Keluarga Sebut dr Icha Depresi Berat Setelah Diduga Diintimidasi, Trauma Bertemu Anggota DPRD - Kompas
KUPANG, KOMPAS.com – Paman almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, Fabianus Banase, mengungkapkan bahwa keponakannya mengalami depresi berat setelah peristiwa yang diduga berupa intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Fabianus, perubahan kondisi psikologis dr. Icha terlihat sangat signifikan.
Sosok yang sebelumnya dikenal ceria itu berubah menjadi pendiam dan menutup diri setelah kejadian tersebut.
“Dia mengalami depresi berat. Setelah kejadian itu, dia hanya berkomunikasi lewat WhatsApp dengan saya dan pamannya yang lain, Victor Manbait. Selebihnya dia lebih banyak diam,” ujar Fabianus, kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).
Pengamat Prediksi Argentina Juara Piala Dunia 2026 dan Messi Pemain Terbaik
Dihantui rasa takut
Dalam percakapan dengan dirinya, Fabianus mengatakan dr. Icha mengaku mengalami tekanan psikologis yang mendalam dan masih dihantui rasa takut apabila harus kembali ke Kefamenanu.
“Dia bilang stres. Dia juga mengatakan kalau pulang ke Kefa (Kefamenanu) dan bertemu tiga anggota DPRD itu, dia trauma,” katanya.
Fabianus mengungkapkan, dr. Icha bahkan sempat menyampaikan kalimat yang membuat keluarga sangat terpukul.
"Biar saya mati saja daripada mengorbankan tenaga kesehatan yang lain,’ begitu yang dia sampaikan kepada saya. Saya langsung menasihati dia, saya bilang, ‘Buat apa berpikir seperti itu? Sekolah dokter itu mahal',”tuturnya.
Baca juga: Nekat Terjun ke Pintu Air, Remaja 14 Tahun di Semarang Tewas Tenggelam

Lihat Foto
Menurut Fabianus, dr. Icha kemudian menyampaikan harapannya agar kejadian serupa tidak kembali dialami tenaga kesehatan lain.
“Dia bilang, ‘Biar Icha saja yang pergi supaya jangan ada Icha-Icha yang lain’. Kalimat itu dia sampaikan saat kami berbicara melalui telepon,” katanya.
Fabianus juga menyinggung proses pengaduan yang sebelumnya disampaikan keluarga kepada Badan Kehormatan DPRD TTU.
Baca juga: Gaji dan Tunjangan ASN Pati Telan Rp 1,3 Triliun, Nyaris Setengah APBD 2026
Menurut dia, dua anggota DPRD yang dilaporkan yakni Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani membantah telah melakukan intimidasi.
“Waktu kami melapor ke Badan Kehormatan DPRD, dua anggota DPRD itu menyangkal. Mereka mengaku tidak pernah mengintimidasi, hanya berbicara dengan nada tinggi. Saya juga bingung, bedanya nada tinggi dengan membentak itu seperti apa?” ujarnya.
Ia menegaskan, sebelum peristiwa tersebut terjadi, dr. Icha dikenal sebagai pribadi yang ceria dan mudah bergaul. Namun setelah insiden itu, keponakannya menjadi jauh lebih tertutup.
Baca juga: 4 Pejabat PDAM Barito Kuala Kalsel Ditangkap, Diduga Korupsi Rp 15,26 Miliar dari Uang Pelanggan
Ditemukan meninggal di rumah orangtuanya
Diberitakan sebelumnya, dokter Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orangtuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 17.55 Wita.
Fabianus mengatakan, keponakannya ditemukan dalam kondisi tergantung di lantai dua rumah.
Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kata Fabianus, dokter tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.
Baca juga: Dituduh Bandar Narkoba dan Ditangkap BNN, Anggota DPRD Brebes Beri Klarifikasi
Atas kesepakatan keluarga, otopsi tidak dilakukan dan jenazah kemudian dibawa kembali ke rumah duka untuk disemayamkan.
Fabianus menjelaskan, sebelum meninggal dunia dr. Icha sempat menjalani perawatan selama enam hari sejak 15 Juni 2026 akibat tekanan psikologis yang dialaminya.
Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dan melanjutkan pengobatan secara rawat jalan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai penyebab kematian dr. Icha serta menghormati privasi keluarga yang tengah berduka.
Baca juga: Data Terbaru Gempa Sigi: 9.633 Warga Terdampak, 3 Orang Tewas, dan 3.439 Rumah Rusak
Dugaan intimidasi saat bertugas

Lihat Foto
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha menjadi sorotan publik setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu ketika menangani seorang pasien anak korban gigitan ular.
Paman almarhumah, Victor Manbait, mengatakan seluruh tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis yang khusus menangani pasien yang digigit ular.
Namun, situasi disebut memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor menuturkan, dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha saat meminta penjelasan.
Menurut Victor, peristiwa tersebut meninggalkan trauma dan tekanan psikologis yang mendalam bagi almarhumah.
“Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” kata Victor.
Baca juga: Suami Bupati Gowa Buka-bukaan di Sidang Pansus, Mengaku Yakin Ada Dugaan Perselingkuhan
Dua anggota DPRD membantah
Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.
Therensius mengatakan dirinya memang sempat berbicara dengan nada tinggi karena situasi saat itu berlangsung dalam kondisi panik. Namun, ia menegaskan hal tersebut bukan merupakan bentuk intimidasi.
Sementara itu, Norbertus Tubani menyatakan dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien.
Menurut Norbertus, setelah memperoleh penjelasan dari dokter, keduanya menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan tenaga kesehatan yang sedang bertugas.
Kasus meninggalnya dr. Icha menjadi perhatian luas di Nusa Tenggara Timur karena dinilai berkaitan dengan perlindungan tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya serta pentingnya komunikasi yang baik antara tenaga medis dan keluarga pasien dalam situasi darurat.
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya dr. Icha masih dalam penyelidikan Polres Timor Tengah Utara dan Polres Kupang.
Baca juga: Sidang Pansus DPRD Gowa Ungkap Dugaan Pesta Miras di Rujab Bupati hingga Tinggal Sekamar dengan BK
Kontak bantuan
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.
Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
Baca juga: Produsen Minyakita Buka Suara soal Bau Solar, 300 Ton Minyak Bantuan Ditarik
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang