'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati' - detik
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Semburan lumpur panas Lapindo membuat Kecamatan Porong di Sidoarjo yang dulunya ramai sekarang menjadi sepi seperti kota mati.
Bencana yang terjadi sejak 2006 itu tak hanya menenggelamkan pemukiman warga, tapi juga melumpuhkan denyut perekonomian masyarakat hingga membuat kawasan Porong lama kini bak "kota mati".
Sepinya aktivitas perdagangan terlihat jelas di sepanjang Jalan Raya Porong lama yang dulunya dikenal sebagai pusat keramaian dan pusat belanja masyarakat Sidoarjo bagian selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dahulu kawasan itu dipenuhi pertokoan, pedagang kaki lima hingga rumah makan yang buka hampir 24 jam, kini banyak toko tutup dan bangunan terlihat kosong.
Terhentinya aktivitas ekonomi dipicu lumpuhnya akses jalan utama akibat luapan lumpur yang merendam belasan desa di Kecamatan Porong, Jabon dan Tanggulangin. Ribuan warga terpaksa pindah, sementara pusat keramaian ikut hilang.
Salah satu pedagang yang masih bertahan adalah Toko Cendrawasih milik Rio. Toko sepatu dan sandal itu menjadi satu dari sedikit toko yang masih buka di kawasan Jalan Raya Porong lama.
"Dulu di sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam melayani pembeli. Sekarang banyak yang tutup karena sudah tidak ada pembeli," kata Rio, Senin (25/5).
Menurutnya, setelah semburan lumpur Lapindo muncul, jumlah pengunjung ke pusat perdagangan Porong menurun drastis. Banyak pedagang akhirnya memilih gulung tikar karena terus merugi.
"Kalau malam dulu ramai sekali, sekarang sepi seperti kota mati. Di sebelah utara sini tinggal toko saya yang masih bertahan," ujarnya.
Rio mengatakan ke arah selatan memang masih ada beberapa toko material bangunan dan toko pakaian yang buka. Namun aktivitas perdagangan jauh berbeda dibanding sebelum bencana lumpur terjadi.
Hal senada disampaikan Iswan Christanto pemilik toko bahan bangunan di kawasan Porong lama. Ia mengaku omzet tokonya terus menurun sejak kawasan tersebut kehilangan pusat keramaian.
"Pembeli sekarang jauh berkurang. Banyak pengusaha yang dulu buka toko di sini akhirnya tutup karena tidak kuat menanggung kerugian," kata Iswan
Menurutnya, dampak lumpur Lapindo tidak hanya mematikan aktivitas perdagangan, tetapi juga membuat perekonomian masyarakat sekitar ikut terpuruk. Semburan lumpur juga menyebabkan hilangnya ribuan rumah warga, rusaknya lahan pertanian, hingga anjloknya harga tanah dan properti di kawasan terdampak.
"Dulu Porong jadi pusat ekonomi masyarakat. Sekarang banyak usaha tutup gara-gara dampak lumpur," tambahnya.
Pemandu Wisata Menjerit, Penghasilan Turun Drastis
Sepinya kawasan Porong juga turut dirasakan oleh salah satu pemandu wisata bernama Ula Muanisa (42). Dia mengaku kondisi wisata Lumpur Lapindo saat ini jauh berbeda dibanding masa awal semburan.
Menurut dia, jumlah wisatawan semakin sedikit dan pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari wisata lumpur ikut menurun tajam.
"Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Sekarang rata-rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali," kata Ula.
Ula mengatakan kunjungan wisatawan saat ini tidak menentu. Dalam satu minggu terkadang hanya satu kali mendapat tamu untuk dipandu berkeliling lokasi semburan lumpur.
"Bahkan sekarang banyak pengunjung turun sendiri secara gratis, jadi kami tidak dapat penghasilan," ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ula mengaku terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar lokasi wisata lumpur.
"Kadang harus cari tambahan jadi tukang ojek supaya kebutuhan rumah tangga tetap jalan," tambahnya.
Hal senada disampaikan oleh Mustofa, sesama pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo. Ia menyebut penurunan penghasilan mulai terasa sejak pandemi COVID-19 dan hingga kini belum kembali normal.
"Memang benar penghasilan teman-teman pemandu wisata dan tukang ojek turun drastis. Tidak seperti masa awal lumpur dulu yang sangat ramai," kata Mustofa.
Menurutnya, pada hari biasa pendapatan warga hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari. Bahkan tidak jarang mereka pulang tanpa membawa uang sama sekali.
"Hari biasa sering tidak dapat apa-apa. Kalau Sabtu atau hari libur kadang agak ramai, tapi tetap tidak menentu," jelasnya.
Mustofa mengatakan meski sesekali ada rombongan tamu dari Surabaya, belum tentu seluruh pengunjung menggunakan jasa pemandu wisata atau ojek warga sekitar.
"Kalau ada rombongan memang pengunjung bertambah, tapi belum tentu mereka mau naik ojek atau pakai jasa pemandu," ujarnya.
Berharap Pemda Promosikan Wisata Lumpur Lapindo
Sementara itu, Sastro, warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1, berharap pemerintah daerah ikut membantu mempromosikan wisata Lumpur Lapindo agar ekonomi warga sekitar kembali bergerak.
"Dulu banyak warga korban lumpur yang tidak punya pekerjaan lalu beralih jadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Tapi sekarang penghasilannya sudah sulit diandalkan," kata Sastro.
Ia berharap wisata Lumpur Lapindo bisa kembali dikenal luas sehingga jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan warga kembali membaik.
"Kami berharap pemerintah daerah ikut mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo. Supaya wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali," tandasnya.
---------
Artikel ini telah naik di detikJatim, bisa dibaca selengkapnya di sini dan di sini.
Simak Video "Video DPR Curiga Masalah Lumpur Lapindo Tak Beres-beres tapi Anggaran Gede"
(wsw/wsw)