0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bank Indonesia Berita Featured Spesial

    BI: Harga Barang Berpotensi Naik dalam Tiga hingga Enam Bulan ke Depan - Kompas

    5 min read

     

    BI: Harga Barang Berpotensi Naik dalam Tiga hingga Enam Bulan ke Depan


    JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

    Kenaikan ekspektasi harga tersebut tercermin dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) periode Maret 2026, di tengah proyeksi perlambatan penjualan ritel setelah momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah berakhir.

    Dalam laporan SPE Maret 2026, BI mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Juni 2026 mencapai 175,6, lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 157,4.

    Baca juga: Wall Street Berakhir Bervariasi, Inflasi dan Perang Iran Bikin Nasdaq Tersungkur

    Ilustrasi inflasi. Inflasi adalah. Penyebab inflasi. Inflasi menyebabkan apa.

    Lihat Foto

    Sementara itu, IEH September 2026 tercatat sebesar 163,2, naik dibandingkan Agustus 2026 sebesar 157,2.

    Di Hadapan Xi Jinping, Trump Bungkam Ditanya soal Taiwan

    “Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juni dan September 2026, diprakirakan meningkat,” tulis bank sentral dalam laporan tersebut.

    BI menyebut, peningkatan ekspektasi harga pada Juni 2026 didorong oleh kenaikan harga bahan baku.

    “Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni dan September 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 175,6 dan 163,2, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH Mei dan Agustus 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 157,4 dan 157,2, didorong oleh kenaikan harga bahan baku,” kata BI.

    Baca juga: Inflasi AS Tembus 3,8 Persen, Tertinggi sejak Mei 2023

    Kenaikan ekspektasi harga itu terjadi ketika responden survei memperkirakan penjualan eceran justru melambat dalam beberapa bulan mendatang.

    Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Juni 2026 tercatat sebesar 136,8, turun dari Mei 2026 yang sebesar 147,2. Sementara IEP September 2026 sebesar 137,8, lebih rendah dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 162,4.

    Ilustrasi inflasi.

    Lihat Foto

    BI menyatakan, penurunan ekspektasi penjualan pada Juni 2026 dipengaruhi musim ujian sekolah.

    Adapun penurunan ekspektasi pada September 2026 dipicu normalisasi aktivitas masyarakat setelah tidak adanya cuti bersama maupun agenda besar.

    Baca juga: Data Inflasi AS Jadi Penentu Suku Bunga The Fed, Rupiah Terdesak

    Penjualan eceran Maret 2026 masih tumbuh

    Di sisi lain, penjualan eceran pada Maret 2026 masih mencatat pertumbuhan, baik secara tahunan maupun bulanan.

    Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang mencapai 256,7 atau tumbuh 3,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 6,5 persen (yoy).

    “Pada Maret 2026, IPR tercatat sebesar 256,7. Kinerja tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau secara tahunan,” tulis BI.

    Secara bulanan, IPR Maret 2026 tumbuh 10,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 4,1 persen secara bulanan (month to month/mtm).

    Baca juga: Sompo Soroti Inflasi Medis di Kuartal II 2026, Premi Dijaga Tetap Sehat

    Peringatan Keras Iran Usai Netanyahu Diam-diam ke UEA

    Komentar
    Additional JS