Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Pendidikan Pendidikan Tinggi Spesial

    Siswi Garut Gagal Kuliah, Data Pendidikan Diduga Dimanipulasi hingga Hilang dari Sistem - Kompas

    5 min read

     

    GARUT, KOMPAS.com - Seorang siswi asal Kabupaten Garut, Jawa Barat mengaku gagal melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah data pribadinya diduga dimanipulasi oleh oknum lembaga pendidikan.

    Dugaan kasus tersebut mencuat setelah keluarga korban mengadukannya ke Lembaga Kajian Elfatiih Garut.

    Laporan itu kini telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut untuk dilakukan penelusuran lebih lanjut.

    Siswi itu berinisial AA warga Kecamatan Mekarmukti. Ia disebut mengalami masalah saat hendak mendaftar kuliah melalui jalur beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) pada 2023.

    MK Cecar 2 Mahasiswa UNESA gegara Tugas Kuliah Diperiksa di Sidang Mahkamah

    Baca juga: Waspada Modus Baru Pencurian Data di Batam, Jebakan Aplikasi Palsu IKD Disdukcapil

    Saat proses pendaftaran dilakukan, data dirinya tidak ditemukan dan tidak sinkron dengan sistem pendidikan nasional.

    "Kami menduga telah terjadi tindakan manipulasi data siswa serta pemalsuan dokumen ijazah yang berdampak langsung terhadap masa depan korban," kata kuasa hukum keluarga korban, Syam Yousef kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

    Ia menuturkan, keluarga awalnya tidak mengetahui penyebab hilangnya data tersebut.

    Setelah dilakukan penelusuran melalui laman resmi Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), data atas nama korban disebut tidak muncul, sedangkan data teman-teman seangkatannya masih dapat ditemukan.

    Selain hilangnya data pendidikan, keluarga korban mengaku terkejut setelah menemukan dokumen Paket C atas nama korban yang diterbitkan oleh salah satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) setempat.

    "Padahal korban tidak pernah mendaftar maupun mengikuti kegiatan belajar di PKBM karena sejak awal melanjutkan pendidikan melalui jalur formal di SMK," ungkap Yousef.

    Baca juga: Unand Jadi Incaran Mahasiswa Asing, 1.590 Daftar Kuliah di Padang

    Keluarga kemudian berupaya meminta klarifikasi kepada sejumlah lembaga pendidikan yang diduga terkait dengan persoalan tersebut.

    Namun, hingga tahun 2026, keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan maupun penyelesaian.

    "Sampai saat ini nasib korban terkatung-katung, niat kuliah ke UIN Bandung kandas. Bukan data ijazah SMK-nya saja yang hilang, tapi seluruh data dari SD di dapodik pun hilang," katanya.

    Dalam laporan Lembaga Kajian Elfatiih Garut, pihak keluarga menduga adanya keterlibatan oknum pada sejumlah lembaga pendidikan, yakni salah satu oknum di SMP PGRI Mekarmukti, dan PKBM Sinarmukti.

    Dugaan tersebut disertai sejumlah dokumen pendukung, termasuk salinan ijazah yang diduga telah dimanipulasi dan data pembanding siswa seangkatan korban.

    "Kami kemarin sudah audiensi di Dinas Pendidikan tapi beberapa yang bersangkutan tak hadir, untuk laporan tindak pidananya, sudah kami siapkan juga," ucap Yousef.

    Garut Education Watch meminta Pemerintah Kabupaten Garut membekukan sementara Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), menyusul adanya dugaan kasus pencurian data siswa. Foto halaman Kemendikdasmen, jumlah data satuan pendidikan (Dikmas) Per Kabupaten Garut, Kamis (18/6/2026) (Kompas.com/Sidqi Al Ghifari)

    Lihat Foto

    Jawaban Pihak Sekolah dan Dugaan Data Ganda

    Kuasa Hukum SMP PGRI Mekarmukti Anton Widiatno membantah adanya pemalsuan data maupun ijazah seperti yang dituduhkan.

    Menurutnya, ijazah yang dimiliki korban merupakan dokumen asli yang diterbitkan secara resmi oleh Dinas Pendidikan.

    "Tidak ada pemalsuan apa pun. Ijazah yang dipersoalkan itu sudah pernah diperiksa di dinas. Ijazah tersebut asli dan dikeluarkan oleh dinas," ujarnya saat dihubungi Kompas.com.

    Ia menyampaikan, persoalan muncul ketika korban hendak mendaftar ke perguruan tinggi.

    Saat itu, data pendidikan yang bersangkutan disebut tidak dapat digunakan atau tidak terbaca dalam sistem.

    "Kalau memang datanya hilang dari sistem, kami juga tidak tahu penyebabnya. Itu ranah kedinasan. Yang jelas, kami menjalankan seluruh prosedur sesuai ketentuan dan tidak pernah melakukan pemalsuan," katanya.

    Menurut dia, AA memang tercatat bersekolah di SMP PGRI Mekarmukti selama tiga tahun.

    Namun, belakangan diketahui terdapat data ganda yang juga tercatat di PKBM sehingga diduga menyebabkan data di sistem menjadi soft delete.

    "Kami juga menjadi korban dalam persoalan ini. Kami juga tidak tahu siapa yang mencuri data itu," ucapnya.

    Kompas.com telah berupaya meminta konfirmasi kepada pihak PKBM Sinarmukti terkait munculnya dokumen ijazah Paket C atas nama korban yang diduga menyebabkan data pendidikan menjadi ganda dalam sistem.

    Namun, pihak PKBM Sinarmukti meminta waktu untuk memberikan tanggapan atau keterangan resmi terkait persoalan tersebut.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS