0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Kesehatan Spesial Usus Buntu

    Anak Rasakan Sakit Perut di Kanan Bawah, Jangan Sepelekan! Bisa Jadi Radang Usus Buntu - Tribunnews

    7 min read

     

    Anak Rasakan Sakit Perut di Kanan Bawah, Jangan Sepelekan! Bisa Jadi Radang Usus Buntu

    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    Ringkasan Berita:
    • Jangan sepelekan sakit perut pada anak dan menganggap ini hanya karena elat makan, masuk angin, atau terlalu banyak mengonsumsi makanan tertentu.
    • Dalam beberapa kasus, sakit perut tersebut bisa menjadi tanda radang usus buntu atau appendicitis yang membutuhkan penanganan segera.
    • Salah satu tanda sakit perut karena radang usus buntu ini jika sakit perut terasa di bagian kanan bawah.


    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Keluhan sakit perut pada anak atau remaja sering dianggap sebagai masalah biasa.

    Sebagian orang tua mengira penyebabnya hanya karena telat makan, masuk angin, atau terlalu banyak mengonsumsi makanan tertentu.

    Baca juga: Sering Dikira Maag, Dokter Ungkap Tanda Sakit Perut yang Bisa Jadi Gejala Usus Buntu

    Akibatnya, tidak sedikit yang memilih menunggu keluhan mereda dengan sendirinya.

    Padahal dalam beberapa kasus, sakit perut tersebut bisa menjadi tanda radang usus buntu atau appendicitis yang membutuhkan penanganan segera.

    Jika terlambat dikenali, kondisi ini dapat berkembang menjadi lebih serius hingga menyebabkan usus buntu pecah.

    Dokter Spesialis Bedah RSUD Bung Karno dr. Agung Widhinugroho, Sp.B mengatakan radang usus buntu sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.

    Namun berdasarkan data dan pengalaman klinis, kasus ini paling sering ditemukan pada kelompok usia muda.

    Paling Banyak Terjadi pada Anak, Remaja, dan Dewasa Muda

    SAKIT PERUT - Ilustrasi yang menggambarkan seorang anak sakit perut ini, diunduh dari situs freepik pada Minggu (13/4/2025). Seorang anak laki-laki asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, harus menjalani operasi setelah perutnya dipenuhi cacing.
    SAKIT PERUT - Ilustrasi yang menggambarkan seorang anak sakit perut ini, diunduh dari situs freepik pada Minggu (13/4/2025). Seorang anak laki-laki asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, harus menjalani operasi setelah perutnya dipenuhi cacing. (Freepik)

    Banyak masyarakat menganggap radang usus buntu identik dengan orang dewasa.

    Padahal kelompok usia muda justru menjadi kelompok yang paling sering mengalami kondisi tersebut.

    "Secara teori dan statistiknya, itu lebih banyak pada usia muda. Pada anak-anak remaja dan dewasa muda, itu paling banyak terjadi," ujar dr Agung dalam Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Rabu (17/6/2026).

    Meski demikian, bukan berarti orang yang lebih tua terbebas dari risiko.

    Menurut dr Agung, pasien lanjut usia tetap bisa mengalami radang usus buntu.

    Bahkan dalam praktik sehari-hari, ia masih menemukan pasien berusia 60 hingga 70 tahun yang harus menjalani penanganan akibat kondisi tersebut.

    Karena itu, keluhan sakit perut yang mengarah ke radang usus buntu perlu diwaspadai pada semua kelompok usia.


    Kenali Gejala yang Sering Diabaikan

    Radang usus buntu umumnya menimbulkan keluhan berupa nyeri perut.

    Namun tidak semua sakit perut berarti usus buntu.

    Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah nyeri yang berpusat di bagian kanan bawah perut.

    Keluhan tersebut juga dapat disertai gejala lain seperti demam, mual, muntah, hingga diare.

    Pada anak-anak, kondisi ini sering kali sulit dikenali karena mereka belum mampu menjelaskan lokasi nyeri secara jelas.

    Akibatnya, tidak sedikit kasus yang baru diketahui setelah kondisi semakin berat.

    Karena itu orang tua perlu lebih waspada apabila anak mengeluhkan sakit perut yang terus bertambah berat, tampak lemas, sulit beraktivitas, atau tidak kunjung membaik.

    Bisa Bersifat Kronis, Bisa Juga Mendadak Parah

    Menurut dr Agung, perjalanan penyakit radang usus buntu tidak selalu sama pada setiap pasien.

    Ada yang bersifat kronis dengan keluhan hilang timbul dalam waktu lama.

    Namun ada pula yang berkembang cepat dan bersifat akut.

    Pada kondisi akut, proses peradangan dapat berlangsung dalam waktu singkat dan terus memburuk.

    Usus buntu yang awalnya hanya meradang dapat membengkak, terisi nanah, hingga akhirnya pecah.

    "Kalau dibiarkan saja dalam waktu singkat itu bisa sampai pecah, nanahan dan pecah," kata dr Agung.

    Kondisi inilah yang membuat dokter selalu mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika muncul gejala yang mencurigakan.

    Saat Usus Buntu Pecah, Operasi Menjadi Lebih Rumit

    Penanganan radang usus buntu yang masih berada pada tahap awal umumnya lebih sederhana.

    Namun situasinya berbeda ketika usus buntu sudah pecah.

    Dokter harus membersihkan nanah yang menyebar di rongga perut sekaligus menangani perlengketan jaringan yang mungkin telah terbentuk akibat proses peradangan.

    Akibatnya, tindakan operasi menjadi lebih kompleks dibandingkan kasus yang ditangani sejak awal.

    Luka operasi biasanya lebih besar dan proses pemulihan pun berlangsung lebih lama.

    Pasien juga berisiko mengalami infeksi luka yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan tindakan sebelum terjadi pecah usus buntu.

    Jangan Menunggu Sampai Kondisi Memburuk

    Menurut dr Agung, semakin cepat radang usus buntu dikenali, semakin baik pula peluang kesembuhannya.

    Penanganan pada tahap awal dapat membantu mencegah komplikasi sekaligus mempercepat proses pemulihan pasien.

    Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mengabaikan sakit perut yang tidak kunjung membaik, terutama jika nyeri terpusat di bagian kanan bawah perut dan disertai demam, muntah, atau diare.

    Radang usus buntu bukan hanya penyakit orang dewasa.

    Anak-anak, remaja, hingga lansia juga bisa mengalaminya.

    Mengenali gejalanya sejak dini dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat dan mengancam kesehatan.

    Komentar
    Additional JS