Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Kesehatan Kuliner Nasi Spesial

    Bukan Makan Nasi, Bila Terasa Lapar Ternyata ini Menu Sarapan Terbaik di Pagi Hari - Viva

    5 min read

     


    Ilustrasi nasi.

    VIVA – Sarapan di pagi hari sangat penting untuk mengisi kembali energi tubuh sebelum kita memulai aktivitas harian. 

    Baca Juga

    Namun, banyak orang keliru menganggap bahwa sarapan terbaik harus berupa makanan berat, seperti sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya. 

    Anggapan ini diperkuat oleh kebiasaan masyarakat Indonesia yang merasa belum kenyang jika belum mengonsumsi nasi.

    Baca Juga

    Menariknya, sarapan dengan menu seberat itu justru tidak disarankan karena berpotensi memicu gangguan pada tubuh. 

    Lantas, kapankah waktu sarapan yang ideal dan menu apa saja yang sebenarnya dianjurkan untuk dikonsumsi? 

    Baca Juga

    Dalam salah satu ceramahnya, dr. Zaidul Akbar mengupas tuntas efek negatif yang terjadi pada tubuh akibat kebiasaan sarapan berat dengan nasi.

    Dilansir dari tayangan YouTube dr Zaidul Akbar Official, dokter sekaligus pendakwah ini menegaskan bahwa pagi hari bukanlah waktu yang tepat untuk mengonsumsi makanan yang miskin akan kandungan enzim.

    "Pagi-pagi itu tidak cocok makan makanan yang minus miskin enzim," ungkap dr Zaidul Akbar pada tayangan YouTube miliknya.

    Beliau bahkan menyarankan, jika memang tidak ada hidangan yang sesuai, lebih baik melewatkan sarapan dan cukup mengonsumsinya dengan minum air putih saja.

    "Lebih baik anda pagi-pagi tidak usah sarapan, minum saja cukup," ujarnya.

    Ilustrasi nasi.

    Photo :

    • U-Report

    Anjuran ini bukan tanpa dasar, sebab faktanya, hormon rasa lapar pada tubuh manusia justru berada di titik paling rendah saat pagi hari.

    "Karena memang secara sains pagi itu hormon lapar kita lagi rendah-rendahnya," tutur dr Zaidul Akbar.

    "Jadi antara jam 6 sampai jam 7 bukan waktu yang tepat untuk banyak makan sehingga fasenya pagi itu fase pengeluaran mangkanya kita buang hajat kalau pagi-pagi kan," lanjutnya.

    Menurut beliau, memasukkan makanan ke dalam tubuh saat hormon lapar sedang berada di posisi terendah merupakan tindakan yang kurang tepat.

    "Makan di saat hormon makan lagi rendah bukan waktu yang tepat untuk makan," tegas dr Zaidul Akbar.

    "Kapan makannya, siang sebelum siang," terusnya.

    Sebagai gambaran, dr. Zaidul Akbar mencontohkan salah satu dampak negatif yang langsung terasa apabila kita nekat sarapan dengan porsi nasi yang melimpah.

    "Habis makan itu biasanya ngantuk enggak," kata dr Zaidul Akbar.

    "Di samping itu anda coba makan rujak, habis makan itu ngantuk enggak, rujaknya nggak pedes ya, rujak biasa aja," imbuhnya.

    Sebaliknya, hormon lapar justru baru akan mencapai puncaknya atau berada di posisi tertinggi sekitar pukul 12 siang hingga menjelang sore hari.

    "Biasanya menu mediterania itu sehari sekali dan siang, karena saat itu hormon lapar kita lagi tinggi-tingginya," pungkasnya.

    Oleh karena itu, dr. Zaidul Akbar sangat menyarankan agar kita menghindari konsumsi nasi porsi besar di pagi hari, dan beralih memilih buah-buahan segar sebagai alternatifnya. 

    (kmr)

    Ilustrasi garam

    Sering Dipandang Sebelah Mata, Ternyata Garam Punya Banyak Manfaat Bagi Kesehatan

    Garam hampir tak pernah absen dari dapur rumah maupun restoran, karena menjadi bumbu utama dalam setiap masakan. Ternyata, garam punya banyak manfaat kesehatan

    img_title

    VIVA.co.id

    25 Juni 2026

    Komentar
    Additional JS