTers, Kawan Hawa.
Beirut “Lebur” Digempur Israel, Klaim Targetkan Komandan Hizbullah
Kemudian, Folix, Ngomongin Uang, Big Alpha, Good States, Hai Dulu, Proud Project, Vebis, Unframe, Kumpul Leaders, CXO Media, Volix Media, How To Do Nothing, Everless Media, Geometry Media, Folks Diary, Dream, Melodi Alam, NKTSHI, Modestalk, Lead Media, Nalar TV, Mahasiswa dan Jakarta, North West, dan Mature Indonesia.
Menurut Qodari, kerja sama dengan media-media tersebut penting dilakukan agar Bakom dapat menjangkau publik seluas-luasnya.
Baca juga: Bakom Gandeng Homeless Media Jadi Mitra, Ada Folkative, Dagelan, hingga Bapak-Bapak ID
Qodari menambahkan, homeless media harus dirangkul agar dapat meningkatkan kualitas produk para new media seperti media konvensional.
"Jadi justru kalau dijauhi malah susah ngomong kita. Ya kan? Tambah dulu nih silaturahmi kan begitu. Kalau silaturahmi kan nanti poin-poin masukan, saran, itu bisa tersampaikan dengan baik," kata Qodari.
Lantas, apa itu homeless media?
Apa Itu Homeless Media?
Istilah homeless media pertama kali diperkenalkan oleh Eddward Samadyo Kennedy pada 2017.
Homeless media digunakan untuk menggambarkan media yang beroperasi tanpa situs web resmi dan lebih mengandalkan platform media sosial sebagai sarana utama penyebaran konten.
Mengutip ANTARA pada 9 Februari 2026, homeless media merujuk pada praktik produksi dan distribusi informasi yang sepenuhnya bertumpu pada media sosial tanpa didukung struktur kelembagaan pers yang mapan.
Baca juga: Lanjutkan Tradisi di KSP, Qodari Akan Gelar Konferensi Pers Mingguan Bahas Capaian Program Prioritas
Penelitian Geger Riyanto dari Remotivi pada 2024 mengungkap sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan fenomena homeless media, yakni kecepatan penyebaran informasi, kedekatan dengan audiens (proximity), serta sifat partisipatif.
Aspek kecepatan diperoleh karena proses produksi konten dilakukan secara informal dengan tahapan verifikasi yang minim.
Kondisi ini membuat unggahan dapat dipublikasikan lebih cepat dibandingkan mekanisme redaksi media pers konvensional.
Sementara itu, kedekatan dengan audiens dibangun melalui fokus pada isu-isu lokal dan komunitas tertentu. Di sisi lain, sifat partisipatif memungkinkan masyarakat ikut terlibat dalam penyediaan hingga penyebaran informasi di platform digital.
Baca juga: Pigai: Pers dan Pemerintah Saling Jaga Independensi tapi Saling Kolaborasi

Lihat Foto

Lihat Foto
Bantahan Homeless Media Direkrut Bakom
Usai ramai pernyataan Qodari, berbagai homeless media mengeluarkan pernyataan sikap dan membantah direkrut oleh Bakom.
Big Alpha mengeluarkan pernyataan sikap dan menyatakan bahwa mereka merupakan salah satu homeless media yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF).
Dalam pernyataan sikap yang diunggah dalam akun Instagram @bigalphaid, INMF merupakan forum independen yang diinisiasi pada Juli 2025.
"Big Alpha merupakan salah satu anggota INMF," bunyi pernyataan sikap Big Alpha yang diunggah dalam akun Instagram @bigalphaid, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Dewan Pers Khawatirkan Dampak Perjanjian RI-AS bagi Perusahaan Media Massa
Mereka menjelaskan bahwa INMF diinisiasi sejumlah pelaku media baru di Indonesia sebagai wadah komunikasi, kolaborasi, dan advokasi untuk mendorong ekosistem media digital yang sehat, kredibel, dan transparan.
Dalam pernyataan sikapnya itu, Big Alpha juga membantah bahwa mereka direkrut Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
"Tidak benar bahwa Big Alpha direkrut oleh Bakom untuk menjadi mitra dalam menyampaikan atau menjalankan program-program pemerintah," bunyi pernyataan sikap Big Alpha.
Baca juga: Soal RUU Disinformasi, Supratman: Tak Usah Khawatir, Tak Terkait Kebebasan Pers dan Berekspresi
Hal senada juga disampaikan homeless media lain, yakni Pandemic Talks yang membantah direkrut oleh Bakom.
"Pandemic Talks tidak direkrut oleh Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI)," bunyi pernyataan sikap Pandemic Talks dalam unggahan di akun Instagram @pandemictalks, Kamis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang