0
News
    Home Berita Featured Kanker Kesehatan Sejarah Spesial

    Obat Berusia 4.000 Tahun yang Jadi Senjata Melawan Kanker - Tirto

    7 min read

     

    Obat Berusia 4.000 Tahun yang Jadi Senjata Melawan Kanker

    Ilustrasi Obat kuno. FOTO/iStockphoto

    tirto.id - Lebih dari 4.000 tahun silam, para tabib Sumeria di Mesopotamia berhasil menemukan khasiat dari kulit pohon dedalu. Dalam tablet tanah liat yang ditemukan di kota kuno Nippur, disebutkan bahwa kulit pohon dedalu merupakan salah satu bahan baku obat-obatan pada masa itu.

    Ternyata, ribuan tahun kemudian, zat yang dimanfaatkan oleh para tabib tersebut masih dijadikan bahan dasar salah satu obat paling banyak dikonsumsi di dunia.

    Zat yang dimaksud adalah salisin. Oleh tubuh manusia, salisin dapat diubah menjadi asam salisilat, yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami.

    Pada 1897, seorang kimiawan dari perusahaan farmasi Bayer bernama Felix Hoffmann berhasil menciptakan sintesis modernnya yang lebih ramah untuk lambung manusia. Dari sana, lahirlah produk obat bernama dagang Aspirin yang fungsinya kurang lebih sama dengan obat-obatan kuno Mesopotamia.

    Fungsi pertama dan utama aspirin adalah meredakan nyeri, lalu berkembang menjadi obat pencegah serangan jantung dan stroke, dan kini manfaatnya telah memasuki babak baru.

    Para ilmuwan makin yakin bahwa aspirin dapat secara efektif mencegah kanker.

    Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah uji klinis dan studi memperkuat hipotesis ini. Temuan besar pertama terjadi pada 2010 ketika Peter Rothwell, profesor neurologi klinis dari Universitas Oxford, menganalisis ulang data aspirin yang sebelumnya dikumpulkan untuk penelitian penyakit kardiovaskular. Dari situ Rothwell menemukan bahwa Aspirin terlihat mampu mengurangi tingkat kejadian serta penyebaran kanker.

    Kanker paling banyak diteliti dalam konteks itu adalah kanker kolorektal, yang menyerang usus besar dan rektum. Analisis dari lima uji klinis acak, yang diterbitkan di jurnal The Lancet, menemukan bahwa konsumsi aspirin minimal 75 mg per hari selama setidaknya lima tahun dapat mengurangi risiko kanker kolon sebesar sekitar 24 persen dan menurunkan angka kematian akibat kanker itu sebesar 35 persen dalam periode 20 tahun.

    Bukti terkuat datang dari penelitian terhadap penderita Sindrom Lynch, kelainan genetik yang membuat seseorang jauh lebih rentan terkena kanker usus besar. Tergantung jenis mutasi gennya, 10 hingga 80 persen penderita sindrom tersebut berpotensi terkena kanker usus besar.

    Ilustrasi Kanker Usus Besar

    Ilustrasi kanker usus besar. FOTO/iStockphoto

    John Burn, profesor genetika klinis dari Universitas Newcastle, memimpin uji klinis selama bertahun-tahun terhadap 861 pasien dengan kondisi tersebut. Hasilnya, pasien yang mengonsumsi aspirin 600 mg per hari selama minimal dua tahun, lalu dipantau selama 10 tahun, mengalami penurunan risiko kanker kolorektal hingga separuhnya dibandingkan kelompok yang hanya mengonsumsi plasebo.

    Bahkan, dalam uji lanjutan, diketahui bahwa dosis yang lebih rendah (75-100 mg/hari) sudah bisa memberikan perlindungan dengan kualitas setara. Berangkat dari penelitian itu, sejak 2020, para penderita Sindrom Lynch dianjurkan mulai mengonsumsi aspirin pada usia sekitar 20 tahun.

    Di Swedia, temuan-temuan serupa juga telah mengubah praktik kedokteran secara riil. Sebuah uji klinis yang melibatkan hampir 3.000 pasien kanker usus besar menemukan, kelompok yang mengonsumsi aspirin 160 mg per hari memiliki risiko kekambuhan kurang dari separuh dibanding kelompok plasebo. Sejak Januari 2026, pasien kanker usus besar di sana mulai diskrining untuk mutasi genetik tertentu, lalu ditawarkan aspirin dosis rendah jika memiliki mutasi tersebut.

