Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Konflik Timur Tengah Selat Hormuz Spesial

    Selat Hormuz Masih Berbahaya meski Lalu Lintas Kapal Meningkat - Beritasatu

    6 min read


    Selat Hormuz. (ISNA via AP/Amirhosein Khorgooi)

    Jakarta, Beritasatu.com – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan meningkat sejak Iran dan Amerika Serikat (AS) menyepakati kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik yang sempat menekan pasokan minyak global dan memicu inflasi.

    ADVERTISEMENT

    Namun, masa depan jalur pelayaran strategis tersebut masih diselimuti ketidakpastian terkait pengelolaan, keamanan, hingga isu rencana pungutan biaya bagi kapal yang melintas.

    Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia kembali menjadi sorotan seusai ketegangan antara Iran dan AS kembali mencuat pada akhir pekan lalu. Iran sempat menyatakan menutup kembali selat tersebut dengan alasan adanya serangan terbaru Israel di Lebanon. Namun, pernyataan itu langsung dibantah oleh Amerika Serikat.

    ADVERTISEMENT

    Dikutip dari AP, berdasarkan data pelacakan maritim, puluhan kapal tetap melintas pada Sabtu (20/6/2026) dan Minggu (21/6/2026), meski jumlahnya masih jauh di bawah rata-rata normal sebelum konflik terjadi.

    Kesepakatan sementara antara kedua negara memberi ruang bagi Iran untuk mengelola selat selama masa transisi 60 hari sambil melakukan pembahasan dengan Oman dan enam negara Teluk lainnya untuk menentukan mekanisme pengelolaan di masa depan. Dalam periode tersebut, Iran juga sepakat tidak mengenakan biaya lintas kapal.

    Namun, isu pungutan tetap menjadi sumber ketegangan baru. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut kemungkinan penerapan biaya oleh pihak AS apabila kesepakatan akhir dengan Iran tidak tercapai, dengan alasan biaya keamanan dan perlindungan jalur pelayaran.

    Sebelumnya, Iran telah membentuk otoritas khusus untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz dan meminta kapal yang melintas untuk mendaftar pada lembaga tersebut. Iran juga disebut mempertimbangkan skema pembayaran bagi kapal yang melintas, yang memicu kritik dari berbagai pihak industri pelayaran.

    Tidak Ada Negara yang Menguasai Selat Hormuz

    Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan internasional yang berada di antara Iran dan Oman. Tidak ada satu negara pun yang memiliki kedaulatan penuh atas selat tersebut.

    Dalam kesepakatan sementara terbaru, Iran diberi peran mengelola selat selama masa transisi, sembari membahas pengaturan jangka panjang dengan negara-negara kawasan. Iran juga berjanji tidak akan mengenakan pungutan selama 60 hari, meski belum ada kepastian seusai periode tersebut berakhir.

    Para ahli hukum dan asosiasi pelayaran menilai skema pungutan di jalur ini berpotensi melanggar prinsip kebebasan navigasi internasional yang selama ini menjadi dasar perdagangan laut dunia.

    Data perusahaan analitik Kpler mencatat sebanyak 71 kapal melintasi Selat Hormuz antara Jumat hingga Minggu pada pekan lalu, dengan puncak 35 kapal pada Sabtu. Jumlah ini masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik, ketika sekitar 100 hingga 130 kapal melintas setiap hari.

    Dalam kerangka kesepakatan sementara, Iran juga diwajibkan melakukan pembersihan ranjau serta menghapus hambatan teknis dan militer di jalur pelayaran dalam 30 hari. Namun, jalur utama di tengah selat dilaporkan masih berbahaya dan belum sepenuhnya terbuka.

    Sebagian kapal kini memilih rute alternatif melalui jalur utara di wilayah Iran dan jalur selatan di wilayah Oman. Namun, tingkat kehati-hatian masih tinggi, termasuk penggunaan sistem pelacakan yang dimatikan oleh sebagian kapal untuk menghindari risiko.

    Ketegangan Soal Biaya Lintas Kapal

    Isu pungutan di Selat Hormuz telah menjadi sumber perdebatan sejak konflik meningkat. Iran sebelumnya mengancam akan memeriksa dan mengatur kapal yang melintas dalam skema berbayar.

