Transparansi Manajerial MBG Diyakini Bakal Ciptakan Transformasi Besar Bagi Generasi Bangsa - Viva
Transparansi Manajerial MBG Diyakini Bakal Ciptakan Transformasi Besar Bagi Generasi Bangsa
Jakarta, VIVA – Di tengah kritik dan kontroversi dampak program MBG di masyarakat, para ahli dan pengamat kebijakan publik masih banyak yang menilai bahwa dampak program ini bisa optimal.
Baca Juga
Guru Besar Ilmu Politik dan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Cecep Darmawan meyakini, apabila dikelola dengan tepat, bukan tidak mungkin program MBG ini akan mendorong perkembangan generasi muda bangsa dalam 10-20 tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, jika dikelola dengan tata kelola manajerial yang transparan, tepat sasaran, dan diimbangi dengan ekosistem pendidikan yang holistik, program MBG diyakini akan membawa transformasi besar.
Baca Juga
“Apabila anak-anak kita secara fisik sehat karena asupan gizi yang baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi yang baik dari sekolah, Insyaallah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, program ini akan melahirkan generasi-generasi unggul yang good and smart,” kata Prof. Cecep dalam keterangannya, Jumat, 22 Mei 2026.
Ilustrasi dapur MBG atau SPPG
Photo :
- Dok BGN
Baca Juga
Terkait dinamika di media sosial, dimana implementasi MBG kerap mendapat sorotan tajam dan kritik, Prof. Cecep menilai hal tersebut sebagai bentuk kontrol publik yang wajar.
Namun, Dia menekankan pentingnya literasi media sosial agar masyarakat dapat membedakan antara kritik yang konstruktif dengan cercaan atau hoaks.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa implementasi di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. Yang kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur yang tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya,” ujarnya.
Di saat yang sama, Dia juga mendorong agar praktik-praktik baik (best practices) dari dapur SPPG dan sekolah yang telah berhasil menjalankan MBG dengan optimal, turut disebarluaskan untuk mengimbangi narasi negatif dan menjadi percontohan bagi wilayah lain.
Prof. Cecep juga menegaskan, publik maupun pemangku kebijakan harus bisa memisahkan antara esensi visi program MBG dengan kendala teknis di lapangan.
"Sebuah ide besar untuk memperbaiki gizi bangsa tidak boleh gugur hanya karena masalah manajerial yang belum sempurna," ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Secara blak-blakan, Prof. Cecep memberikan rekomendasi taktis bagi pemerintah, terutama jika dihadapkan pada keterbatasan anggaran di awal-awal masa implementasi. Dia menyarankan agar fokus program ini dipersempit untuk menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan terlebih dahulu.
"Jadi jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya. Kalau sekarang programnya itu kalau memang uangnya masih terbatas, kelompok-kelompok rentan saja duluan. Ya, se-Indonesia kelompok rentan aja duluan, termasuk anak-anak jalanan. Nanti jika keuangan negara makin baik, baru bertahap ke sasaran yang lebih luas agar anggaran tepat guna,” ujarnya.
![]()
BGN Sebut Program MBG Serap 1,28 Juta Pekerja
BGN juga mencatat, hingga 22 Mei 2026, terdapat 142.387 pemasok yang terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan rincian sebanyak 59.921 berasal dari UMKM.

VIVA.co.id
24 Mei 2026