0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Bediding Berita Featured Fenomena Fenomena Alam Kota Batu Kue Putu Kuliner Spesial

    Saat Bediding Menyergap Kota Batu, Kue Putu Legendaris jadi Buruan Warga - Times Indonesia

    3 min read

     

    Saat Bediding Menyergap Kota Batu, Kue Putu Legendaris jadi Buruan Warga

    A-AA+

    Batu – Udara dingin yang menyelimuti Kota Batu selama musim bediding menghadirkan suasana yang berbeda bagi masyarakat. Di tengah hawa pegunungan yang menusuk hingga malam hari, kehadiran kue putu hangat menjadi salah satu jajanan tradisional yang paling dicari untuk menemani waktu bersantai.

    Aroma harum pandan yang berpadu dengan manisnya gula merah cair di dalam kue putu mampu menggugah selera siapa saja. Tak heran jika jajanan tradisional ini masih bertahan dan tetap diminati meski berbagai makanan modern terus bermunculan.

    Kue putu menjadi salah satu kuliner legendaris yang hingga kini masih mudah ditemui di sejumlah sudut Kota Batu. Biasanya, pedagang menjajakan kue putu pada sore hingga malam hari, saat suhu udara mulai turun dan masyarakat mencari makanan hangat.

    Terbuat dari tepung beras yang diisi gula merah, kemudian dikukus menggunakan cetakan bambu kecil, kue putu memiliki tekstur lembut dengan sensasi manis yang khas. Sajian ini semakin nikmat berkat taburan kelapa parut yang memberikan rasa gurih alami.

    Bagi warga Kota Batu, kue putu bukan sekadar jajanan. Kuliner tradisional ini menyimpan kenangan masa kecil yang sulit dilupakan. Suara khas peluit dari alat pengukus pedagang putu yang terdengar dari kejauhan sering kali menjadi penanda hadirnya camilan favorit lintas generasi tersebut.

    Di tengah gempuran aneka camilan kekinian, kue putu mampu bertahan karena menawarkan cita rasa autentik yang sulit tergantikan. Bahan-bahannya sederhana, namun menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan aroma khas yang menjadi daya tarik tersendiri.

    Selain itu, harga yang relatif terjangkau membuat jajanan ini tetap menjadi pilihan masyarakat dari berbagai kalangan. Dalam satu porsi, pembeli dapat menikmati beberapa potong kue putu hangat tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam kisaran 10-20 ribu perporsi.

    Salah satu pengunjung, Adam Sujarwo mengatakan saat suhu udara Kota Batu terus menurun akibat fenomena bediding, menikmati seporsi kue putu hangat ditemani angsle atau ronde menjadi cara sederhana yang banyak dipilih warga untuk menghangatkan tubuh. 

    "Dari generasi ke generasi, jajanan tradisional ini tetap menjadi simbol kehangatan. Bersama keluarga saya sering mencari kue putu karena sekeluarga suka," ungkapnya, Minggu (14/6/2026). 

    Salah seorang pedagang kue putu Bu Nur di Jalan Agus Salim mengaku permintaan biasanya meningkat saat musim bediding tiba. Cuaca dingin membuat masyarakat lebih tertarik mencari makanan hangat yang mampu mengusir hawa dingin.

    "Kalau musim bediding seperti sekarang biasanya pembeli lebih ramai. Banyak yang sengaja mencari putu karena enak dimakan saat masih hangat," ujarnya.

    Menurutnya, pelanggan yang datang tidak hanya berasal dari kalangan orang tua yang sudah lama mengenal jajanan tersebut. Banyak anak muda hingga wisatawan yang penasaran ingin mencicipi kuliner tradisional yang mulai jarang ditemukan di daerah lain.

    "Pelanggan saya bermacam-macam. Ada yang memang sudah langganan sejak dulu, ada juga anak-anak muda yang ingin mencoba makanan tradisional. Banyak yang bilang rasanya mengingatkan mereka pada masa kecil," katanya. (*)

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS