Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon! - suara
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
Baca 10 detik
- Dokter Ratna Dewi Puspita Sari menyatakan fenomena pubertas dini pada anak kini terjadi lebih cepat dibandingkan usia normal.
- Pemicu utama pubertas prekoks meliputi faktor genetik dan paparan hormon estrogen tinggi sejak anak masih dalam kandungan ibu.
- Orang tua perlu melakukan pemeriksaan hormon untuk memantau tumbuh kembang serta mencegah gangguan kesehatan seperti penyakit autoimun anak.
Suara.com - Kasus pubertas dini atau pubertas prekoks pada anak semakin banyak ditemukan di masyarakat. Kondisi ini ternyata dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya paparan hormon estrogen yang tinggi sejak masih dalam kandungan.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) dari Prodia Women's Health Centre Jakarta, dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp.OG, mengatakan fenomena ini kerap membuat orang tua bingung karena tubuh anak terlihat seperti orang dewasa, padahal usianya masih tergolong anak-anak.
"Memang sekarang makin banyak pubertas prekoks terjadi. Jadi jangan bingung kalau anak sekarang masih kecil, tetapi perilakunya terlihat lebih dewasa," ujar dr. Ratna saat Grand Opening Prodia Women's Health Centre dan Premium Service Prodia Health Care Kramat, Sabtu (20/6/2026).
Pubertas prekoks atau pubertas dini merupakan perubahan fisik anak menuju kedewasaan yang terjadi jauh lebih awal dibanding usia normal. Dalam istilah awam, kondisi ini sering disebut puber sebelum waktunya.
Menurut dr. Ratna, tren pubertas dini terlihat dari semakin mudanya usia anak perempuan mengalami menstruasi pertama. Jika sebelumnya menstruasi umumnya terjadi pada usia 11 hingga 12 tahun, kini banyak ditemukan pada usia 8 hingga 9 tahun.

"Mungkin kalau dulu kita menstruasi pada usia 12 tahun atau 13 tahun. Namun sekarang ada anak usia 7 tahun atau 8 tahun yang sudah menstruasi. Begitu juga pada anak laki-laki. Jadi memang pubertasnya jauh lebih cepat," ungkapnya.
Dokter yang kerap menangani masalah hormonal tersebut menjelaskan bahwa penyebab pubertas dini tidak semata-mata berasal dari pola makan. Faktor genetik juga berperan, termasuk kecenderungan kadar hormon yang lebih tinggi sejak anak masih berada di dalam kandungan.
"Jadi saat ibu mengandung, produksi hormon tertentu sudah mulai memengaruhi kondisi calon anak yang ada di dalam kandungan," jelas dr. Ratna.
Ia menambahkan, pada sebagian orang yang menjalani pemeriksaan hormon, sering ditemukan kadar hormon dasar atau basic hormonal level yang menunjukkan estrogen lebih tinggi.
Baca Juga: 5 Moisturizer Anak untuk Mencerahkan Kulit Wajah yang Kusam dan Sensitif
Karena itu, pemeriksaan hormon sebelum program kehamilan maupun saat memantau tumbuh kembang anak dinilai penting untuk menentukan intervensi nutrisi yang sesuai.
"Otomatis saat memberikan nutrisi kepada anak, kita harus tahu juga sebenarnya level hormon anak berada di mana. Jangan sampai makanan yang diberikan justru mengubah komposisi hormon di dalam tubuh," paparnya.

Melalui fakta tersebut, dr. Ratna juga mengingatkan bahwa tubuh anak yang bongsor atau lebih besar dibanding teman sebayanya tidak selalu menjadi indikator kesehatan yang baik.
Orang tua perlu mewaspadai kemungkinan gangguan hormonal yang dapat memengaruhi aktivitas belajar, memicu gangguan menstruasi, hingga menyebabkan perubahan emosi yang tidak stabil.
Selain itu, ia menyoroti semakin banyaknya kasus penyakit autoimun yang ditemukan di masyarakat. Menurutnya, sebagian kasus autoimun berkaitan dengan gangguan regulasi hormon dalam tubuh.
"Makanya sekarang makin banyak ditemukan penyakit autoimun. Banyak yang baru mengetahuinya setelah menjalani pemeriksaan. Di Prodia sendiri sudah tersedia paket pemeriksaan untuk mendeteksi autoimun," pungkas dr. Ratna.