0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Keuangan Konflik Timur Tengah Spesial

    Rupiah Jadi Mata Uang Paling Tertekan di ASEAN, Konflik Timur Tengah Picu Kepanikan Pasar - Radar Tuban

    6 min read

     

    Rupiah Jadi Mata Uang Paling Tertekan di ASEAN, Konflik Timur Tengah Picu Kepanikan Pasar


    Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran terhadap inflasi, biaya impor, hingga daya beli masyarakat Indonesia. (Google)

    RADARTUBAN – Tekanan terhadap rupiah makin terasa di tengah gejolak global yang belum menunjukkan tanda mereda. 

    Konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama eskalasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini bukan sekadar isu politik luar negeri. 

    Dampaknya mulai menghantam pasar keuangan Asia Tenggara, dan Indonesia menjadi salah satu yang paling terpukul.

    Data yang dirilis Asian Bonds Online per Sabtu (16/5) dilansir dari olenkanews menunjukkan rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di ASEAN sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd). 

    Nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 17.529 per dolar AS, melemah hingga -5,1 persen.

    Angka tersebut menempatkan rupiah di posisi paling bawah dibanding mata uang ASEAN lainnya. 

    Sementara ringgit Malaysia justru menguat +3,2 persen terhadap dolar AS, baht Thailand hanya melemah -2,9 persen dan peso Filipina -4,6 persen.

    Efek Domino Konflik Timur Tengah

    Serangan udara yang dilakukan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 disebut menjadi titik awal meningkatnya ketidakpastian global. 

    Pasar mulai bereaksi keras terhadap ancaman terganggunya pasokan energi dunia dan lonjakan harga minyak mentah.

    Kondisi itu mendorong investor global memburu dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. 

    Arus modal keluar dari negara berkembang pun sulit dibendung, termasuk dari Indonesia.

    Bahkan, beberapa waktu lalu rupiah sempat menyentuh level Rp 17.601 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.

    BI Akui Tekanan Meningkat

    Merespons situasi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengakui tekanan terhadap rupiah memang meningkat akibat konflik geopolitik yang terus memanas.

    “BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” ungkapnya dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.

    Namun pasar tampaknya belum sepenuhnya tenang. Pelaku usaha kini mulai khawatir terhadap efek lanjutan, mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan inflasi pangan dan energi, hingga potensi melambatnya daya beli masyarakat.

    Alarm Serius bagi Ekonomi Nasional

    Melemahnya rupiah bukan hanya soal angka kurs di layar perdagangan. Di lapangan, tekanan itu bisa menjalar ke harga kebutuhan pokok, biaya industri, hingga cicilan utang luar negeri.

    Jika konflik global terus membesar dan harga minyak melonjak lebih tinggi, pemerintah serta Bank Indonesia menghadapi tantangan berat menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah sentimen pasar yang rapuh. (*)

    Komentar
    Additional JS