    Pada sisi lain, Amerika Serikat juga sempat menjatuhkan sanksi terhadap lembaga pengelola Selat Hormuz yang dibentuk Iran. Namun, AS juga membuka kemungkinan menerapkan biaya sendiri untuk kapal yang melintas apabila kesepakatan gagal tercapai.

    Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dalam perundingan AS-Iran di Swiss, Minggu 21 Juni 2026. - (AP Photo/Nathan Howard)
    Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dalam perundingan AS-Iran di Swiss, Minggu 21 Juni 2026. - (AP Photo/Nathan Howard)

    Hingga saat ini, belum ada kejelasan mekanisme pengenaan biaya dari kedua pihak, sementara pelaku industri pelayaran menilai situasi ini menambah ketidakpastian global.

    Ahli hukum maritim menegaskan, penerapan biaya secara sepihak di jalur perairan internasional seperti Selat Hormuz dapat bertentangan dengan hukum laut internasional, khususnya prinsip kebebasan transit.

    Menurut para pakar, biaya hanya dapat dikenakan untuk layanan khusus di pelabuhan atau bantuan navigasi tertentu, bukan untuk sekadar melintas di jalur alami yang menjadi hak lintas internasional.

    Meski lalu lintas kapal mulai meningkat, para analis menilai situasi di Selat Hormuz masih rentan berubah sewaktu-waktu. Ketidakjelasan kesepakatan akhir antara Iran dan Amerika Serikat membuat pelaku industri pelayaran tetap berhati-hati.

    Update Harga Minyak  

    Harga minyak dunia kembali melemah tipis pada perdagangan Selasa (23/6/2026), melanjutkan tekanan dari sesi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah fokus investor terhadap perkembangan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, setelah adanya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

    Mengutip Reuters, harga minyak Brent tercatat turun 20 sen atau 0,3% menjadi US$ 77,70 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah 12 sen atau 0,2% ke level US$73,74 per barel pada Selasa pukul 10.23 WIB.

    Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak sempat jatuh lebih dari 3% seusai Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Iran setelah dimulainya pembicaraan damai awal. Sentimen pasar juga dipengaruhi laporan meredanya konflik di Lebanon di bawah kesepakatan yang lebih luas di kawasan tersebut.

    Menurut analis ING, pasar masih dibayangi oleh meningkatnya aliran minyak melalui Selat Hormuz.

    “Peningkatan bertahap arus minyak melalui Selat Hormuz terus menekan pasar,” tulis analis ING dalam catatannya.

    Data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal tanker minyak yang membawa hampir 2 juta barel melintasi Selat Hormuz pada Senin (22/6/2026). Hal ini menjadi indikasi aktivitas pelayaran mulai pulih seusai sebelumnya sempat menurun akibat kekhawatiran gangguan keamanan di jalur tersebut.

    Ilustrasi minyak mentah - (Odessa American via AP/Eli Hartman)
    Ilustrasi minyak mentah - (Odessa American via AP/Eli Hartman)

    Kepala riset Sparta Commodities, Neil Crosby, menyebut peningkatan jumlah transit kapal dalam beberapa hari terakhir menjadi indikator penting bagi pasar.

    “Transit dalam beberapa hari terakhir tampaknya meningkat tajam. Pasar akan melihat ini sebagai indikator pergerakan minyak serta kemajuan diplomatik,” ujarnya.

    “Situasi ini membuat pasar berada dalam kondisi campuran antara sentimen negatif dan optimisme sampai ada perubahan yang lebih jelas,” tambahnya.

    Kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan masih ada keraguan kuat di pasar terkait hubungan Iran dan Iran.

    “Masih ada tingkat skeptisisme yang cukup tinggi di pasar, yang berakar pada ketidakpercayaan mendalam antara AS dan Iran. Kondisi ini menunjukkan kembalinya harga minyak ke level sebelum konflik kemungkinan akan berlangsung bertahap, bukan segera,” kata Waterer.

    Dengan situasi yang masih berfluktuasi, pasar minyak global kini berada dalam fase sensitif, menunggu kepastian arah diplomasi serta stabilitas arus pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

    Komentar
    Additional JS