0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita CPO Featured Keuangan Musim Mas Purbaya Yudhi Sadewa Spesial Transfer Pricing Wilmar

    Purbaya Ungkap Perusahan CPO Mainkan Transfer Pricing, Ada Wilmar hingga Musim Mas - Inilah

    3 min read

     

    Purbaya Ungkap Perusahan CPO Mainkan Transfer Pricing, Ada Wilmar hingga Musim Mas

    Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com + Gabung

    KecilBesar

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap perusahaan kelas kakap yang diduga melakukan transfer pricing terkait ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

    Berdasarkan informasi yang beredar, sejumlah perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik tersebut yakni Wilmar International Limited dan Musim Mas Group. Purbaya pun membenarkan informasi tersebut.

    “Itu udah betul. Dua-duanya betul,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

    Lebih lanjut, saat disebutkan nama-nama perusahaan seperti PT Golden Agri Nusa, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Cargill Indonesia dan First Resources Limited, Purbaya tak membenarkan perusahaan tersebut terindikasi transfer pricing.

    Namun, saat dikonfirmasi kembali apakah perusahaan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) terindikasi juga, dia membenarkan.

    “Salim Ivomas sepertinya ada,” tegasnya.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026). 

    Tak datang dengan tangan kosong, Bendahara Negara ini kedapatan memboyong dokumen berisi daftar 10 perusahaan besar yang diduga kuat melakukan praktik under invoicing atau manipulasi faktur perdagangan ekspor.

    Purbaya membeberkan, laporan yang dibawanya merupakan hasil uji petik (check sound) yang dilakukan jajarannya secara acak terhadap tiga pengapalan dari 10 perusahaan besar tersebut. Seluruh korporasi yang masuk dalam daftar hitam ini bergerak di sektor industri mentereng, yakni kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

    Dari dokumen yang dibacanya di hadapan wartawan, modus yang digunakan perusahaan-perusahaan tersebut sangat vulgar. Mereka sengaja mencantumkan nilai harga ekspor yang jauh lebih rendah ketimbang nominal asli yang dibayarkan oleh pihak pengimpor di Amerika Serikat (AS).

    "Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat. Cukup signifikan tuh ya," kata Purbaya sembari mencermati dokumen di tangannya.

    Akibat selisih angka yang timpang tersebut, potensi penerimaan negara dari sektor pajak dan devisa langsung merosot tajam. "Jadi harganya di sini berapa, itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan. Di sini kita rugi banyak," sesalnya.

    Meskipun masih merahasiakan nama-nama dari 10 korporasi kakap tersebut, Purbaya memberikan bocoran salah satu bukti kejanggalan transaksi yang berhasil diendus oleh Kementerian Keuangan.

    Pada kasus pertama, sebuah perusahaan tercatat hanya melaporkan nilai ekspor sebesar US$2,6 juta. Padahal, dokumen internal pengimpor di AS menunjukkan angka riil yang dibayarkan mencapai US$4,2 juta. Ada jurang selisih sebesar 57 persen yang disembunyikan.

    Tak berhenti di situ, Purbaya juga mengungkap temuan lain yang jauh lebih ekstrem dari perusahaan kelapa sawit berbeda.

    "Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$1,44 juta, di sana (nilai impornya) US$4 jutaan. Berubah harganya 200 persen. Kita mau deteksi kapal per kapal, jadi itu yang saya laporkan kalau ditanya," pungkas Purbaya tegas.
     

    Komentar
    Additional JS