Potret Nyata Pendidikan Vokasi di SMK: Siswa Kurang Pengalaman Lapangan, Minim Skill yang Didapatkan - Tribunnews
Potret Nyata Pendidikan Vokasi di SMK: Siswa Kurang Pengalaman Lapangan, Minim Skill yang Didapatkan
Ringkasan Berita:
- Siswa SMK yang diharapkan bisa siap kerja kini justru menjadi penyumbang utama angka pengangguran. Minimnya skill lulusan SMK menjadi salah satu faktornya.
- Ditambah lagi dengan adanya gap antara pengetahuan yang diberikan di sekolah dengan kebutuhan kerja di lapangan.
- Salah satu yang bisa menjadi solusi dari masalah minimnya skill lulusan SMK ini adalah dengan keaktifan siswa untuk mengikuti program pelatihan atau magang.
TRIBUNNEWS.COM - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) didirikan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja dan diharapkan menjadi solusi atas masalah pengangguran. Namun faktanya, siswa lulusan SMK kini justru jadi penyumbang utama angka pengangguran di Indonesia.
Padahal SMK termasuk dalam pendidikan vokasi tingkat menengah, yang berfokus untuk mempersiapkan siswanya agar memiliki keterampilan praktis, keahlian teknis, dan siap langsung bekerja di industri.
Data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) menunjukkan, SMK masih menjadi penyumbang utama angka pengangguran di Indonesia.
Hal ini dapat terlihat dari data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut karakteristik periode Februari 2024-Februari 2026.
Pada Februari 2026, BPS mencatat angka pengangguran di tingkat pendidikan SMK mencapai angka 7,74 persen. Tertinggi dibanding pengangguran tingkat SMA yang berada di angka 6,23 persen.
Angka pengangguran lulusan SMK itu juga masih jauh lebih tinggi dibanding pengangguran tingkat Diploma di angka 4,80 persen dan tingkat Sarjana di angka 6,13 persen.
Lantas apa sebenarnya yang menjadi penyebab tingginya angka pengangguran dari lulusan SMK ini?
Minim Skill yang Bisa Didapat Siswa SMK dari Bangku Sekolah
Jika dibedah lebih dalam, masalah tingginya angka pengangguran dari tingkat pendidikan SMK ini salah satunya disebabkan oleh ketidaksesuaian skill yang dimiliki siswa SMK dengan kebutuhan industri.
Tak hanya soal skill, kurikulum yang diajarkan di SMK juga hanya berfokus pada ilmu-ilmu dasar dan tidak bisa mengimbangi kemajuan teknologi yang digunakan industri sekarang.
Potret jalannya pendidikan vokasi di SMK ini bisa dilihat dari para siswa SMK HS Agung Bekasi yang melakukan kunjungan industri ke Rumah Belajar PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) pada Jumat (22/5/2026).
Di Rumah Belajar TBIG, Siswa Kelas 12 Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) itu banyak diajarkan tentang produk tower system atau sistem menara pemancar sinyal.
Lalu diajarkan juga tentang Fiber to the Home (FTTH), yaitu sistem jaringan internet berkecepatan tinggi menggunakan kabel serat optik atau fiber optik yang ditarik langsung sampai ke dalam rumah tinggal.
Serta diberi pengetahuan soal Internet of Things (IoT), yang berfokus pada penempatan sensor pintar yang bisa 'berbicara' satu sama lain melalui internet untuk mengumpulkan data dan melakukan aksi otomatis.
Baca juga: Menyoroti Fenomena Mismatch Skill di Pendidikan SMK, Sekolah dan Industri Harus Aktif Berkolaborasi
Para siswa mengaku, dari kunjungan industri ke TBIG ini mereka jadi tahu wujud nyata alat-alat penunjang telekomunikasi yang selama ini hanya bisa mereka pelajari dari buku saja.
Bahkan mereka juga banyak mendapatkan pengetahuan baru yang sama sekali tidak mereka dapatkan di bangku sekolah.
Seperti pengakuan dari Anisa Putri, salah satu siswi kelas 12 SMK HS Agung Bekasi ini.
"Menambah wawasan ya. Terus menurut aku, baru tahu tower-tower itu banyak banget punya macam-macamnya gitu," kata Anisa kepada Tribunnews.com, Jumat (22/5/2026).
Namun nyatanya, ilmu baru yang didapat dari kunjungan industri di TBIG justru membuat Anisa tersadar, bahwa skillnya masih kurang untuk bisa langsung bekerja di industri telekomunikasi.
Anisa juga merasa harus banyak belajar lagi jika benar-benar berkarier di industri ini.
Karena apa yang ia pelajari di bangku SMK nyatanya masih kurang dengan apa yang dibutuhkan di lapangan.
"Kayaknya kalau buat kerja disini, skill-nya belum mencukupi. Mungkin belajar hal yang lain, supaya mungkin mendalami coding," ungkap Anisa.
Baca juga: Kemensetneg Buka Program Magang 2026 bagi Siswa SMK dan Mahasiswa D3-S1, Simak Cara Daftarnya
Ada Gap Pengetahuan yang Diajarkan di Sekolah dengan Kebutuhan Kerja di Lapangan