    Manfaat aspirin tampaknya tidak terbatas hanya untuk kanker usus besar. Tinjauan ilmiah terbitan Annals of Oncology memperkirakan, untuk orang-orang berusia 50 hingga 65 tahun yang mengonsumsi aspirin selama 10 tahun, ada potensi pengurangan relatif sebesar 7 persen pada perempuan dan 9 persen pada laki-laki, dalam jumlah kejadian kanker, serangan jantung, atau stroke selama periode 15 tahun.

    Burn juga pernah berkata bahwa jika semua orang berusia 50-an mengonsumsi aspirin dosis rendah selama 10 tahun, angka kematian nasional dari semua penyebab bisa turun 4 persen.

    Studi besar lain dari Denmark mengikuti perkembangan medis hampir 1,9 juta orang selama rata-rata 18 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan aspirin dosis rendah jangka panjang, yakni lima tahun atau lebih, dikaitkan dengan penurunan risiko setidaknya 10 persen untuk belasan jenis kanker, di antaranya kanker kolon, rektum, kerongkongan, lambung, hati, pankreas, dan limfoma non-Hodgkin.

    Cara Kerja Aspirin Melawan Kanker

    Satu mekanisme sudah lama diketahui. Aspirin menghambat enzim bernama siklooksigenase, atau Cox-2, yang berperan dalam produksi senyawa mirip hormon bernama prostaglandin. Prostaglandin dapat mengaktifkan jalur sinyal yang mendorong pertumbuhan sel secara tidak terkendali, yang merupakan salah satu ciri khas kanker. Dengan menghambat Cox-2, aspirin ikut memotong rantai pemicu pertumbuhan sel kanker itu.

    Pada Maret 2025, tim peneliti dari Universitas Cambridge pimpinan Profesor Rahul Roychoudhuri memublikasikan penelitian di jurnal Nature yang mengungkap mekanisme berbeda. Bahwasanya aspirin membantu sistem imun tubuh dalam berburu dan membunuh sel kanker yang menyebar.

    Ketika melepaskan diri dari tumor asal, lalu mengembara ke bagian tubuh lain, sel kanker sebenarnya sangat rentan diserang oleh sistem imun, khususnya oleh sel T yang berfungsi mengenali dan membunuh sel asing. Masalahnya, ada senyawa bernama thromboxane A2, atau TXA2 (diproduksi oleh trombosit darah), yang ternyata menekan aktivitas sel T tersebut. Sel kanker pun lolos dari pengawasan imun.

    Di situlah aspirin masuk. Obat tersebut sudah lama diketahui mengurangi produksi TXA2, yang membuatnya efektif mencegah penggumpalan darah dan serangan jantung. Penelitian Cambridge tersebut menemukan bahwa, dengan menekan TXA2, aspirin dapat membebaskan sel T dari penghambatan sehingga mereka bisa kembali aktif mengejar sel kanker yang berkeliaran.

    Aspirin

    Aspirin. FOTO/iStockphoto

    Namun, tentu saja ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan.

    Aspirin bukan obat yang tidak punya efek samping. Obat tersebut dapat menyebabkan pendarahan, terutama di saluran pencernaan, dan risikonya meningkat seiring pertambahan usia.

    Berdasarkan data beberapa studi, termasuk dariJournal of Cancer Research and Clinical Oncology, konsumsi aspirin tidak terbukti mengurangi risiko kanker pada populasi umum lansia dan justru meningkatkan risiko perdarahan. Itulah alasan para ahli sepakat bahwa pengobatan dengan aspirin tidak bisa dilakukan untuk semua orang.

    "Selalu konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum mulai mengonsumsi aspirin," demikian pesan Ruth Langley, profesor onkologi dari University College London, yang kini memimpin uji klinis besar Add-Aspirin dengan 11.000 peserta dari Inggris, Irlandia, dan India.

    Uji klinis pimpinan Langley itu tengah meneliti efek aspirin pada pasien yang pernah mengidap kanker usus besar, payudara, saluran cerna, dan prostat. Hasilnya diperkirakan bakal muncul dalam waktu dekat.

    Ya, aspirin memang bukan obat ajaib yang bisa jadi solusi untuk semua. Namun, kisah aspirin dan kanker makin mempertegas betapa unik dan kompleksnya tubuh manusia.

    Apa yang berhasil pada seseorang belum tentu bekerja pada orang lain. Artinya, berbagai riset, eksperimen, observasi, dan uji klinis, mesti terus dilakukan untuk membawa obat yang sejak 4.000 tahun silam sudah mengobati manusia dari berbagai macam penyakit itu ke level yang lebih aman lagi bagi lebih banyak orang.

    tirto.id - GWS

    Kontributor: Yoga Cholandha
    Penulis: Yoga Cholandha
    Editor: Fadli Nasrudin

    Komentar
    Additional JS