Kisah Kasun Seputar ‘Dispilin’ Pak Yogi, Guru SDN Jipurapah 2 yang Dipecat Bupati Gegara Absensi (1) - duta
Kisah Kasun Seputar ‘Dispilin’ Pak Yogi, Guru SDN Jipurapah 2 yang Dipecat Bupati Gegara Absensi (1)
JOMBANG | duta.co — Rumah itu berdiri persis di seberang gerbang SDN Jipurapah 2. Dari terasnya, hampir seluruh aktivitas sekolah terlihat jelas siswa datang berlarian, guru menuntun barisan pagi, dan lonceng yang menandai dimulainya pelajaran.
Di teras rumah itulah, Jihan Suprendi (25) tumbuh besar. Kini ia menjabat Kepala Dusun Kedungdendeng, Desa Jipurapah. Namun sebelum itu, ia adalah murid yang pernah duduk di bangku kelas, belajar langsung dari seorang guru bernama Yogi Susilo Wicaksono.
Dan dari teras itu pula, selama bertahun tahun, Jihan merasa menyaksikan rutinitas yang tak pernah berubah. “Setiap pagi saya bisa lihat sendiri. Biasanya beliau (Yogi Susilo Wicaksono red.) sudah datang sebelum jam setengah tujuh,” kenangnya, Selasa (5/5).
Ia tak perlu mendengar kabar dari orang lain. Ia melihat dengan mata kepala sendiri. Dari rumahnya, ia melihat Yogi datang. Ia melihat Yogi pulang. Ia melihat bagaimana guru itu sering kali menjadi yang terakhir meninggalkan sekolah saat senja mulai turun di Jipurapah. “Pulangnya sering paling akhir. Kadang sampai sore masih di sekolah,” ujarnya pelan.
Yang diingat Jihan bukan hanya jam datang dan jam pulang. Ia ingat jalan desa yang dulu belum beraspal, becek saat hujan, licin saat dilalui. Ia ingat bagaimana guru itu tetap melintas di jalan yang sama menuju sekolah. “Dulu jalannya rusak. Kalau hujan sulit dilewati. Tapi beliau tetap hadir,” katanya.
Bagi Jihan, kedisiplinan itu bukan cerita. Itu pemandangan harian. Ia memang mengakui, ada masa ketika Yogi tidak terlihat datang ke sekolah. Tapi masa itu, menurutnya, bukan karena mangkir. “Memang pernah tidak masuk karena sakit. Setelah itu kembali mengajar seperti biasa,” tuturnya.
Yang paling ia ingat justru bukan soal kehadiran di kelas, melainkan bagaimana Yogi berbaur dengan warga sekitar. Saat jam istirahat, kadang guru itu menyeberang jalan, duduk sebentar di rumah warga, bercanda ringan, lalu kembali ke sekolah. “Orangnya supel. Suka bercanda. Wali murid juga banyak yang dekat,” katanya.

Karena itulah, ketika kabar pemberhentian Yogi sebagai guru ASN mencuat dan menjadi perbincangan di Kabupaten Jombang, Jihan termasuk yang paling terkejut.
Ia tidak bicara sebagai pejabat dusun. Ia bicara sebagai saksi harian.“Banyak warga heran. Karena yang saya lihat, beliau tetap menjalankan kegiatan mengajar seperti biasa,” ucapnya.
Di teras rumah yang menghadap sekolah itu, Jihan seperti sedang memutar kembali ingatan lama. Tentang pagi-pagi yang sunyi sebelum murid datang. Tentang seorang guru yang sudah hadir lebih dulu dari siapa pun.
Kini, sekolah itu masih berdiri di tempat yang sama. Gerbangnya masih menghadap rumah Jihan. Anak-anak masih datang dan pulang seperti biasa. Namun bagi Jihan, ada satu pemandangan yang hilang dari rutinitas itu: sosok guru yang selama ini ia lihat datang paling awal dan pulang paling akhir.
Ya! Pak Guru Yogi tengah berjuang melawan kebijakan BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Kabupaten Jombang yang telah memecatnya. Ia menilai kebijakan itu sangat tidak fair. Melalui Surat Keputusan (SK) Pemberhentian Dengan Hormat (PDH) yang diteken Bupati Warsubi pada 18 April 2026, ia dtuding mangkir selama 181 hari sepanjang tahun 2025. (din)
Bagaimana reaksi anda?





