Takbiran Sound Horeg di Jepara, Getaran Bikin Rumah Warga Ambrol - Liputan6
Takbiran Sound Horeg di Jepara, Getaran Bikin Rumah Warga Ambrol
Dampak rusaknya sebuah rumah akibat getaran yang ditimbulkan sound horeg menjadi viral di media sosial.
Liputan6.com, Jakarta - Takbiran dengan menggunakan sound horeg berdaya getaran tinggi merusak sejumlah rumah di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah pada Selasa (26/5/2026) malam.
Salah satu rumah warga dilaporkan ambrol karena tak kuat menahan getaran sound horeg yang berkonvoi keliling kampung. Rumah warga di Desa Bandungrejo ini, kaca jendela depan pecah berkeping keping.
Selain itu, plafon ruang tamu dan bangunan rumah lainnya jebol. Dampak rusaknya sebuah rumah akibat getaran yang ditimbulkan sound horeg menjadi viral di media sosial.
Peristiwa ini viral di media sosial setelah video kondisi rumah yang rusak beredar luas. Dalam video tersebut terlihat kerusakan pada bagian jendela dan plafon rumah diduga akibat kuatnya getaran sound system berukuran besar yang digunakan dalam festival takbir keliling menyambut Idul Adha 2026.
Kasi Humas Polres Jepara AKP Dwi Prayitna membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurut dia, insiden terjadi saat rangkaian takbir keliling warga Desa Bandungrejo berlangsung.
“Iya benar, ada rumah warga yang rusak saat rangkaian acara takbir keliling,” ujar Dwi saat dikonfirmasi, Rabu (27/5/2026).
Dwi mengatakan kerusakan parah terjadi pada satu rumah warga. Dampaknya meliputi kaca jendela pecah dan plafon rumah rusak akibat getaran keras sound horeg.
Panitia Siap Tanggung Jawab
Meski sempat viral dan menyita perhatian publik, situasi disebut sudah kondusif. Panitia penyelenggara festival takbiran juga telah bertanggung jawab dan sepakat mengganti seluruh kerusakan rumah warga.
“Panitia sudah sepakat mengganti kerusakan rumah warga. Jadi sebenarnya tidak ada masalah karena sudah ada kesepakatan antara panitia dan warga,” katanya.
Peristiwa ini menjadi pengingat agar penggunaan sound system berdaya besar dalam kegiatan masyarakat tetap memperhatikan faktor keselamatan, terutama di kawasan permukiman. Koordinasi dan antisipasi risiko dinilai penting agar kejadian serupa tidak terulang.