Network Operation Center TBIG, Eko Cipto Hidayat menilai, salah satu faktor minimnya skill yang dimiliki lulusan SMK ini dikarenakan ada gap antara pengetahuan yang diberikan di sekolah dengan kebutuhan kerja di lapangan.
Eko menilai, secara teori siswa SMK biasanya sudah paham dan dibekali dengan ilmu tentang jaringan.
Namun harus disadari, terkadang prakteknya di lapangan bisa berbeda, apalagi di tengah berkembangnya teknologi seperti sekarang ini.
"Biasanya kalau dari pengalamannya sudah-sudah sih, sebetulnya mereka (siswa SMK) awalnya memang sudah dibekali teori tentang jaringan. Nah, memang kurangnya teman-teman itu aktual di lapangan, kadang berbeda sama teorinya."
"Karena kan teknologi kan cepat (berkembangnya) nih. Kayak dulu kita cuma, misalnya, HP cuma bisa telepon SMS. Sekarang sudah bisa WhatsApp, video call. Jadi, teman-teman SMK, sebetulnya mereka ada kemampuan seperti itu, cuma harus (update) teknologi," kata Eko kepada Tribunnews.com, Jumat (22/5/2026).
Secara tidak langsung, pengetahuan di sekolah yang tidak selaras dengan perkembangan teknologi ini akhirnya memunculkan gap skill yang dimiliki siswa SMK dengan kebutuhan dunia kerja.
"Iya (masih ada gap), makanya salah satu tadi, biasanya mereka berkunjung ke sini, mereka, oh ternyata teorinya di sekolah seperti ini lah. Ternyata ada yang lebih baru lagi nih, seperti itu. Mereka akhirnya paham, oh ternyata seperti ini."
"Ada juga yang baru lihat, contohnya tadi yang di rak-rak itu, dalamnya perangkatnya seperti ini. Kalau di sekolah kan mereka hanya teknologi internet baru yang awalnya, yang masih teori dasarnya. Kalau disini kan memang yang kita sudah implementasikan di perusahaan-perusahaan. Yang sudah kita jual lah istilahnya," terang Eko.
Baca juga: Siswa SMK Telkom Sidoarjo Jadi Problem Solver Digital di Founder Catalyst
Siswa SMK Harus Aktif Melatih Skill dengan Ikut Pelatihan

Eko menuturkan, salah satu yang bisa menjadi solusi dari masalah minimnya skill lulusan SMK ini adalah dengan keaktifan siswa untuk mengikuti program pelatihan atau magang.
Kini pemerintah juga telah menyediakan beragam program magang gratis yang bisa diikuti oleh siswa SMK.
Atau bisa juga mengikuti program magang dari perusahaan, seperti program magang yang disediakan oleh TBIG.
Eko pun meyakini, siswa lulusan SMK ini sebenarnya sudah memiliki kemampuan, hanya perlu dilatih lebih dalam.
"Nah kalau sekarang sih, sebenarnya dari yang saya lihat, dari pemerintah sudah banyak menyediakan magang-magang gratis ya. Kalau teman-teman misalnya ada kesempatan magang, ikut aja. Karena itu sangat membentuk atau menjadi informasi lebih, Mas, yang jarang dapet sekolahan"
"Karena kami di situ juga setiap semester menerima anak magang. Mereka itu punya kemampuan yang istilahnya, yang kami-kami ini yang udah senior itu nggak ada," ungkap Eko.
Eko menambahkan, terkadang ada perusahaan yang memberikan fasilitas training gratis yang bersertifikasi.
Sertifikasi dari perusahaan ini nantinya bisa bermanfaat bagi siswa SMK untuk terjun ke dunia kerja.
"Terus kadang perusahaan-perusahaan atau pemerintah tuh sering mengadakan training gratis. Dan itu ada sertifikasinya. Itu teman-teman anak SMK itu bisa ikut," imbuh Eko.
Baca juga: Cerita Ahmad Madani Kunjungi 400 Lebih SMK, Perkuat Kompetensi Siswa Pemasaran Digital
Komitmen TBIG untuk Ikut Meningkatkan Kualitas Pendidikan Masyarakat

Disisi lain, Chief of Business Support Officer TBIG, Lee Si An menegaskan komitmennya untuk menyelenggarakan program magang untuk siswa SMK.
Program magang TBIG ini juga telah menghasilkan siswa-siswa berkompetensi yang bisa terserap menjadi karyawan, baik di TBIG maupun di perusahaan mitra TBIG.
"Kita mencatat di program magang terdapat siswa yang bisa terserap (sebagai tenaga kerja). Mungkin belum terlalu banyak, karena program ini masih baru."
"Guru maupun kepala sekolah juga mungkin belum tahu (program TBIG ini). Tapi kami berkomitmen untuk menjaring mereka yang serius disini, untuk bisa magang dan terserap (sebagai karyawan)," kata Lee Si An dalam Acara Kick Off Journalism Fellowship on CSR, di Rumah Belajar TBIG, Karawaci, Tangerang, Banten, Jumat (22/5/2026).
Tercatat hingga kini sudah ada 122 siswa SMK yang berkesempatan untuk magang di TBIG.
Dari jumlah tersebut di antaranya ada 84 siswa terserap menjadi tenaga kerja.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)