Latest Program: Dirut Bulog: Petugas serap gabah tak libur demi perkuat swasembada - atapkitadonasi
Latest Program: Dirut Bulog: Petugas serap gabah tak libur demi perkuat swasembada
Table of Contents
Dirut Bulog: Petugas Serap Gabah Tetap Beroperasi Tanpa Henti untuk Perkuat Swasembada
Latest Program – Jakarta – Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, menjelaskan bahwa petugas yang bertugas menyerap gabah masih berjalan secara terus menerus tanpa henti meski kebijakan kerja dari rumah (WFH) diterapkan dalam beberapa sektor. Hal ini dilakukan untuk memastikan pasokan beras nasional tetap terjaga dan meningkatkan pencapaian swasembada pangan. Dalam wawancara setelah pemotongan hewan kurban di Jakarta pada Jumat lalu, Rizal menegaskan bahwa keberadaan petugas penyerap gabah tidak tergantung pada hari libur karena mereka harus hadir di lokasi panen setiap hari agar hasil pertanian petani bisa terserap secara optimal.
“Kalau petugas yang menyerap gabah, enggak ada WFH dia. Enggak ada tanggal merah dia. Petani tiap hari panen, kalau ada panen ya, dia ada di situ,” ujar Rizal.
Dalam upaya menjaga stabilitas pasokan beras, Bulog juga memperkuat operasional gudangnya dengan menjadwalkan aktivitas 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Ini dilakukan untuk menerima pasokan gabah dari berbagai daerah sentra produksi nasional. Rizal menjelaskan bahwa peningkatan volume gabah yang masuk ke sistem Bulog membuat aktivitas di gudang semakin padat. Arus penyerapan hasil panen petani meningkat secara signifikan selama musim panen tahun ini.
Menurut Rizal, petugas gudang kini hampir tidak memiliki waktu untuk istirahat karena harus terus memproses gabah dan beras dalam jumlah besar setiap hari. Untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan yang meningkat, Bulog terus menambah kapasitas gudang baru setelah sebagian besar gudang yang ada saat ini berkapasitas sekitar 4 juta ton telah penuh. “Sekarang kita cari tambahan (sewa) gudang dengan kapasitas 2 juta ton,” tambahnya.
Kepercayaan Petani Terhadap Bulog
Rizal menyatakan bahwa tingginya penyerapan gabah mencerminkan peningkatan produksi pertanian nasional dan kepercayaan petani terhadap Bulog sebagai penyuplai pangan pemerintah. Kebijakan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 turut berkontribusi pada keberhasilan ini. Inpres tersebut menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen tetap di Rp6.500 per kilogram, dengan kualitas yang telah memasuki usia panen di tingkat petani. Selain itu, Inpres ini menetapkan target pengadaan gabah atau setara beras sebanyak 4 juta ton hingga akhir tahun 2026 untuk penguatan stok cadangan beras pemerintah (CBP).
Dengan adanya Inpres ini, proses penyerapan gabah menjadi lebih selektif dibandingkan masa sebelumnya. Peningkatan pengawasan kualitas menghasilkan stok beras yang lebih baik, sehingga kualitas cadangan pangan nasional dapat terjaga secara optimal. Rizal mengakui bahwa sebelumnya ditemukan praktik petani yang menyerap gabah dengan kualitas buruk, yang menyebabkan penurunan mutu hasil dan merugikan penyimpanan di gudang Bulog. “Dampaknya sekarang bagus, berasnya lebih bagus. Kalau kemarin mohon maaf ada yang rendemennya rendah,” katanya.
Strategi Penyerapan Gabah
Bulog juga memperkuat sistem penyerapan dengan menjemput langsung gabah dari lokasi panen. Untuk menjamin transparansi dan mengurangi praktik kecurangan, perusahaan bekerja sama dengan pendampingan Babinsa (Bintara Pembina Desa) dalam proses ini. Hal ini menciptakan mekanisme yang lebih efektif dalam mengumpulkan hasil panen petani secara cepat dan akurat.
Rizal menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kontribusi tenaga kerja yang tersedia. Meski Bulog hanya memiliki sekitar 4 ribu pegawai organik, perusahaan tetap berusaha memperkuat penyerapan gabah dengan melibatkan tenaga outsourcing. Total pekerja nasional diperkirakan mencapai 10 ribu orang, namun hanya sekitar 3 ribu di antaranya yang dapat diterjunkan langsung ke lapangan untuk mendukung operasional penyerapan di berbagai daerah.
Bulog mencatat bahwa hingga akhir Mei 2026, penyerapan hasil panen petani telah mencapai 2,96 juta ton setara beras, atau 74 persen dari target 4 juta ton untuk tahun ini. Dengan tingkat pencapaian ini, perusahaan BUMN pangan berhasil memperkuat ketahanan pangan nasional dan menjaga stabilitas pasokan. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga akhir Mei 2026 mencapai 5,3 juta ton, yang menjadi basis untuk memastikan kebutuhan beras masyarakat terpenuhi.
Tantangan dan Pencapaian
Menurut Rizal, keberhasilan penyerapan gabah secara rutin meski dalam kondisi pandemi menunjukkan adaptasi yang baik oleh petugas. Di tengah tantangan yang dihadapi, Bulog terus mengoptimalkan sistem operasionalnya, termasuk peningkatan kapasitas gudang dan memperluas jaringan kerja sama dengan mitra swasta. Hal ini menjadi bagian dari strategi untuk mencapai swasembada beras pada 2026.
Keberlanjutan aktivitas penyerapan tidak hanya bergantung pada jumlah pekerja, tetapi juga pada kebijakan pemerintah yang mendukung. Inpres Nomor 4 Tahun 2026 menjadi acuan utama dalam mengatur harga dan kualitas gabah. Dengan adanya aturan ini, Bulog dapat menjaga konsistensi dalam memperkuat stok cadangan beras, sekaligus memastikan distribusi yang adil ke seluruh wilayah.
Sebagai bentuk dukungan, perusahaan juga memperkenalkan sistem penyerapan yang lebih terstruktur. Petugas lapangan diberikan wewenang untuk memastikan proses pengambilan gabah berjalan efisien. Selain itu, pengawasan berkala dilakukan untuk meminimalkan risiko stok beras yang tidak memenuhi standar kualitas. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Bulog sebagai penyedia pangan nasional.
Dengan berbagai langkah yang diambil, Bulog tetap menjadi sentral dalam upaya swasembada beras. Rizal menegaskan bahwa penyerapan tanpa henti dan pengawasan kualitas yang ketat merupakan kunci utama dalam menjaga ketersediaan beras untuk kebutuhan nasional. Meski masih ada tantangan, seperti keterbatasan tenaga kerja organik, perusahaan berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas dan efisiensi dalam penyerapan gabah.