Tak Tergantung PLN, Cerita Warga Tangsijaya Nikmati Listrik Mikrohidro Rp 25.000 Per Bulan - Kompas
Tak Tergantung PLN, Cerita Warga Tangsijaya Nikmati Listrik Mikrohidro Rp 25.000 Per Bulan
BANDUNG BARAT, KOMPAS.com - Di tengah banyaknya daerah di Jawa-Bali yang mengalami pemadaman listrik, warga Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kecamatan Gumunghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat tetap hidup tenang dengan kemandirian energinya.
Jauh sebelum jaringan listrik negara menjangkau pelosok lereng Gununghalu, warga Kampung Tangsijaya telah lebih dulu membangun sistem listrik mandiri berbasis tenaga air.
Sampai hari ini, pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 30.000 watt di bawah manajemen Koperasi Produsen Rimba Lestari (Kopbari) mampu menerangi 90 rumah di kampung tersebut.
Ketua koperasi sekaligus pengelola PLTMH, Opan Sopandi mengatakan, upaya memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi sudah dilakukan sejak awal 1990-an, saat warga belum tersentuh aliran listrik PLN.
Kisah Abah Sarnuh, Tagihan Listriknya Selalu Nol Rupiah Tak Bergantung PLN
"Sekitar tahun 1990-an, kami masih pakai lampu tempel dan minyak tanah," ujar Toto saat ditemui di koperasi, Kamis (19/6/2026).
Baca juga: Melihat Kediaman Abah Sarnuh: Rumah dengan Listrik Nol Rupiah, Tak Tergantung Pasokan PLN
Keterbatasan akses listrik mendorong warga berinovasi dengan membuat kincir air sederhana dari kayu.
Dinamo yang digunakan pun dirakit secara mandiri dari magnet bekas motor.
Saat itu, kapasitas listrik yang dihasilkan dari setiap dinamo hanya berkisar 100 hingga 300 watt.
"Satu kincir biasanya untuk satu rumah, jadi hampir setiap rumah punya kincir yang dipasang di sungai," kata Opan.

Lihat Foto
Keberadaan Sungai Ciputri yang memiliki debit air stabil menjadi modal utama warga menghasilkan listrik secara mandiri.
"Di sini dulu kampung yang jauh dari mana-mana dan sulit dijangkau. Tapi ada Sungai Ciputri yang arusnya selalu deras, sehingga dimanfaatkan untuk menyalakan lampu," tutur Opan.
Sistem penerangan menggunakan kincir kayu bertahan hingga sekitar 2004.
Pada tahun itu, seorang warga dari Cihanjuang melihat potensi aliran sungai di Tangsijaya dan membantu membangun turbin mikrohidro sederhana berkapasitas 3.000 watt.
"Mesin ditempatkan di atas aliran air, konsepnya open flume," ucap Opan.
Turbin tersebut menjadi tonggak penting bagi kampung karena untuk pertama kalinya listrik dikelola secara terpusat dan mampu melayani sekitar 60 rumah saat itu.
Namun, pembangkit itu hanya bertahan selama dua tahun sebelum akhirnya berhenti beroperasi.
Ajukan bantuan
Pengalaman tersebut mendorong warga mengajukan bantuan pembangunan pembangkit yang lebih besar kepada pemerintah.
Baca juga: Jadi Pintu Masuk Investasi, Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Jambi Didukung DPRD
Permohonan itu membuahkan hasil pada akhir 2007, ketika program PLTMH dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat masuk ke Kampung Tangsijaya dengan kapasitas listrik mencapai 18.000 watt.
Sebanyak 65 kepala keluarga kemudian menikmati aliran listrik dari pembangkit tersebut.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan perangkat elektronik, kapasitas pembangkit kembali ditingkatkan.
"Tuntutan kebutuhan listrik semakin besar, belum lagi populasi masyarakat di kampung juga bertambah," ucap Opan.

Lihat Foto
Bangun bendungan kecil
Pada 2024, PLTMH di Kampung Tangsijaya dibangun ulang melalui bantuan kementerian dengan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 30.000 watt.
Sebuah bendungan kecil dibangun di lereng gunung untuk menampung air yang kemudian dialirkan melalui pipa berdiameter 70 sentimeter menuju rumah pembangkit atau power house.
"Di power house itu listrik diproduksi. Sementara airnya kita kembalikan lagi ke sungai. Hanya numpang lewat saja, tanpa merusak lingkungan," ucap Opan.
Saat ini, listrik dari PLTMH dimanfaatkan oleh 90 rumah dengan rata-rata daya sebesar 450 watt per rumah.
“Kalau tetangga desa kami yang pasang dari PLN dengan daya segitu, rata-rata mereka bayar per bulan Rp 100.000, tetapi di sini warga hanya dikenakan iuran Rp 25.000 per bulan,” kata Opan.
Baca juga: Mati Listrik di Demak, PLN: Mungkin 3 Hari Sekali
Menurut Opan, iuran tersebut bukan untuk mencari keuntungan, melainkan digunakan untuk biaya perawatan pembangkit dan membayar para penjaga turbin agar pasokan listrik tetap terjaga.
Jika dihitung-hitung, biaya ini 4 kali lipat lebih murah ketimbang menggunakan listrik seperti masyarakat pada umumnya.
Meski telah memiliki infrastruktur pembangkit yang lebih besar, warga Tangsijaya tetap berkomitmen mempertahankan prinsip energi hijau dan memilih tidak menjual listrik yang mereka hasilkan kepada pihak lain.
“Yang terpenting dari kemandirian energi ini, masyarakat jadi sadar bahwa mereka harus menjaga lingkungan, menjaga hutan, agar arus air tetap stabil dan listrik tetap menyala,” ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang